ar17Kang Nahdi sedang galau hatinya. Tadi pagi Teh Yuli, istrinya, mengeluh meminta tambahan uang belanja. Kang Nahdi sukar memahami mengapa justru di bulan Puasa biaya dapur menjadi meningkat. Bukankah kita sedang berpuasa?

Logika lurus Kang Nahdi menjadi jungkir balik dihadapkan dengan kenyataan harga bahan pokok yang menjulang tinggi mengiringi inflasi yang bergerak naik. Ibadah puasa tidak lagi menjadi sederhana semata milik keluarga Kang Nahdi dan Allah SWT sebagaimana Hadis qudsi mengatakan, “Puasa itu untuk-Ku.” Nilainya memang semata-mata lilahi ta’ala, tapi implementasi berpuasa di tengah gerusan komersialisasi Ramadan menjadi tantangan tersendiri untuk keluarga Kang Nahdi, dan jutaan keluarga lainnya. Naiknya harga bahan pokok bisa dijelaskan lewat teori supply and demand, tapi tentu tidak menyambung dengan penjelasan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya bahwa puasa itu bertujuan supaya manusia tidak terjerumus syahwatnya.

Pada bulan Puasa, yang terjadi adalah semacam ‘balas dendam’ ketika kita sudah menahan lapar dan dahaga di siang hari, kita santap hidangan yang sejatinya tidak pernah hadir di meja makan kita di luar bulan Puasa: dari mulai timun suri, kolak pisang, kurma, es kelapa muda–untuk sekadar menyebut hidangan takjil saja. Belum lagi hasrat untuk memakai pakaian serbabaru dari mulai peci, mukena, sarung, sandal sampai sajadah. Di layar kaca artis pun mendadak alim, paling tidak dilihat dari ucapan salam dan tampilannya. Yang dulu gemar berpakaian terbuka, kini memakai kerudung. Sepanjang bulan suci, acara-acara tv juga bernuansa Ramadan, sejak sahur sampai malam. Di 10 malam terakhir Ramadan, penduduk kota besar menghabiskan pencarian lailatulkadar di terminal bus, stasiun atau terjebak macet di jalur pantura dalam rangka mudik ke kampung halaman.

Puasa tidak lagi sekadar ritual atau tradisi keagamaan semata, puasa telah menjelma menjadi sebuah budaya pop bahkan menjelma menjadi sebuah industri. Namun, proses komersialisasi tradisi keagamaan bukan hanya milik umat Islam. Di negeri Barat sekalipun, banyak gereja yang menjerit mengingatkan jemaatnya bahwa perayaan Natal setiap tahunnya telah direduksi menjadi budaya konsumerisme semata dan melupakan hakikat dan nilai spiritual.

Di masjid, para penceramah dengan semangat mengulang kembali ayat dan hadis yang itu-itu juga. Bahkan muncul fenomena baru: kalau dulu banyak yang ribut mengenai bilangan jumlah rakaat tarawih plus witir, sekarang para ustaz lebih fleksibel memilih 11 atau 23 rakaat, ‘tergantung yang mengundang saja’. Perdebatan keagamaan luruh dalam memenuhi keinginan pasar. Seorang ustaz dengan bergurau berbisik, “Saya baru sadar bahwa hadis yang mendeskripsikan betapa orang beriman itu gembira dengan datangnya Ramadan dan sedih dengan berakhirnya Ramadan itu
ternyata ditujukan untuk kami para penceramah.” Ustaz tersebut tentu merujuk pada larisnya undangan untuk mereka di bulan Ramadan. Namun, ustaz tersebut keliru. Yang bergembira dan sedih dengan datang dan perginya Ramadan bukan hanya para ustaz, melainkan juga para pedagang, artis, dan pemilik stasiun tv. Ramadan membawa berkah untuk mereka.

Namun, bagaimana dengan Kang Nahdi dan Teh Yuli? Pada kultum menjelang tarawih itu, ustaz berkata, “Tahukah Anda bahwa banyak orang berpuasa hanya mendapat lapar dan dahaga. Itulah puasa orang awam.” Saat menjelang sahur, seorang cendekiawan ternama mengingatkan pemirsa bahwa puasa itu bukan ibadah semata, melainkan juga harus berdimensi sosial.

