Memaknai Rebo Wekasan dan Tradisi Safaran di Cirebon (foto ; istimewa)

Saparan atau Safar adalah bulan ke dua dalam perhitungan kalender Islam Jawa. Bulan ini di percaya masyarakat adalah bulan musim kawin hewan. Khewan sing pada kawin seperti anjing (asu), sehingga di bulan ini sebaiknya tidak dilakukan acara pernikahan atau masyarakat Cirebon mengenal bulan larangan untuk melakukan pernikahan.

Sarana Ibadah dan Muhasabah

Di samping itu, bulan Safar juga dikenal dengan bulan yang sering terjadi malapetaka atau wulan sing akeh sial (blai) khususnya hari Rabu terakhir di bulan ini atau orang Cirebon mengenal dengan istilah “Rebo Wekasan”. Asal usul keyakinan ini juga belum jelas tapi dari beberapa sumber yang diyakini masyarakat bahwa di hari rabu terakhir di bulan Safar ini biasanya banyak terjadi bala.

Sementara menurut `ulama besar, Imam Abdul Hamiid Quds, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” mengatakan, “Banyak Awliya Allah yang mempunyai Pengetahuan Spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.” Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat Alquran, “Yawma Nahsin Mustamir” yang artinya “Hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari ini.

Untuk mencegahnya dianjurkan melakukan salat sunah 4 rokaat, dua kali salam. Dengan bacaan surat al-Kautsar sebanyak 17 kali, di rakaat pertama, dibaca surat al-Ikhlas sebanyak 5 kali, di rokaat ke dua, dibaca surat al-Falaq. Di rakaat ketiga surat an-Nas di baca satu kali, juga di raka’at yang keempat. Kemudian di akhiri dengan membaca do’a Asyura.

Masyarakat Cirebon percaya, di bulan ini untuk tidak melakukan beberapa aktifitas seperti; melakukan perjalanan jauh atau perkerjaan yang cukup berbahaya. Dianjurkan di bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua dan kaum jompo, di lain itu pula kita lebih meningkatkan dan mempererat tali silaturahmi diantara sesama. Berkaitan dengan ini maka masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan 3 macam kegiatan yang dikenal dengan “Ngapem, Ngirab dan Rebo Wekasan serta Tawurji”.

Ngapem bentuk Rasa Syukur

Ngapem berasal dari kata Apem yaitu berupa kue yang terbuat dari tepung beras yang di fermentasi. Apem dimakan disertai dengan pemanis (Kinca) yang terbuat dari gula jawa dan santan. Umumnya masyarakat masih melakukan ini dengan membagi-bagikan ke tetangga yang intinya adalah bersyukur (Selametan) di bulan Safar yang kita terhindar dari malapetaka. Pesan yang diambil dari Apem dan Kinca ini juga melambangkan kita untuk lebih memperhatikan fakir miskin, tetangga dan kerabat dekat untuk lebih mempererat tali silaturahmi karena di bulan ini penuh dengan malapetaka.

Apem atau Cimplo yang disandingkan dengan gula kelapa (kinca) khas Cirebon. (istimewa)

Apem juga melambangkan diri kita, pada saat kita memakannya harus di celupkan di kinca yang melambangkan darah dan juga mengingatkan kita adanya kemungkinan diri kita akan terkena musibah. Ada juga cerita dari beberapa sumber bahwa tradisi ngapem ini berasal dari keraton yang sering membagi-bagikan apem di bulan ini, ada juga diartikan pada masa penjajahan belanda di Cirebon bahwa apem melambangkan Belanda yang harus di musnahkan dari cirebon dengan memasukan apem ke dalam kinca.

Ngirab Pembersihan Diri dan Alam

Bulan Safar diyakini bulan yang penuh malapetaka yang kemungkinannya bisa terjadi di antara kita. Hal ini konon di yakini sebagai upaya Sunan Kalijaga untuk mencegah kemungkinan datangnya Rebo Wekasan, beliau mandi di Sungai Drajat pada saat berguru pada Sunan Gunung Djati untuk membersihkan diri dari bala di hari Rebo Wekasan. Ini akhirnya di ikuti oleh masyarakat pada saat itu dan dijadikan adat oleh masyarakat Cirebon. Hingga kini masyarakat Cirebon di hari Rebo Wekasan mengunjungi petilasan Sunan Kalijaga. Dengan menggunakan perahu mereka menuju kalijaga dan melakukan mandi di tempat yang diyakini dulu Sunan kalijaga mandi. Kegiatan mandi tolak bala juga di lakukan dibeberpa wilayah lain di Sungai Cipager di Kelurahan Gegunung, Sumber, Kab. Cirebon.

