Syiah Sampang Kembali Diserang; Dibutuhkan Peran Polri dan Pemerintah Sebagai Mediator Terciptanya Rekonsiliasi Suni dan Syiah

0
566

 

Warga Syiah di Sampang Madura kembali diserang oleh Massa, pada Minggu (26/8). Massa yang berjumlah sekitar 500 orang tersebut menyerang dan merusak perumahan warga Syiah setempat. Dalam penyerangan tersebut 2 orang warga syiah meninggal dunia dan belasan rumah warga rusak.

Menurut keterangan yang dihimpun sejumlah media, warga Syiah diserang oleh orang-orang yang tidak senang terhadap keberadaan mereka. Namun warga Syiah setempat memilih tetap bertahan. Korban tewas tersebut bernama Hamama dan Tohir yang terkena bacokan senjata tajam. Selain itu empat orang juga mengalami luka serius dan enam mengalami luka ringan. Salah seorang yang dikenal sebagai ibunda pemimpin Syiah, Tajul Muluk, terkena lemparan batu dan pingsan.

Peristiwa tersebut dipicu setelah sekelompok orang mengahadang rombongan siswa dan orang tua yang akan mengantarkan anaknya ke Pesantren di pulau Jawa.  Mereka mengancam akan membakar mobil yang mereka tumpangi.

Berdasarkan laporan inilah.com beberapa wartawan yang melakukan peliputan di larang masuk kelokasi oleh sabagian warga lantaran isu adanya dipasangi bom atau ranjau yang teruat dari petasan bom untuk mengamankan rumah pengikut syiah.

Mayoritas Rumah Warga Syiah Rata dengan Tanah

Sementara perkembangan terkini berdasarkan laporan tempo.co,  sudah ada sekitar 200-an warga penganut Islam Syiah mengungsi di gedung olahraga Kabupaten Sampang. Mereka yang mengungsi adalah warga yang rumah dibakar massa dalam penyerangan Ahad kemarin.

Masih menurut data yang dihimpun tempo.co, mayoritas rumah warga syiah rata dengan tanah. Seperti diperkirakan Mab, salah satu warga Syiah, dia memperkirakan lebih dari 30 rumah yang dibakar. “Rumah saya habis, sehelai baju pun tak ada,” ujarnya.

Mab sendiri mengaku tidak tahu pasti penyebab penyerangan itu, namun pada Ahad pagi, saat dirinya berada di dalam kendaraan hendak mengantar anaknya ke pesantren, tiba-tiba kendaraan yang ditumpangi dicegat dua orang warga. Mab ditanya mau dibawa ke mana anaknya.

Mab tak melawan meski dibentak oleh dua orang tersebut, sikapnya itu membuatnya lolos dari amukan. “Ibu-ibu satu taksi dengan saya ikut bantu, jadi saya dibiarkan antar anak saya ke pesantren,” katanya.

Saat baru sampai di pesantren anaknya, Mab mendapat telepon yang mengabarkan keponakannya dibacok orang. Dia pun bergegas pulang. Setelah sampai dirumah, tidak hanya keponakannya yang terluka, tapi rumah dan isinnya juga ludes dilalap api. “Untung anak dan istri saya selamat,” katanya.

Pentingnya Peran Kamtibmas 

Sementara menurut Ketua Komisi III DPR RI I Gede Pasek Suardika, seperti diberitakan mediaindonesia.com, dia menilai insiden kekerasan antarkelompok masyarakat di Sampang harusnya sudah bisa dideteksi sejak awal oleh pihak intelejen. Apalagi, kata dia, peristiwa tersebut bukan pertama kalinya terjadi di daerah tersebut.

Menurutnya, kalau pihak intelejen bisa bekerja dengan baik dan  mendeteksi hal itu sejak awal maka insiden tidak akan terjadi. Pasek mengatakan kalau pada akhirnya timbul korban jiwa berarti aparat tidak hadir dalam masyarakat.

Pasek menegaskan, konstitusi mengamanatkan negara melindungi segenap tumpah darah Indonesia dan polisi dibebankan kewajiban sebagai penjuru dari pelaksanaan itu di bidang Kamtibmas.

Hal senada diungkapkan anggota Komisi III DPR Saan Mustofa, bahwa sudah saatnya Polri dan Pemerintah duduk bersama menyelesaikan persoalan ini. Polri dan pemerintah, menurutnya harus menjadi mediator untuk terciptanya rekonsiliasi antara Suni dan Syiah. (dihimpun dari berbagai sumber)