Resistensi, Ambivalensi dan Reproduksi Eksploitasi Buruh Migran Indonesia

0
560

Cirebon, ISIF – Buruh migran Indonesia terutama perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga merupakan kelompok buruh migran yang paling rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan. Bukan saja jika dibandingkan dengan buruh migran Indonesia untuk jenis-jenis pekerjaan lainnya  tetapi juga dibandingkan dengan buruh migran dari negara lain misalnya Filiphina, meskipun dengan jenis pekerjaan yang sama.  Banyak studi telah mengungkapkan fenomena di atas dan menyajikan data-data kuantitatif yang cukup signifikan untuk menunjukan hal di atas.

Namun demikian kekerasan atau situasi eksploitatif terus menerus terjadi, hingga sekarang. Mengapa hal itu terjadi, apa pandangan dan sikap dari buruh migran Indonesia terhadap situasi eksploitatif yang dialaminya? Hal inilah yang mengusik Miriam Garnjost, mahasiswa S2 University of Heidelberg, Jerman untuk meneliti Buruh Migran Pekerja Rumah Tangga dari Indonesia.

Dalam diskusi siang (6/9) di Kampus ISIF, Miriam memaparkan sepanjang yang telah ditemukannya, penelitian mengenai masalah buruh migran di Indonesia didominasi oleh pendekatan politik, ekonomi, geografi dan aspek struktural lainnya. Aspek ini memberikan petunjuk mengenai kerentanan buruh migran menjadi korban eksploitasi, pelanggaran HAM, korban trafficking dan lain-lain. Namun belum ada penelitian yang mendalami perihal buruh migran dari buruh migran itu sendiri, apa yang dirasakan, apa yang alami, apa makna pengalaman itu bagi buruh migran, mengapa buruh migran dari Indonesia lebih banyak menjadi korban daripada buruh migran lainnya, mengapa buruh migran Indonesia tetap bermigrasi ke luar negeri kendatipun mereka sering mendapatkan perlakuan kekerasan. Sebagai mahasiswa jurusan anthropologi, Miriam memfokuskan penelitiannya pada aspek buruh migran sebagai agen sosial menghadapi struktur yang menindas.

Peneliti menggunakan teori agensi dan struktur Antony Giddens dan teori relasi kuasa Micheal Foucault. Teori Gidden membantunya membangun kerangka analisis bagaimana struktur dan agensi sama-sama memiliki peran untuk menciptakan praktik sosial. Sedangkan teori relasi kuasa Micheal Foucault membantunya untuk mengkonstruksi buruh migran sebagai agen dari struktur perdagangan dan perburuhan internasional memiliki potensi untuk perlawanan (resistensi) terhadap praktik yang merugikan mereka. Asumsi ini diambil dari teori Foucault bahwa setiap struktur kekuasaan menyediakan ruang untuk perlawanan.

Dari penelitiannya tersebut Miriam menemukan bahwa buruh migran Indonesia bukanlah agen yang pasif, pasrah sebagai korban. Secara simbolik para buruh migran telah melakukan perlawanan misalnya melalui ledekan-edekan terhadap aksen bicara para majikannya, atau menunjukkan sikap tidak patuh dengan melakukan kesalahan yang disengaja (mencampur cucian yang berbeda warna dengan putih hingga kelunturan), atau menunjukkan sikap yang sangat-sangat patuh hingga menjengkelkan majikan.

Di sisi lain para buruh migran juga menunjukkan ambivalensi terhadap situasi yang menindasnya. Seberapapun kekerasan pernah dialaminya saat di luar negeri, dia tetap mau bekerja diluar negeri. Pandangan-pandangan yang dipengaruhi budaya dan keyakinan ajaran agama mempengaruhi sikap ini. Sebagai orang Jawa misalnya, seseorang harus patuh dan menyerah pada nasib, sementara pandangan agama mempengaruhi kepercayaan seseorang bahwa segala sesuatu yang dialaminya sudah takdir dari yang maha kuasa.

Selain itu juga terdapat fenomena buruh migran ikut terlibat dalam carut marutnya perekrutan buruh migran dengan berperan menjadi calo, perekrut calon buruh migran lainnya. Alih-alih menyesali dan memperjuangkan situasi yang lebih baik, buruh migran justru mereproduksi  situasi eksploitatif yang telah dialaminya.

Peneliti mengakui bahwa data kualitatif yang didapatnya masih kurang, karena keterbatasan waktu. Data kualitatif dibutuhkan untuk mendapatkan gambaran nilai khas Indonesia yang menjadi latar motivasi dari buruh migran Indonesia untuk bekerja di luar negeri.  Untuk itu, penelitian ini memanfaatkan data kuantitatif untuk memilih lokasi, yaitu Jawa secara umum, dan Cirebon secara khusus. Membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk melakukan penelitian anthropologi yang lebih komperensif. Meskipun demikian, penelitian yang dilakukan Miriam memberikan sumbangasih untuk memahami persoalan buruh migran di Indonesia. []

– See more at: http://isif.ac.id/berita/item/280-resistensi-ambivalensi-dan-reproduksi-eksploitasi-buruh-migran-indonesia#sthash.r84eQlwZ.Rwik8q0H.dpuf

Cirebon, ISIF – Buruh migran Indonesia terutama perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga merupakan kelompok buruh migran yang paling rentan mengalami berbagai bentuk kekerasan. Bukan saja jika dibandingkan dengan buruh migran Indonesia untuk jenis-jenis pekerjaan lainnya  tetapi juga dibandingkan dengan buruh migran dari negara lain misalnya Filiphina, meskipun dengan jenis pekerjaan yang sama.  Banyak studi telah mengungkapkan fenomena di atas dan menyajikan data-data kuantitatif yang cukup signifikan untuk menunjukan hal di atas.

