Rakom Baru, Harapan Baru

0
689

Kebutuhan akan media informasi yang bisa dikelola dan diperuntukkan untuk warga ternyata semakin kuat. Dorongan itu dipicu oleh perilaku media-media mainstrem, baik TV maupun radio, yang selama ini kurang bisa memenuhi kebutuhan warga masyarakat, khususnya yang tinggal di pelosok-pelosok pedesaan.

Atas dasar kebutuhan informasi berbasis warga itulah, beberapa komunitas di beberapa desa bekerjasama dengan Fahmina Institute, berinisiasi mendirikan radio warga (radio komunitas). Ini dilakukan di Desa Cangkoak Kec. Dukhpuntang Kab. Cirebon, Kel. Sukajaya Kec. Majalengka Kab. Majalengka, Desa Kiajaran Kulon Kec. Lohbener Kab. Indramayu, serta Desa Babakan Kec. Ciwaringin Kab. Cirebon.

Radio komunitas yang berdiri di lima wilayah di atas adalah pengembangan dari yang sudah ada sebelumnya di wilayah III Cirebon. Yaitu radio komunitas Caraka FM Desa Ciborelang Kec. Jatiwangi Majalengka, Baina FM di desa Babakanmulya Kec. Jalaksana Kab.Kuningan, AJ FM Desa Arjawinangun Kec. Arjawinangun Kab. Cirebon, Bonbar FM Kel. Kebon Baru Kec. Kejaksan Kota Cirebon, dan Banyu FM Desa Mertapada Kec. Astanajapura Kab. Cirebon.  Lima radio komunitas ini berdiri sejak 2007

Radio Petani dan Radio Budaya

“Kita berharap radio bisa menolong memberikan informasi seputar pertanian kepada penduduk di sini yang umumnya adalah petani” tutur Muallif salah seorang penggerak radio Buana FM. Ungkapan itu disampaikan pada saat pendirian radio komunitas Buana FM di Desa Cangkoak Kec. Dukupuntang Kab Cirebon pada Rabu (02/07). Menurutnya kondisi petani di desanya cukup memprihatinkan, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan.  Tinggiya harga pupuk, gagal panen, tidak variatifnya jenis tanaman, distribusi pengairan sawah yang jelek, dan pola tanam yang masih konvensional, merupakan persoalan-persoalan yang sangat membebani petani Cangkoak. “jika mau tanaman sejenis palawija sebetulnya bisa tumbuh baik disini, tetapi tampaknya petani disini belum berfikir menanam jenis lain selain padi” jelas Muallif.

Karena itu, radio komunitas Buana FM yang didukung penuh warga dan aparat pemerintahan desa setempat itu diharapkan bisa bermanfaat dan memajukan kehidupan petani setempat. “Paling tidak kita bisa menemani petani, dan mencoba menyelami persoalan mereka agar tidak merasa sendirian” kata Muallif.  Ke depan Buana FM akan melakukan upaya-upaya rembug sesama petani, penyuluh, dan stake holder terkait untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Selain itu, Buana FM akan mengudarakan informasi pertanian baik melalui ILM (Iklan Layanan Masyarakat) atau acara talkshow rutin.

Persoalan petani juga menjadi titik perhatian Sukajaya FM. Radio komunitas yang didirikan Kamis (03/07) ini merupakan radio yang diusung oleh warga Sukajaya Kelurahan Cijati Kec. Majalengka Kab. Majalengka. Selain persoalan pertanian, Sukajaya FM akan dijadikan media bagi pengembangan ekspresi seni dan budaya warga setempat. “Kita akan angkat dan lestarikan seluruh tradisi budaya dan seni lokal Sunda yang sudah lama tumbuh dan berkembang di sini seperti kecapi, degung, dan lain-lain” terang Hasan Maa’rif salah seorang penggagas Sukajaya FM. Keinginan itu memang sejalan dengan keberadaan group kosidah yang sudah lama dikembangkan warga di kompleks Sukajaya Kel. Cijati yang eksis dan berkembang maju.  “Sebagai radio seni-budaya Sukajaya FM akan konsisten mengusung nilai-nilai kearifan lokal” tegas Hasan.

Radio Buruh Migran dan Radio Seluruh Golongan

Lain radio, lain juga isu yang diusung. Jika Buana FM dan Sukajaya FM bergelut di persoalan petani dan seni tradisi-budaya, radio Bilik FM akan fokus di isu-isu buruh migran. Bukan tanpa alasan, karena sekitar Desa Kiajaran Kulon Kec.Lohbener Kab. Indramayu  di mana radio itu didirikan adalah kantong atau basis buruh migran. Bilik FM akan mengiformasikan lewat udara seputar persoalan buruh migran, selain tentu akan melakukan advokasi langsung terhadap para korban. Ditemui di sela-sela pendirian Bilik FM pada Selasa (08/07) Abu Darda salah seorang penggiat Bilik FM mengungkapkan optimismenya bahwa Bilik FM bisa berperan secara sosial terutama dalam mendampingi para buruh migran bermasalah. “pendampingan buruh migran sebenarnya bukan hal baru, selama ini komunitas bilik sendiri konsisten melakukan advokasi, kami seringkali menangani kasus buruh migran bermasalah baik ligitasi maupun non ligitasi” terang Darda.

Sementara itu radio komunitas BBC FM di desa Babakan Kec. Ciwaringin Kab. Cirebon yang lahir ditengah-tengah komunitas santri, Kyai dan pesantren. Namun demikian para pengelola BBC FM tidak seluruhnya santri, melainkan dikelola pula oleh para remaja penduduk desa setempat. Ketua DPK (Dewan Penyiaran Komunitas) BBC FM, Nuruzzaman menungkapkan bahwa BBC FM adalah radio komunitas yang akan mengusung keragaman dan toleransi antar golongan. “kita akan buktikan bahwa pesantren itu tidak eksklusive, tetapi sangat terbuka bagi siapapun yang berbeda golongan dan keyakinan”, tegas Zaman. BBC FM akan mendorong dan mempertahankan tradisi-tradisi dialog dalam menyikapi berbagai persoalan secara arif. Karena itu BBC FM siap berhadapan dengan pihak-pihak yang anti dialog dan merasa dirinya paling benar sendiri.

Program unggulan BBC FM adalah talkshow yang akan rutin diadakan setiap minggu dengan menghadirkan narasumber untuk membahas tema-tema seputar persoalan sosial, agama, budaya, dan lain-lain. Program kajian lainnya adalah program kajian rutin “kitab kuning” dan “bahstul masail”. Selain itu, seperti ditegaskan Nuruzzaman bahwa BBC akan konsisten mengukuhkan tradisi-tradisi Ahlusussnah Waljamaah yang selama ini biasa dilakukan oleh warga Nahdiyyin. Dengan berbagai program acara itu, diharapkan BBC FM akan betul-betul hadir sebagai media atau ruang bagi proses dialog antara golongan dan kelompok. Tidak salah kiranya jika BBC FM memiliki slogan : “Berdiri Diatas Semua Gologan”.  [ ]