Pesan Doa dan Munajat Perempuan

0
838

Fahmina.or.id, Cirebon. Barangsiapa berdoa dengan sentuhan-sentuhan rasa  maka  akan memberikan kekuatannya tersendiri untuk kita, tentu suatu ketika akan  segera dikabulkan oleh Allah SWT, ungkap Nyai Hj. Marsiyah Amva dalam kegitatan launching buku terbarunya Doa dan Munajat Perempuan di Toko Buku Gramedia, Grage Mall Cirebon.  Jum`at. (15/5).

Dalam kesempatan itu perempuan yang akrab di panggil ibu oleh santrinya, berbagi rahasia pengalamannya ketika berjibaku menghadapi persoalan hidup yang sangat berat. Salah satunya dengan menerbitkan buku ini. “Buku ini saya terbitkan bukan untuk mencari keuntungan mendapatkan uang, tetapi semata-mata ingin berbagi, agar bisa menerangi kegelapan orang lain dan membantu kesulitan yang dialami banyak orang,” jelas Ibu Masriyah.

Ada hal yang menarik di dalam bedah buku kali ini, salah satu peserta mengungkapkan betapa buku-buku karya ibu, memberikan kekuatan tersendiri bagi dirinya yang dulu sempat menghadapi cobaan penyakit kangker stadium tiga dan berhasil bangkit. “Saya ingin sekali bertemu dengan ibu Nyai Masriyah Amva, waktu itu saya sempat mengalami penyakit kangker stadium tiga, saat membaca buku ibu saya mampu merasa terkuatkan dan mampu bertahan sampai tiga tahun ini,” ungkapnya.

Buku setebal 180 halaman ini, memiliki perbedaan dengan terbitan buku sebelumnya yang hanya memuat puisi-puisi dan narasi kehidupan beliau, akan tetapi buku ini merupakan kumpulan doa-doa keseharian Nyai pengasuh Pesantren Kebon Jambu Al-Islami Babakan Ciwaringin ini. “Yang membedakan dari buku yang lain, buku ini adalah khusus memuat doa-doa saya ketika dalam keadaan susah maupun senang, sebelumnya itu puisi dan narasi saja,” tutur peraih penghargaan S.K. Trimurti dari AJI itu.

Dari kurun waktu 2006-2015 sudah 17 buku yang diterbitkan, sekian banyak buku yang diterbitkan ini, masih ada puluhan naskah lain yang menunggu untuk diterbitkan. Lalu apa rahasia dibalik kesuksesan ibu yang tak mahir mengetik komputer namun begitu banyak buku yang ia persembahkan. Robet Hasymi, putra sulung ibu Masriyah, memaparkan sebelum Ibu aktif menulis, sekitar tahun 2006 ia pernah bermimpi seorang tokoh penulis dan pemikir besar yaitu Buya Hamka ketika meninggal dunia, akan dimakamkan di pekarangan Pesantren Jambu, ia pun menolak namun pada akhirnya pemakaman itu tetap berlangsung hanya saja pemakaman itu dilangusngkan di ruang tamu rumahnya.

“Saat mimpi itu saya ceritakan kepada ibu, lalu ibu berfikir mimpi itu menggambarkan akan ada penulis besar dalam keluarga kita,” tutur Hasymi. Pada saat itu Hasymi dan ibunya tertuju pada Muhammad Imdal yang merupakan anak kedua sekaligus adik kandung Hasymi. “Tapi dugaan itu ternyata berbeda, malah ibu yang menjadi penulis hebat itu,” sambung Hasymi.

Selain itu menurut Hasymi, dengan keterbatasan yang ada, ibu kadang menuliskan idenya sendiri di buku pribadinya lalu meminta bantuan santrinya untuk mengetik ulang ke dalam komputer. Sewaktu-waktu pula, santri diminta mengetik saat ibu menyampaikan secara langsung idenya.

“Betapa Nyimas ini, tidak hanya memberikan inspirasi bagi santrinya saja, lebih dari itu memberikan inspirasi bagi orang banyak, dari Nasional hingga Internasional,” ungkap Alif, ketika ditemui setelah memoderatori Launching Buku Doa dan Munjat Perempuan.