Puasa, Transformasi Spiritual, dan Kebangkitan Bangsa

0
723

Ritus puasa Ramadhan telah tiba. Umat Islam di seluruh dunia memulai puasa sebulan penuh yang akan dirayakan pada 1 Syawal (Idul Fitri). Gebyar Ramadan, baik dari nilai spiritualitas maupun bisnis murni, tampak nyata di masjid-masjid, media cetak dan elektronik, perkantoran, dan pusat-pusat perbelanjaan. Semua mengu-mandangkan “Marhaban ya Ramadan” (selamat datang Ramadan). Memulai bulan puasa juga menyembulkan harapan untuk kebangkitan bangsa, karena gairah roda beragama para birokrat sipil, “pamong praja”, militer bangsa ini sedemikian shaleh, santun, dan religius. Bila riligiusitas ini sampai pada derajat mampu membuka mata batin nurani maka kejayaan bangsa ini telah tampak dipelupuk mata. Sebaliknya, bila keshalehan selesai bersama datangnya syawal, maka harapan kebangkitan bangsa ini jauh panggang dari api. Inilah salah satu keajaiban bulan penuh berkah ini.

Secara etimologis, makna puasa dapat kita lacak melalui beberapa bahasa. Dalam bahasa Arab, puasa disebut siyam atau saum yang berarti imsak (ngeker: jawa), menahan diri dari makan-minum pada siang hari sejak fajar hingga terbenam mata hari, dan mencegah diri dari mengeluarkan kata-kata kotor, keji, dan mungkar. Adapun dalam bahasa Sansekerta, puasa berasal dari kata upa (dekat) dan wasa (Yang Mahakuasa). Jadi, upawasa (puasa) adalah cara atau metode untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Dengan pelacakan dari dua bahasa itu, jelas bahwa puasa merupakan pelatihan formal untuk mencapai perubahan dalam setiap diri sehingga dapat mengendalikan diri, mendapatkan pembebasan dan penyadaran.

Tujuan spiritualitas puasa adalah mengantarkan manusia untuk mencapai kesadaran tertinggi, yaitu kesadaran spiritual. Kesadaran spiritual adalah suatu kesadaran bahwa manusia bukan badan, bukan prana (kekuatan hidup), bukan pikiran, bukan emosi, bukan memori, melainkan spirit. Maka manusia hendaknya tidak mengidentikkan dirinya dengan semua unsur tersebut. Ketika manusia sadar bahwa dirinya bukan badan, dia tidak perlu mengidentikkan dirinya dengan selera dan nafsu. Sebab, alat perasa yang disebut pancaindra hanyalah bagian dari tubuh manusia, maka manusia tidak perlu menuruti semua kemauan indra, apalagi sampai didikte oleh indra. Karena indra pada dasarnya adalah wujud lahir yang memiliki sifat serakah setelah menyaksikan ketakjuban dunia yang serba wah.

Merujuk pada Al-Quran, bagi umat Islam tujuan akhir puasa adalah mencapai takwa; mengendalikan sikap dan perilaku sehingga terhindar dari perbuatan yang melanggar. Nilai-nilai moral adalah salah satu produk penting takwa. Dengan puasa manusia bisa merencanakan untuk membentuk kebiasaan yang mampu mengendalikan diri. Kemampuan ini adalah sebuah jalan menuju kemandirian, kematangan pribadi, dan transformasi spiritual.

Mendaki Bukit Puasa

Para sufi agung menteoritisasi puasa laksana misi pendakian gunung seperti yang dilakukan para aktifis lingkungan atau pecinta alam. Ada para pendaki gunung yang terlatih akan dapat mencapai finis di puncak tertinggi. Ada pendaki yang pada setengah perjalanan rasanya telah sampai puncak, karena kurangnya latihan dan bekal, sehingga telah puas di tengah jalan. Namun ada pula yang tak sampai di tengah perjalanan namun rasanya telah puas walau sedikit telah merasakan dahsyatnya melakukan sebuah petualangan yang indah. Ketiga kelompok pendakian di atas, meskipun semua merasa mencapai finish dan derajat kebahagiaan, namun masing-masing berada pada tingkatan yang tidak sama.

Dengan merumuskan kategorisasi yang hampir sama dengan kaum sufi, Al-Ghazali, menyatakan bahwa transformasi spiritual yang mampu membangkitkan diri dalam puasa terdiri atas tiga tahapan atau tingkatan. Tingkatan pertama, puasa orang awam-umum (awam). Puasa dipahami sekadar menahan rasa lapar, haus, dan syahwat pada siang hari saja.

