Kamis, 24 Oktober 2019

TANGANI TRAFIKING, Butuh Kebersamaan Multi Pihak

Baca Juga

Pertemuan Jaringan Anti Trafiking CirebonBelakangan ini, isu trafiking sudah menjadi isu bersama baik pemerintah, LSM, ormas dan sebagainya. Dengan kemampuan yang dimilikinya, selama ini masing-masing lembaga melakukan kerja-kerja seperti pencegahan, penanganan kasus maupun medorong munculnya kebijakan-kebijakan ditingkat pemerintah. 

 

Namun demikian, dari kerja-kerja yang dilakukan terkadang antara satu lembaga dengan lainnya berjalan sendiri-sendiri. Sehingga saling tumpang-tindih antara satu dengan  lainnya. Di sisi lain, persoalan yang seharusnya ditangani terkadang terabaikan, karena kesibukan masing-masing lembaga. Dalam hal ini, kiranya perlu ada mekanisme kerja jaringan serta sistem rujukan data dan kasus penanganan secara terpadu. Karena kejahatan trafiking merupakan kejahatan kemanusiaan yang membutuhkan penanganan bersama dan kerjasama antar multi stakeholder.

Demikian beberapa persoalan yang mengemuka di “Pertemuan Jaringan Anti Trafiking”  bertempat di Fahmina Training Centre Jalan Suratno No. 32 Kota Cirebon. Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 22 April 2008 ini, diikuti oleh 30 aktifis  dari berbagai lembaga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Anti Trafiking (JIMAT) Cirebon dan Satuan Gugus Tugas Anti Trafiking (SANTRI)  Indramayu dan sejumlah perwakilan instansi pemerintah daerah terkait.

 

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah aktifis menyoroti lambannya penanganan kasus trafiking yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat penegak hukum di Indramayu dan Kabupaten Cirebon. Seperti yang diungkapkan oleh Masripah, dari FWBMI Indramayu, “meskipun Peraturan Daerah (Perda) Pelarangan Trafiking sudah ada di Indramayu, namun prakteknya aturan tinggal aturan, tapi aparatnya lempar tanggung jawab jika diminta bantuan menangani berbagai kasus trafiking atau buruh migran yang muncul di daerah tersebut”. Lebih lanjut Masripah menjelaskan bahwa aparat berwenang seringkali mengemukakan alasan klasik yaitu karena tidak adanya anggaran.

 

Sri, dari WCC Balqis Arjawinangun, juga mengeluhkan soal komunikasi sesama anggota jaringan yang kadang saling lempar kasus, padahal korban butuh penanganan segera. Sri berharap melalui pertemuan jaringan seperti ini soal pembagian kerja bisa diagendakan, agar lebih banyak lagi kasus trafiking yang bisa ditangani.

Castra, dari FWBMI (Forum Warga Buruh Migran Indoensia) Cirebon memandang perlunya penguatan kapasitas terhadap para aktifis dan petugas pendamping anti trafiking, dalam hal kemampuan paralegal, fundrising dan strategi sosialisasi.

Di akhir pertemuan, untuk memperkuat sistem, efesiensi dan mekanisme kerja jaringan anti trafiking di Indramayu dan Kabupaten Cirebon, para peserta menyepakati perlu ada pertemuan jaringan lanjutan, untuk membahas soal kode etik jaringan.[er]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Pesantren, Kyai dan Eksistensi Negara Bangsa

Oleh: Dr. (HC) KH. Husein MuhammadDengan pandangan hidup kiyai dan nilai-nilai yang dianut pesantren, maka dalam momen-moment sejarah berbangsa...

Santri dan Pelajar Bekali Diri Untuk Mendeteksi Dini Radikalisme

Fahmina.or.id, Cirebon. Salah satu kelompok rentan penyebaran radikalisme adalah pelajar dan santri. Sehingga perlu penguatan keilmuan dan kewaspadaan terhadap para aktor penebar radikalisme.Selain itu...

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada kesan ‘bosan’ untuk membahas tema...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Populer

Pesantren, Kyai dan Eksistensi Negara Bangsa

Oleh: Dr. (HC) KH. Husein MuhammadDengan pandangan hidup kiyai dan nilai-nilai yang dianut pesantren, maka dalam momen-moment sejarah berbangsa...

Santri dan Pelajar Bekali Diri Untuk Mendeteksi Dini Radikalisme

Fahmina.or.id, Cirebon. Salah satu kelompok rentan penyebaran radikalisme adalah pelajar dan santri. Sehingga perlu penguatan keilmuan dan kewaspadaan terhadap...

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Artikel Lainnya