Pesta Harmoni Dalam Perbedaan

0
810

Fahmina.or.id, Cirebon. Sultan Kacirebonan IX Pangeran Raja Abdul Ghani Natadiningrat S.E bersama Wali Kota Cirebon Drs. Nasrudin Azis S.H, Komandan Korem 063/SGJ Kolonel Inf Sutjipto  dan ketua panitia Budiono Goh, serentak menyalakan petasan sebagai tanda di bukanya gelaran Kirab Budaya Cap Go Meh se-wilayah III Cirebon. Suara petasan di sambut meriah oleh warga yang memadati areal Kelenteng Tiao Kak Sie (Wihara Dewi Welas Asih) Kota Cirebon, Minggu (21/2).

Cap Go Meh merupakan gelaran budaya tahunan di Kota Cirebon sejak kembali dibuka untuk umum pada tahun 2002 di era pemerintahan Gus Dur hingga sekarang. Penutup perayaan tahun baru Imlek ini, pada awalnya diperuntukkan bagi kalangan Tionghoa saja, namun pada perkembangannya semua lapisan masyarakat ikut serrta dalam suka cita gelaran budaya ini. terlihat penggotong joli atau tandu rerata dari warga pribumi Cirebon, Salah satu tim pemain tambur semuanya perempuan berkerudung, mereka  begitu bersemangat memainkan beduknya mengikuti irama gerakan para pengangkat tandu.

Yang mereka tandu adalah para Kongco Maco (Dewa Dewi) yang dipercaya oleh kalangan Tionghoa sebagai pembawa berkah untuk semua masyarakat Cirebon. “Masyarkat (Tionghoa) punya keyakinan bahwa yang di arak adalah makhluk yang memiliki keberkaha supaya Cirebon aman, sejahtera dan tidak ada mara bahaya,” ungkap Surya Pranata tokoh Tionghoa Cirebon.

Harmoni Dalam Perbedaan

Kirab Budaya Cap Go Meh dimerihkan pula oleh berbagai penampilan dan kreasi seni kebudayaan Cirebon.  barisan pertama parade bendera Merah Putih dan penampilan Maching Band oleh siswa Akademi Maritim Suaka Bahari Cirebon, di ikuti oleh kesenian budaya Cirebon  dari Sanggar Sekar Pandan; Tari Sintren, Jaran Lumping, Tari Jemparing, dan replika Kereta Kencana. Barongsai dan Liong, bahkan salah satu barongsai menggunakan motif Batik Mega Mendung khas Cirebon.

Acara yang dimulai pukul 14.00 ini melalui rute yang cukup panjang, mulai dari  Wihara Welas Asih kemudian melewati beberapa ruas jalan kawasan Pecianan dan Panjunan, Jalan Pasuketan, Jl. Pekiringan, Jl. Parujakan, Jl. Sukalila Selatan, Jl. Karanggetas , Jl. Winaon,  Jl. Kanoman, Jl. Talang, kembali ke Wihara Welas Asih.

Sepanjang jalan yang dilalui sebanyak 12 tandu para dewa itu, sontak menjadi perhatian  ribuan warga, mereka rela berdesakkan demi melihat lebih dekat serta mengabadikannya momen ini dengan gadget-nya

Di kirab kali ini, rombongan tandu dari kelenteng Talang melibatkan organisasi kepemudaan Pelita (pemuda Lintas Iman) Cirebon. hal ini menunjukkan semakin banyak ragam budaya, etnis dan agama membaur dalam perayaan warga Tionghoa ini. “Kami senang sekali teman-teman muda mau ikut bersama dalam suka cita Cap Go Meh, ini menegaskan bahwa Cirebon merupakan wilayah yang beragam tapi harmonis,” ungkap Tedy Ketua Makin (Majelis Konghucu Indonesia) Cirebon.

Radit, salah satu peserta mengungkapkan suka citanya setelah berkeliling dan mengarak joli yang sebelumnya  hanya mendengar dari teman perayaan ini, namun sekarang dapat merasakannya langsung.“Walaupun kaki terasa pegal, tapi saya sangat senang sekali bisa ikut serta dalam perayaan ini,” katanya.

Begitupun Fadhilah, perempuan berkerudung yang baru pertama kali mengikuti kirab kali ini merasakan perubahan pandangan terhadap orang Tionghoa. “Ternyata orang-orang Tionghoa ramah-ramah, pengalaman ini sangat berharga bagi saya,” terangnya. (ZA)