Selepas subuh, Kang Nahdi bersimpuh mengadu pada Allah, “Kata Pak ustaz, puasaku hanya kelas awam. Yang hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Kata cendekiawan, puasaku tidak berdimensi sosial. Tuhan, aku tidak paham teori yang canggih-canggih. Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku puasa karena Engkau suruh aku. Tidakkah itu cukup untuk-Mu, Tuhan?”

Untuk sekadar memenuhi perintah Tuhan ini saja begitu beratnya untuk Kang Nahdi, yang setiap hari harus menggenjot becak demi menafkahi keluarganya. Setengah mati ia berusaha untuk tidak membatalkan puasanya, meski kerongkongannya kering. Pernah ia bertanya pada seorang ustaz, “Kalau saya tidak kuat, bolehkah saya batalkan puasa saya?” Sang ustaz menjawab standar, “Boleh saja, asalkan diganti dengan puasa di luar Ramadan”. Kang Nahdi menghela nafas. Di dalam atau di luar Ramadan toh sama saja baginya: ia tetap harus menggenjot becaknya. Ustaz lain mencoba memberikan opsi, “Kalau sakit terus-menerus, cukup bayar fidyah.” Kang Nahdi melongo dibuatnya, “Boro-boro bayar fidyah, la buat makan sehari-hari saja susah.”

Lantas apa makna puasa bagi jutaan orang seperti Kang Nahdi?

Ilustrasi berikut mungkin bisa menyederhanakan persoalan. Seorang kiai yang setiap hari di pesantren, mengajar para santri, dan jika ia tak pernah meninggalkan salat lima waktu, hal itu tidak mengherankan. Yang membuat kagum adalah jika seorang manajer yang sangat sibuk, tapi tak pernah meninggalkan salat lima waktu, atau seorang kuli bangunan yang bekerja mengandalkan otot di bawah terik matahari, tapi tetap mengerjakan puasa Ramadan. Bagi saya, manajer dan kuli itulah orang yang memiliki iman yang menakjubkan.

Dalam satu kesempatan, Nabi bertemu dengan Sa’ad al-Anshari. Sa’ad memperlihatkan tangannya yang melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, “Mengapa tanganmu itu?” Sa’ad menjawab, “Tangan ini kupergunakan untuk menafkahi keluargaku.” Nabi kemudian mencium tangan Sa’ad itu sambil berkata, “Ini tangan yang dicintai Allah.” Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, kini mencium tangan yang hitam, kasar, dan melepuh. Turunlah kita ke bawah. Perhatikanlah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran kasih sayang kita. Kita bukanlah sahabat yang menyaksikan Nabi secara langsung. Kita juga bukan malaikat yang diciptakan tak memiliki hawa nafsu. Kita adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.

Dalam kelemahan itulah kita masih beriman kepada Allah. Dalam ketakhebatan itulah kita selalu berusaha mendekati Allah. Kita memaknai iman sebagai sebuah tantangan. Semakin besar tantangan, semakin tinggi tingkat iman kita. Semakin sulit kita menjalankan keimanan, semakin berkualitas nilai iman kita di sisi Allah. Menjaga tradisi puasa di tengah gempuran komersialisasi dan industrialisasi puasa bukankah pekerjaan mudah. Ini adalah sebuah jihad tersendiri.

Di bulan suci ini masjid penuh dengan mereka yang mengerjakan tarawih dan dilanjutkan dengan itikaf. Namun, jika Anda ingin mendapat siraman hujan rahmat Allah, keluarlah di sela-sela munajat Anda, dan turunlah ke bawah. Alihkan sejenak fokus kita dari layar kaca, barang-barang yang sale, sinetron maupun tarawih di hotel mewah. Lupakan sejenak industrialisasi dan komersialisasi Ramadan yang terus mengetuk pintu rumah kita. Mari kita berpuasa bersama Kang Nahdi, Teh Yuli, dan kawan-kawannya. Mari kita belajar memahami tradisi puasa dan merajut kembali cinta ilahi pada Ramadan tahun ini; Insya Allah.[] Sumber: Media Indonesia

Oleh Nadirsyah Hosen, Dosen senior Fakultas Hukum,
University of Wollongong dan Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Australia-Selandia Baru

 {jcomments on}