Pelal di Cirebon, Sekaten di Yogya

0
969
SULTAN Kanoman Haji Mohammad Nurus hari itu mengenakan baju salur, berkain sarung dan di kepalanya ada blangkon Cirebonan. Ratusan orang di sekelilingnya sedikit demi sedikit maju ke depan ke hadapannya. Kemudian membungkukkan tubuh mereka tanda memberi hormat, bahkan ada juga yang menghaturkan sembah, kemudian menyalami dan mencium tangan Sultan untuk meminta berkah. Mengharapkan restu. Sultan tidak berbicara apa-apa, cuma bibirnya tampak berkomat-kamit sedikit dan kepalanya mengangguk sedikit.

Hari Maulud adalah hari terbuka bagi masyarakat ramai untuk beranjangsana dengan Sultan. Begitu banyaknya orang yang meminta restu kepada Sultan, hingga Haji Mohammad Nurus yang telah tua itu harus beristirahat setiap satu jam. Ketika beliau mengaso, rakyat dengan sabar pula menunggu gilirannya. Antri. Dan pendopo “jinem”, demikian pula anak tangga dan pelataran kraton Cirebon, tetap saja penuh.

Upacara Pelal

Mauludan tahun ini memang betul berada di puncak keramaian. Jauh lebih dari tahun-tahun kemarin. Bahkan perayaan Maulud yang ada di Yogya dan Cirebon hampir-hampir bisa menyaingi upacara kremasi di Bali untuk almarhum Cokorde Gede Agung Sukawati yang pernah jadi raja di Ubud. Karena tahun Dal? Mungkin.

Untuk Mauludan di Yogya, kali ini ada yang istimewa. Mauludan yang juga biasa disebut Sekatenan itu, tahun ini dihadiri pula oleh Buya Hamka dan beberapa orang dari pengurus pusat Majelis Ulama Indonesia lainnya. Di Yogya, mereka mengadakan diskusi tentang arti Sekaten. Dan ini adalah yang pertama kalinya terjadi.

Tapi tentu bukan karena Hamka bila beberapa hari menjelang 9 Pebruari, sulit sekali mencari karcis keretaapi untuk jurusan Yogya. Bahkan di hari Kamis sore, 8 Pebruari, penuh sesaknya orang yang pergi ke-Sala atau Yogya hampir seramai Lebaran. Pagi hari tanggal 9 Pebruari, Yogya macet total. Di Cirebon begitu pula. Hotel-hotel di kota itu panen tamu. Harga satu malam untuk satu kamar Rp 12.500 pun jadi, asal ada kamar. Sebab banyak yang tidak mendapat tempat di hotel dan mereka cukup puas bisa tidur di mobil atau emperan toko-toko sepanjang jalan Karanggetas sampai Pasuketan.

Pusat upacaranya sendiri berada di kraton Kanoman dan Kesepuhan. Tetapi makam Sunan Gunungjati yang letaknya 5 Km sebelah utara Cirebon juga tidak kalah ramai.

Ong Tin Nio

Perayaan Maulud — hari lahir Nabi Mohammad — di Cirebon disebut “pelal”. Karena tahun ini tepat pula jatuh pada hari Jum’at Kliwon, pengunjungnya jadi berlipat ganda. Karena mereka percaya, berziarah dan berdoa di makam Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati di malam Jum’at Kliwon akan mendapat berkah yang berlipat ganda kalau dibandingkan dengan malam biasa lainnya. Tahlilan kali ini dimulai ketika matahari mulai tidur sampai matahari memancarkan lagi sinarnya. Hujan gerimis yang membasahi kompleks makam tidak diacuhkan.

Semakin dekat ke tempat makam, keramaian berubah jadi hiruk pikuk. Belum lagi ramainya orang berjualan kembang, kemenyan, hio, dupa dan beberapa jenis makanan untuk sesajen. Hio dikhususkan bagi pengunjung yang berasal dari Tiongkok, karena mereka juga percaya bahwa Sunan Gunungjati mempunyai seorang isteri Puteri Cina yang bernama Ong Tin Nio.

Penduduk setempat tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena di hampir tiap mulut pintu makam yang jumlahnya ada 9 buah itu, telah berkumpul sekitar 5 sampai 6 orang yang kerjanya meminta-minta (sambil setengah memaksa) dengan ucapan: “Sedekah, Pak. Supaya terkabul!”. Tentu dirogohlah kantong untuk menghindari sumpah dan kutuk dari para “penjaga pintu”.

Keramaian di alun-alun kraton Kesepuhan dan Kanoman sama seperti di Yogya. Sejak awal Pebruari ini, pihak kraton telah memberikan kesempatan bagi para pedagang yang akan berualan di sana. Seorang pedagang kerajinan tangan asal Sala mengaku telah menyewa Rp 240.000 untuk kios yang luasnya 12 x 6 meter selama 10 hari. Di tanah kraton itu ada diperkirakan 150 pedagang yang menggelar rejekinya di situ. Di alun-alun, telah penuh oleh berbagai macam pedagang termasuk juga “kumidi puter”.

Barzanji

“Semua upacara ini tidak dapat biaya dari Pemerintah,” ujar Pangeran Raja Muda Jalaludin, sang putera mahkota. Tambahnya lagi: “Upacara semacam ini berasal dari rakyat dan kami yang menyelenggarakan untuk rakyat.” Karena inilah, sewa kios atau tanah untuk berdagang di tanah kraton berarti sumbangan masyarakat untuk kraton.

Di hari besar Maulud itu pula, kraton dibuka pintunya untuk bisa dilongok oleh masyarakat ramai. Agar tidak masuk dengan cuma-cuma, ditariklah Rp 100 per kepala yang ingin melihat-lihat sebagian dari isi kraton Cirebon. Antara lain bisa dilihat koleksi kereta kerajaan yang bernama Paksi Naga Liman (berupa gambar ular dan gajah), Singa Barong (yang banyak diabadikan di batik oleh Iwan Tirta), berbagai bentuk keris, meriam di zaman Portugis sampai kotak perhiasan (yang tidak ada perhiasannya lagi!) yang berasal dari Tiongkok.

Puncak dari segala upacara yang ada di seputar kraton ketika “pelal”. Yaitu di saat jam 20.00 tiba, di waktu bendabenda keramat milik kraton Kesepuhan diarak keluar kraton dan dibawa ke mesjid. Sementara itu, pusaka kraton Kanoman diarak ke mesjid satu jam kemudian. Di mesjid kraton sendiri, sejak Maghrib jemaah sudah mengadakan “barzanji” untuk mengadakan selamatan menyambut hari lahir Nabi. Upacara “pelal” usai menjelang jam 24.00 malam, yaitu ketika semua benda-benda pusaka itu dibawa kembali ke kraton. Tradisi semacam ini selalu berlangsung setiap tahun sejak puluhan tahun yang lalu. Cuma tahun inilah yang dianggap menonjol, paling tidak dari segi banyaknya pengunjung.


Sumber: www.tempointeraktif.com