RITUAL MAULUDAN; Ribuan Warga Menyelimuti Keraton Kasepuhan dan Kanoman

0
846

CIREBON, KOMPAS– Ribuan warga dari berbagai daerah datang menyaksikan ritual menyambut maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Mereka bahkan rela menginap selama sepekan lebih untuk bisa menyaksikan ritual tersebut.

Upacara puncak dari ritual muludan adalah arak-arakan panjang jimat yang dilakukan pada Senin (9/3) di Keraton Kasepuhan dan Kanoman. Arak-arakan diawali dengan bendera msan Ali yang merupakan bendera kebesaran Kerajaan Cirebon dan diikuti prajurit keraton pembawa tombak atau bandrang keraton. Di baris selanjutnya berjalan keluarga keraton dan abdi dalem yang membawa piring-piring dan beragam pusaka, kemudian Raja Keraton Kasepuhan dan Pangeran Patih Keraton Kanoman.

Warga sebenarnyasudah memadati keraton sejak dua pekan sebelum acara puncak panjang jimat. Menurut Kasina (43), warga Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, ia telah tinggal di mushala sekitar Keraton Kanoman sejak tujuh hari sebelum perayaan puncak kemarin. Ia datang bersama delapan tetangganya tidak hanya untuk menonton, tetapi turut serta membantu.

Berkah

Hal yang sama dikatakan Rastami (52), warga Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Baginya, membantu keluarga keraton adalah tugas turun temurun. Ia juga rela meninggalkan sawahnya selama lebih dari tujuh hari untuk membantu para abdi dalem di Keraton Kasepuhan. “sawah saya sudah bisa ditinggal, tak perlu ditengok tiap hari. Lagipula, ikut bantu keraton bisa membawa berkah,” ujarnya.

Setiap kali pulang kampung, Rastami membawa sebotol air bekas cucian pusaka keraton untuk dituang di sawah. Putera Mahkota Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat mengatakan, warga datang secara sukarela. Sebagian dari mereka bahkan berasal dari Subang, Karawang, Ciamis, dan Kuningan. Tak jarang mereka membawa berbagai makanan dan buah-buahan.

Acara mauludan juga membawa rezeki bagi para pedagang keliling . Eceng (28), warga Bandung  yang menjual baju anak-anak di pasar malam Kasepuhan, mengaku bisa mendapatkan hasil kotor Rp. 200.00 per hari. Padahal ia menetap sekitar 18 hari. “Kami sering berkeliling dari pasar malam satu ke pasar malam yang lain, tetapi yang punya omzet besar memang pasar malam mauludan karena waktunya lebih panjang dan pengunjungnya lebih banyak,” ujar Eceng. (NIT)


KOMPAS, halaman JAWA BARAT, Selasa 10 Maret 2009