Tajil Kopi Arab di Masjid Wali

0
874

Bulan Ramadhan selalu membangkitkan berbagai tradisi yang “tidur” sebelas bulan lamanya. Salah satunya adalah tradisi tajil kopi arab di Masjid Abang, atau sering diindonesiakan menjadi Masjid Merah Panjunan, Kota Cirebon. Lazimnya tajil di masjid, seluruh sajian dihidangkan gratis bagi mereka yang datang ke sana.

Tentang Masjid Abang, disebut demikian karena seluruh dindingnya tersusun dari batu bata merah serta dilapisi tanah liat merah bercampur kapur. Hebatnya, baik dinding maupun kerangka kayu berusia sangat uzur.

Berdasar keterangan papan nama di depan masjid, tempat ibadah ini dibangun pada tahun 1460. Artinya, masjid ini sudah berusia lebih dari 500 tahun. Usia ini lebih tua dibandingkan dengan Masjid Demak atau Masjid Cipta Rasa di Alun-alun Keraton Kasepuhan.

Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan berbagai budaya. Ini antara lain terlihat dari pintu gerbang yang mirip gerbang Keraton Majapahit, dan tempelan piring-piring antik asal Eropa dan China di dinding masjid. Sayangnya piring-piring yang ditempel di dinding bagian luar lenyap oleh tangan jahil. Barang yang hilang bukan hanya piring, melainkan juga jam dan lampu antik.

Sebagai masjid tua, ia punya sejarah khusus bagi Cirebon, bahkan bagi perkembangan Islam di Indonesia. Menurut Arsalan (44), putra mantan juru kunci Masjid Abang, masjid itu dibangun bersama oleh Wali Sanga. Masjid yang nama resminya Al Athyah (yang dikasihi) ini merupakan tempat para wali menyusun strategi menyebarkan agama Islam, jauh sebelum mereka memanfaatkan Masjid Agung Demak.

Kopi arab atau kopi gahwa merupakan ciri khas tajil di Masjid Abang. Bertahun-tahun Saanah (63) membuat kopi khas ini untuk disajikan bagi umat. Saanah adalah istri dari Ujang Zahri, mantan juru kunci (kuncen) yang meninggal beberapa tahun lalu. Setiap sore, Saanah dibantu anak-anaknya menyiapkan kopi arab yang sedap dan menyehatkan itu.

Meski bernama kopi arab, bukan berarti kopinya diimpor dari Arab. Bahkan, Saanah mengaku bahan kopi merupakan kopi yang banyak dijual di warung-warung. Disebut kopi arab karena semula pembuatnya adalah orang Arab yang tinggal di Panjunan. Hingga kini di kampung ini banyak terdapat orang Arab.

Saanah sendiri lupa kapan persisnya ia mulai membuat kopi arab. “Sepertinya ada sekitar 25 tahun,” kata Saanah. Semula ia hanya mencoba-coba. Namun, rasanya cocok dengan kopi bikinan orang Arab.

Saanah mengatakan, sebelum direbus, bumbu rempah-rempah direndam, lalu ditumbuk. Setelah air mendidih, bumbu dan kopi dimasukkan dan diaduk hingga kental.

Untuk penyajian, hasil rebusan disaring dulu agar ampas kopi dan bumbu tidak ikut tersaji. Perpaduan dari kopi, jahe, dan rempah lainnya membuat rasanya berbeda dengan sekadar kopi dan gula.

Jika Dewi “Dee” Lestari, novelis, itu pernah mencobanya, mungkin ia akan memasukkan jenis kopi ini ke dalam novelnya, Filosofi Kopi.