 

Namun demikian kekerasan atau situasi eksploitatif terus menerus terjadi, hingga sekarang. Mengapa hal itu terjadi, apa pandangan dan sikap dari buruh migran Indonesia terhadap situasi eksploitatif yang dialaminya? Hal inilah yang mengusik Miriam Garnjost, mahasiswa S2 University of Heidelberg, Jerman untuk meneliti Buruh Migran Pekerja Rumah Tangga dari Indonesia.

 

Dalam diskusi siang (6/9) di Kampus ISIF, Miriam memaparkan sepanjang yang telah ditemukannya, penelitian mengenai masalah buruh migran di Indonesia didominasi oleh pendekatan politik, ekonomi, geografi dan aspek struktural lainnya. Aspek ini memberikan petunjuk mengenai kerentanan buruh migran menjadi korban eksploitasi, pelanggaran HAM, korban trafficking dan lain-lain. Namun belum ada penelitian yang mendalami perihal buruh migran dari buruh migran itu sendiri, apa yang dirasakan, apa yang alami, apa makna pengalaman itu bagi buruh migran, mengapa buruh migran dari Indonesia lebih banyak menjadi korban daripada buruh migran lainnya, mengapa buruh migran Indonesia tetap bermigrasi ke luar negeri kendatipun mereka sering mendapatkan perlakuan kekerasan. Sebagai mahasiswa jurusan anthropologi, Miriam memfokuskan penelitiannya pada aspek buruh migran sebagai agen sosial menghadapi struktur yang menindas.

Peneliti menggunakan teori agensi dan struktur Antony Giddens dan teori relasi kuasa Micheal Foucault. Teori Gidden membantunya membangun kerangka analisis bagaimana struktur dan agensi sama-sama memiliki peran untuk menciptakan praktik sosial. Sedangkan teori relasi kuasa Micheal Foucault membantunya untuk mengkonstruksi buruh migran sebagai agen dari struktur perdagangan dan perburuhan internasional memiliki potensi untuk perlawanan (resistensi) terhadap praktik yang merugikan mereka. Asumsi ini diambil dari teori Foucault bahwa setiap struktur kekuasaan menyediakan ruang untuk perlawanan.

Dari penelitiannya tersebut Miriam menemukan bahwa buruh migran Indonesia bukanlah agen yang pasif, pasrah sebagai korban. Secara simbolik para buruh migran telah melakukan perlawanan misalnya melalui ledekan-edekan terhadap aksen bicara para majikannya, atau menunjukkan sikap tidak patuh dengan melakukan kesalahan yang disengaja (mencampur cucian yang berbeda warna dengan putih hingga kelunturan), atau menunjukkan sikap yang sangat-sangat patuh hingga menjengkelkan majikan.

Di sisi lain para buruh migran juga menunjukkan ambivalensi terhadap situasi yang menindasnya. Seberapapun kekerasan pernah dialaminya saat di luar negeri, dia tetap mau bekerja diluar negeri. Pandangan-pandangan yang dipengaruhi budaya dan keyakinan ajaran agama mempengaruhi sikap ini. Sebagai orang Jawa misalnya, seseorang harus patuh dan menyerah pada nasib, sementara pandangan agama mempengaruhi kepercayaan seseorang bahwa segala sesuatu yang dialaminya sudah takdir dari yang maha kuasa.

Selain itu juga terdapat fenomena buruh migran ikut terlibat dalam carut marutnya perekrutan buruh migran dengan berperan menjadi calo, perekrut calon buruh migran lainnya. Alih-alih menyesali dan memperjuangkan situasi yang lebih baik, buruh migran justru mereproduksi  situasi eksploitatif yang telah dialaminya.

Peneliti mengakui bahwa data kualitatif yang didapatnya masih kurang, karena keterbatasan waktu. Data kualitatif dibutuhkan untuk mendapatkan gambaran nilai khas Indonesia yang menjadi latar motivasi dari buruh migran Indonesia untuk bekerja di luar negeri.  Untuk itu, penelitian ini memanfaatkan data kuantitatif untuk memilih lokasi, yaitu Jawa secara umum, dan Cirebon secara khusus. Membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk melakukan penelitian anthropologi yang lebih komperensif. Meskipun demikian, penelitian yang dilakukan Miriam memberikan sumbangasih untuk memahami persoalan buruh migran di Indonesia. []

– See more at: http://isif.ac.id/berita/item/280-resistensi-ambivalensi-dan-reproduksi-eksploitasi-buruh-migran-indonesia#sthash.r84eQlwZ.Rwik8q0H.dpuf