Selasa, 17 September 2019

Tokoh Cemerlang itu Bernama Kiyai Masdar

Oleh: KH Husein Muhammad

Baca Juga

Banyak orang bertanya kepadaku, termasuk dari luar negeri : dari mana dan sejak kapan anda punya pikiran seperti yang anda miliki saat ini? Aku selalu menjawab : Antara lain : aku mendengarkan pandangan, membaca tulisan dan berdiskusi dengan Kiyai Masdar Farid Mas’udi, saat ia menjadi wakil lalu direktur P3M, sekitar tahun 1985-2000 an. Aku sering diundangnya dalam banyak diskusi/halaqah. Aku beruntung diajak ikut Halaqah para ulama NU yang diselenggarakan P3M. Aku juga terlibat diskusi hangat dengan para kiyai, ulama/NU senior, tentang “Kontekstualisasi Kitab Kuning” gagasan Gus Dur, di Watucongol, Muntilan, Magelang, tahun 1988. Lalu ikut serta merumuskan “Sistem Pengambilan Keputusan dalam Bahtsul Masail NU” yang kemudian disahkan dalam Munas NU di Lampung, 1992.

Terganggu Masdar

Aku sering terganggu oleh pikiran-pikirannya yang “nyeleneh”, “Gharib”, “aneh”. Tetapi juga mengagumi nya. Dia sangat berani dan teguh. Salah satu soal yang mengganggu itu adalah perdebatan saya dengannya tentang Akal dan Wahyu. Dia mengakhiri debat itu dengan pertanyaan : “Siapakah yang menentukan “ini” lebih utama dari “itu”, atau “siapakah yang menentukan ini yang benar dan itu yang keliru”?. Lalu katanya : “pertanyaan ini tidak usah dijawab sekarang”. He he he.
Dua bukunya sangat fenomenal dan mengesankan : ‘Islam Agama Keadilan” dan “Islam dan Hak-hak Kesehatan Reproduksi”.

Untuk buku yang pertama “Islam Agama Keadilan”, aku sudah menulis resensinya, dan dimuat di sebuah majalah. Aku sudah lupa namanya. Aku juga sudah menulis panjang tentang teori “Qath’i” – “Zhanni”, dan tentang kaedah “Idza Shahhat al-Mashlah fa hiya Madzhabi” (jika ada kemaslahatan di situlah Madzhabku)”. Kedua tema itu menjadi dasar pikirannya. Aku mengkritisi dua kaedah hukum tersebut dan naskahnya sudah aku kirim ke dia. Sayangnya, kantor P3M kebanjiran. Tulisanku itu hanyut ditelan banjir.

Tahun 1997 (jika tidak salah) aku bersamanya menghadiri Seminar internasional di Kairo yang membahas “Islam dan Kesehatan Reproduksi”. Dihadiri oleh 40 lebih negara Islam. Masdar tampil mempresentasikan pikirannya dalam bahasa Inggris yang fasih. Ia memukau sekaligus mengundang kontroversi.

Selama 5 hari di sana, aku dan dia tidur di wisma Nusantara dan naik ojek mobil berdua pergi dan pulang dari seminar itu.

Tokoh Cemerlang

Kepada salah seorang teman aku bilang : “tokoh NU yang paham kitab kuning dan sangat kuat perspektifnya tentang sistem Kebangsaan (Nasionalisme) dan Demokrasi adalah Masdar F. Mas’udi. Dia murid utama Gus Dur. Dia Kiyai progresif yang bersahaja.

Terimakasih sahabatku Kiyai Masdar atas “gangguan” dahulu kala itu. Selamat untuk sumbangan pikiran keislaman yang disampaikan kemarin di pengadilan yang sangat berharga bagi masa depan Indonesia. Semoga sehat dan berkah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan Gunung Jati disarankan untuk tidak...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua fraksi DPR tergesa-gesa menyetujui revisi...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah membentuk Panja untuk pembasan RUU...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan memberinya naluri-naluri dan hasrat-hasrat seksual...

Populer

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan...

Perjumpaan dan Etika

Oleh: Abdul RosyidiIni masih tentang ‘Ruang Perjumpaan’. Emmanuel Levinas, filsuf kontemporer Perancis percaya bahwa etika bukanlah sesuatu yang abstrak,...

Teori Interdependensi dan Mubadalah

Oleh: Abdul Rosyidi Satu yang paling menarik dan berbeda dari paparan KH Faqihuddin Abdul Kodir saat Bengkel Mubadalah di Malaysia...

Artikel Lainnya