Kolosal tidak hanya orang yang melakukan ibadahnya, tetapi kolosal juga pembuatan simbol-simbol ramadhan. Kita bisa cek ketika datang bulan ramadhan pemasangan gambar masjid dan orang berkopyah terpasang ditempat-tempat umum. begitu juga tawaran paket ramadhan seperti hotel dan rumah makan secara kolosal ditawarkan.

Saya terinspirasi dari tulisan opini Muhammad AS, di Kompas, yang berjudul “tragedi komersialisasi agama” telah menggambarkan realitas keberagamaan umat Islam yang telah terjebak pada praktek ritual formal agama yang menyebabkan kehilangan subtansi agama. Dan tulisan ini tidak dalam rangka mengkritik ibadah puasa, tapi mengkritik realitas umat Islam yang terjebak. Ramadhan yang mestinya menjadi momen bagi umat Islam untuk kontemplasi dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta menjadi ajang memupuk dan mengonsolidasi persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia. Misalnya dengan tarawih berjamaah, seorang Muslim diharapkan mampu menjadikan kesempatan itu untuk memecahkan masalah internal umat Islam, lebih-lebih mampu memecahkan persoalan bersama, dalam konteks lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya. Momentum untuk membangkitkan jiwa perjuangan seorang Muslim yang tangguh dalam menyelesaikan problem keberagamaan dan kebangsaan. Namun, yang terjadi ramadhan hanya dijadikan “pemanis” beragama, dan ini menumbulkan kebuntuan dan keterasingan diri, dalam beragama ataupun berbangsa.

Keterasingan inilah yang sedang terjadi pada masyarakat kita karena agama hanya diciptakan dari penampilan luar, sementara dimensi spiritual yang esoteris terabaikan. Bahkan, spiritualitas keberagamaan kita dewasa ini lebih banyak ditunjukkan dalam berbagai siaran kolosal, baik melalui media cetak (koran) maupun elektronik (televisi). Dalam kolosalisasi keberagamaan ini adalah kaburnya nilai substantif agama. Menjadi Muslim dengan kesadaran spiritualitas tinggi hanya terjadi saat berperan di televisi. Pascapentas, manusia kembali “merobek” agama. Begitu pula dengan para penonton, aksi-aksi spiritual di televisi hanya dijadikan hiburan tanpa dimaknai sebagai kontemplasi beragama. Sementara itu, industri televisi dan insan perfilman menjadikan momentum puasa sebagai media untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Komersialisasi beragama

Tragedi komersilaisasi tidak hanya terjadi pada kebutuhan pokok dan pendidikan. Agama pun kini menjadi bagian yang dikomersilkan. Tragedi komersialisasi beragama yang kini sedang marak ditimbulkan oleh beberapa hal. Pertama, masih terjebak dalam keberagamaan formalistik. Keberagamaan yang mengalir dalam urat nadi hanya “pemanis”. Beragama menjadi khusyuk hanya dalam sesaat atau bahkan hanya mengikuti tuntutan lingkungan. Seandainya tidak ada bulan Ramadhan, seolah kita tidak akan menonton hal-hal yang bersifat religius. Maka tak heran jika pasca-Ramadhan, kita akan kembali seperti semula. Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) serta segala kejahatan kemanusiaan lain akan semarak lagi. Pada saat itu Ramadhan sebagai bulan yang dialamatkan Allah sebagai bulannya umat Muhammad, akan tercabik-cabik. Yang tersisa hanya puing-puing ibadah temporal yang tak memberi nilai dan daya beragama secara revolusioner. Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas kapitalistik. Berbagai industri media dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk menayangkan program-program dakwah, dengan semua artis manggung di TV dengan pakaian islami.

Menghadapi realitas pelik ini, perlu dibangun kembali nalar keberagamaan yang sedang tercabik-cabik. Yakni bagaimana kita menghadirkan kembali makna substantif agama dan meluruskan kembali makna dan nilai spiritual yang terkandung dalam tayangan sinetron itu. Respiritualisasi ini agar kita tidak terjebak ke dalam sinyalemen Rasulullah, “berapa banyak amal yang berwujud amal akhirat tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek dan berapa banyak amal yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena niat yang baik”. Hadis itu mengindikasikan Ramadhan harus disambut dengan ibadah, bukan dengan gegap gempita melalui berbagai kegiatan yang tidak berkaitan langsung atau tidak langsung dengan Ramadhan. Salah mengartikulasi dan menginterpretasi puasa, hanya akan menghasilkan rasa lapar dan dahaga. []