Tingkat kedua, puasa orang khusus (khawash). Puasa pada level ini dipahami selain secara fisik-biologis (menahan lapar, dahaga, dan syahwat) ditambah pengekangan diri (pancaindra) dari perbuatan dosa.

Tingkat tertinggi, puasa orang sangat khusus (khawashul khawash). Puasa bukan sekadar menahan rasa lapar, haus, syahwat, pancaindra, melainkan juga seluruh peranti kehidupan manusia (jasmani-rohani). Bagi kelompok ketiga ini, misi sosial merupakan salah satu sisi yang juga dilakukan “laku puasa” dengan menyantuni dengan sepenuh hati pada masyarakat keserakat (terbenam dalam lumpur kekusahan dan kesulitan hidup).

Setiap tiba bulan Ramadan, sudah semestinya dari tahun ke tahun setiap orang mampu meniti jalan pendakian ini secara progresif atau maju. Bila puasa tahun lalu masih pada level awam, tahun ini berusaha sekuat tenaga untuk paling tidak berada pada level khusus. Tahun depan syukur dapat di puncak klasemen. Bila diibaratakan sebuah kompetisi olahraga, maka piala hanya dapat dipegang oleh sang juara, yang pasa tahap akhir berada pada klasemen puncak. Puncak klasemen inilah yang akan dapat mempertemukan atau menyatukan seorang diri hamba dengan tuhannya.

Dalam bahasa Jawa disebut manunggaling kawula Gusti, dalam bahasa Ibnu Arabi wahdatul wujud, dan dalam bahasa tokoh sufi dari tanah Jawa Syeh Siti Jenar sebagai wahdatusy syuhud.

Progresivitas untuk mencapai kesadaran tinggi ini penting karena dalam sebuah hadis disebutkan, orang yang amalnya hari ini lebih buruk dari yang kemarin termasuk orang celaka. Orang yang amalnya hari ini sama dengan hari kemarin, ia termasuk orang yang rugi. Dan, orang yang amalnya hari ini lebih baik dari yang kemarin, maka ia orang yang beruntung (HR Bukhari Muslim). Hadits ini yang saat ini dipraktekkan dalam sebuah misi bisnis maupun social yang terkenal dengan sebutan target, yang dari waktu ke waktu pasti akan terus dinaikkan.

Pola laku puasa Ramadan seperti ini akan mampu mencapai garis batas tertinggi dari tujuan puasa, yakni takwa. Takwa dalam arti bukan hanya takut, tetapi seperti dikatakan Nurcholish Madjid (1995), kelahiran kesadaran ketuhanan. Yaitu sikap pribadi yang sungguh-sungguh berusaha memahami Tuhan dan menaati-Nya. Dalam konteks inilah totalitas kolektif manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial diuji. Kesadaran ketuhanan diuji dalam kehidupan yang berkaitan langsung kepada Allah sekaligus dalam kehidupan nyata antarsesama manusia dan makhluk Allah yang lain.

Totalitas spiritual dan penyadaran bukan hanya terbentuk lahiriah melainkan juga batiniah, antara wadag dan isi harus serasi. Kedua-duanya harus digerakkan dan diwujudkan sebagai satu kesatuan sehingga mewujud dalam bahasa Al-Quran sebagai insan kamil (manusia sempurna paripurna).

Dalam konteks kebangsaan, puasa yang mampu melahirkan kesadaran ketuhanan, baik yang dilakukan para pejabat pemerintah di semua level dan jenis birokrasi maka akan dapat menggerus segala praktek penyimpangan baik yang sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Hal ini akan dapat kompak ketika puasa “rakyat biasa” juga berada pada level kelahiran kesadaran ketuhanan, sehingga dalam istilah orang Jawa tutup oleh tumbu alias klop. Pejabat tidak memancing-mancing rakyat agar menyuap, rakyat juga tidak memancing-macing dengan pelican agar urusannya segera beres.

Ibarat gerobak, semua komponen bekerja dan berjalan sesuai posisi, level, beserta hak dan kewajiban masing-masing. Kuda bertugas menarik, roda berputar, skerup penahan antar kompnen agar tidak lepas, atap bertugas menahan dari panas dan hujan, dan seterusnya. Inilah harmoni hidup dan kehidupan. Dan hanya dapat membangkitkan bangsa ini bila puasa benar-benar mampu melahirkan kesadaran ketuhanan yang sungguh-sungguh. Syarat ini tidak bisa ditawar, di geser-geser, atapun di kurangi. Semoga bangsa ini mampu memetik himah puasa yang dilaksanakan warganya, dan dapat memperoleh derajat surga dunia, baldatun thayibatun wa rabbun ghafur dan seluruh penduduknya berada di surga akhirat di akhir zaman kelak. Selamat menjalankan puasa. Amin.