Temu Editor Suara Komunitas

0
602

 

Camat itu sangat berang. Ketika mengetahui tarif KTP di kecamatannya di ekspos melalui website suara komunitas. Berita yang ditulis dinilai menyudutkan pihak Kecamatan. Padahal Fadli, aktivis Rakom Cilacap mengaku Ia hanya menceritakan fakta yang terjadi. Menurutnya ongkos pembuatan KTP telah meresahkan warga di lingkungannya kecamatan Patimuan Cilacap Jateng. Untuk membuat KTP warga harus rela mengeluarkan uangnya sebesar Rp. 30.000. Padahal tarif itu jauh diatas ongkos normal yakni Rp. 15.000, atau bahkan mestinya gratis. Fadli kemudian mencoba mengkritisi mahalnya biaya pembuatan KTP tersebut melalui berita yang ia tulis di suara komunitas. Karena pemberitaan itulah, kemudian Fadli langsung dipanggil Camat setempat. “saya seperti penjahat yang di interograsi saja” terang Fadli. Tetapi akhirnya Camat kemudian mau memberikan hak jawabnya. Dan ia berjanji tarif pembuatan KTP di wilayahnya akan di tinjau ulang, sehingga tidak memberatkan warga.

Lain lagi dengan yang disampaikan oleh Adi. Penggiat Radio Komunitas dari Lombok NTB itu bercerita perihal pengalaman dirinya menulis berita di website suara komunitas soal masih adanya sekolah-sekolah yang kekurangan ruangan belajar. Diluar dugaan, beritanya itu  langsung direspon oleh Dinas Pendidikan setempat. Walhasil, kini telah dibangun 2 lokal ruangan di sekolah bersangkutan. Bahkan direncanakan kedepan akan dibangun 1 lokal lagi, karena ternyata ruangan yang ada masih belum cukup menampung siswa. Dari pengalaman itu, Adi yang juga aktif mengajar itu bertekad akan terus menyoroti masalah-masalah yang muncul terjadi di komunitasnya secara kritis melalui suara komunitas. “yah, kita coba akan terus menulis berita seputar warga, sehingga kepentingan mereka benar-benar diperhatikan oleh para pengambil kebijakan” ungkap Adi.

Dua pengalaman diatas merupakan sebagian dari pengalaman yang diungkapkan dalam acara ‘Pertemuan Editor Suara Komunitas’ yang diselenggarakan pada tanggal 22-24 Maret 2009 di Bumi Perkemahan Gonogondang, Kaliurang, Jogjakarta. Pertemuan editor itu dihadiri oleh 30 orang penggiat radio komunitas dari beberapa wilayah di Indonesia, seperti Cirebon, Majalengka, Indramayu, Cilacap, Makasar, Lombok, dan daerah-daerah lain. Menurut Ahmad Nasir, Direktur CRI Jogjakarta, pertemuan editor ini adalah kali ketiga diselenggaarakan, dan merupakan lanjutan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tujuannya untuk mendorong para penggiat rakom supaya lebih aktif lagi menyuarakan kepentingan komunitasnya melalui suara komunitas. Berdasarkan catatan AJI (Aliansi Jurnalis Indenpendet) website suara komunitas merupakan salah satu media yang banyak dikunjungi orang. “kurang lebih 34.000 orang dalam setiap minggunya membaca suara komunitas” terang Nasir. Dari sekian pembaca, banyak diantara mereka adalah para pengambil kebijakan mulai dari tingkat desa, kecamatan, propinsi, dan pemerintah pusat. Hal itu strategis sebab kondisi dilapangan langsung di ketahui oleh pemangku kebijakan. “Kita berharap mereka respon dan segera mengambil tindakan, paling tidak tahu informasi apa yang terjadi di komuitas bawah” pungkas Nasir.

Sedangkan Budhi Hermanto, Divisi Pembanguan Kapasitas dan Jaringan CRI, mengungkapkan bahwa suara komunitas merupakan media alternative yang menyuarakan akar rumput yang jarang diberitakan oleh media-media mainstream. “Berita-berita yang ditulis komunitas seringkali lebih orsinil, dan diungkap apa adanya” terang Budhi. Selanjutnya Budhi menyebutkan, walaupun komunitas, bukan berarti pengelolaan suara komunitas asal-asalan. Budhi berharap justru kedepan website suara komunitas sepenuhnya akan di kelola oleh komunitas secara profesional, tetap mengacu kode etik jurnalistik, dan yang terpenting adalah tetap kritis, bertujuan advokasi, dan senantiasa berpihak kepada komunitas. “ CRI hanya akan mengambil peran pada wilayah penguatan kapasitas SDM, seperti dari sisi jurnalistik, akses internet murah, dan fasilitasi pertemuan-pertemuan jaringan editor” pungkas Budhi. [ ]