Gambar: freedomofself.files.wordpress.comDalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Masyarakat Cirebon peduli perempuna yang tergabung dalam Gerakan Perempuan Cirebon (Gerpac) akan menggelar aksi damai pada Senin (8/03/10) mendatang.

Selama ini, peringatan  hari perempuan sedunia di negeri ini masih belum begitu kencang terdengar. Hanya sebagian perempuan Indonesia atau kalangan tertentu yang mengetahui hari perempuan tersebut. Sebagian besar, perempuan juga tidak tahu sama sekali akan hari perempuan. Karena memang yang biasa diperingati adalah Hari Kartini dan Hari Ibu sebagai hari nasional. Sedangkan hari perempuan masing belum terlalu akrab diketahui masyarakat.

Padahal realitanya, ketertindasan perempuan masih di rasakan sampai saat ini. Dengan banyaknya pelecehan, perkosaan, KDRT, tidak adanya hak yang semestinya bagi buruh perempuan, penganiayaan dan pelecehan kepada TKW dll.  Akar masalah adanya ketertindasan dan kekerasan yang terjadi di karenakan tatanan social kita yang menganut paham patriarkhi. karena adanya legitimasi bahwa laki laki adalah superior maka perempuan menjadi inferior dan ini menjadikan perempuan di lemahkan. Dan hal yang paling  fatal adalah apabila secara tidak sadar atau sadar perempuan membenarkan cara berfikir patriarkhi tersebut.

Mengajak Seluruh Warga Cirebon Bergabung

Dari sejumlah fakta persoalan yang menimpa perempuan, Menurut Marzuki Wahid, Direktur Fahmina-institute Cirebon selaku inisiator aksi damai dan simpatik Peringatan Hari Perempuan Internasional, menjadi momentum sejarah besar bagi perempuan terutama di kalangan masyarakat kabupaten dan kota Cirebon. Terlebih-lebih bagi aktifis gerakan perempuan  yang selama ini bekerja secara sendiri-sendiri melalui aksi ini mampu menjalin kerjasama dan komitmen bersama untuk terus memperjuangkan perempuan. Bagi kalangan perempuan sendiri momentum ini diharapkan menjadi sebuah kekuatan dan motivasi untuk senantiasa menyuarakan berbagai problem yang dihadapi perempuan.

“Sudah saatnya akademisi, LSM, Organisasi Masyarakat dan masyarakat umum berbaur menyuarakan suara perempuan marginal, menanggalkan berbagai interest pribadi, bersama mereka membantu menemukan masalahnya dan mencari solusi. Beri penghargaan yang tinggi kepada mereka, beri kepercayaan bahwa mereka memiliki kekuatan dan mampu  memberdayakan diri mereka,” papar Marzuki Wahid tentang aksi yang dipastikan akan diikuti sejumlah lembaga seperti: LSM Fahmina-institute Cirebon, Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Pusat Studi Islam dan Gender Institute Studi Islam Fahmina (PSIG ISIF) Cirebon, seluruh BEM Fakultas IAIN Syekh Nurjati Cirebon, LSM Bannati, LSM WCC Balkis, Forum Warga Buruh Migran Indonesia (FWBMI), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), BEM UNSWAGATI Cirebon, BEM UNTAG Cirebon, BEM UMC, BEM UNTAG Cirebon, BEM UMC Cirebon, BEM STIKES Cirebo, BEM AKPER / AKBID Cirebon, BEM ISIF Cirebon, Kohati/HMI, KOPRI/ PMII, Sarinah, KAMMI, Fatayat, Aisiyah, Muslimat, Kowani, LSM Wadul, dan KPPI.

Marzuki Wahid berharap, tidak hanya sejumlah organisasi atau aktifis yang peduli pada persoalan perempuan. Dia juga mengajak agar masyarakat umum di  wilayah tiga Cirebon untuk berpartisipasi dalam aksi damai itu.

Hal senada diungkapkan Nurhidayah, Ketua Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Syekh Nurjati Cirebon selaku koordinator aksi. Nurhidayah berharap, aksi tersebut mampu memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa persoalan perempuan adalah persoalan masyarakat dan Negara. Selain itu juga untuk memberikan penyadaran kepada perempuan bahwa dengan komitmen bersama persoalan perempuan akan mudah diatasi. Selain itu, memberikan motivasi bagi perempuan bahwa ketidakadilan, diskriminasi, eksploilatasi, kekerasan dan marginalisasi terhadap perempuan tidak dapat ditolelir baik dalam hukum, adat, agama maupun Undang-undang negara.

“Kita juga berharap bisa mengorganisir aktifis gerakan perempuan Cirebon,  guna melakukan jejaring dan kerjasama dalam aksi pemberdayaan dan perlindungan terhadap perempuan. Serta merumuskan rencana tindakan strategis yang akan dilakukan untuk perlindungan dan pemberdayaan  terhadap perempuan,” jelasnya.

Nurhidayah menambahkan, aksi yang akan digelar pada pukul 08.00 pagi, itu  juga akan dimulai (started) dari depan gedung IAIN Syekh Nurjati sampai Gedung Wali Kota Cirebon. Kegiatan aksi damai dan simpatik ini, akan dilaksanakan dalam beberapa tahap. Yaitu; pawai keliling sekitar jantung kota Cirebon, aksi teatrikal, pembacaan puisi dan orasi, pentas seni, dan pembacaan petisi perempuan. (a5)