Adat ini disebut dengan “Ngirab” yang artinya bergerak atau menggerakan sesuatu untuk membuang yang kotor. Beberapa masyarakat masih meyakini adat ini dengan dengan serius secara sepiritual, akan tetapi kebanyakan orang hanya untuk rekreasi dan bersenang-senang saja untuk melupakan bulan yang penuh bala ini. adat ini juga menjadi sarana untuk tetap melestarikan dan menjaga ekosistem alam terutama sungai agar tetap terjaga.

Tawurji untuk Bebagi 

Semua kegiatan di bulan Safar ini belumlah lengkap bila tidak di akhiri dengan Rebo Wekasan yang merupakan hari yang sangat penting. Selepas Isya hingga Subuh merupakan pergantian hari yg biasanya di pagi hari banyak anak-anak yang berkopiah dengan sarung yang di kalungkan ke badannya akan keliling dari rumah ke rumah untuk mensenandungkan nyanyian;

“Wur tawur nyi tawur, selamat dawa umur…” yang artinya ”

Bu, bagikan lah sesuatu ke kami semoga selalu sehat/aman dan panjang umur…”

Artinya: bebas/selamat lah anda setelah hari Rebo terakhir ini.

Tradisi tawurji (sawer) sebagai salah satu tradisi tolak bala di bulan Safar. (istimewa)

Biasanya si empunya rumah akan menanyakan: ” Sing endi cung?” terus akan di jawab oleh mereka dari pesantren atau dari daerah mana mereka tinggal…Mereka biasanya berkelompok minimal dua atau tiga orang dan kadang berlima.

Riwayat lain mengatakan bahwa anak-anak tawurji ini berasal dari pengikut Syeikh Lemahabang/Syeh Siti Djenar alias Syeikh Datuk Abdul Djalil alias Syeikh Jabaranta. Berdasarkan sejarah dari para orang terdahulu bahwa Syekh Siti Djenar ini dulunya bagian dari para Wali hanya beliau mengajarkan sesuatu yang membuat orang lupa/mengesampingkan Syariat. Sehingga beliau konon di adili oleh dewan Walisongo di Masjid Agung Cirebon dan di eksekusi oleh Sunan Kudus dengan menggunakan keris Kantanaga milik Sunan Gunung Djati.

Warga mandi di sungai di kawasan Sumber untuk mencegah tolak bala. (Sumber:Portal Cirebon)

 

Syeikh Lemah Abang wafat jasadnya dan di makamkan di Kemlaten. Para pengikutnya (Abangan) sangatlah sedih, maka usul Sunan Kalijaga atas persetujuan Sunan Gunung Djati dengan Rebo Wekasan ini di anjurkan untuk berdoa, memberi selamat dari setiap rumah ke rumah agar selalu dilindungi oleh yang maha kuasa dan mereka di santuni dengan memberikan uang jajan karna tidak ada lagi yang mengasuh mereka.

Namun tradisi dan ritual sperti di atas lambat laun semakin terkikis oleh perkembangan zaman. namun esensinya harus tetap lestari diantaranya Apem dan Tawurji agar kita tetap memperhatikan kesejahteraan orang lain selain diri kita sendiri, tradisi berbagi/ sedekah harus terus dilakukan. Begitupun dengan Ngirab, kita diajari untuk membersihkan diri dari kotoran serta melestarikan alam dnegan menjaga dan memperhatikan kebersihan sungai. Rebo Wekasan sendiri agar tetap waspada dan memperbaiki diri akan segala kemungkinan buruk dalam hidup, dengan beribadah, berdoa, bersedekah dan instropeksi diri. (ZA)

Disarikan dari berbagai sumber.