Kamis, 24 Oktober 2019

Tradisi Pembacaan Kitab Hasyiyah Dardir di Pesantren Buntet Cirebon

Baca Juga

Fahmina.or.id, Cirebon. Ribuan santri putra dan putri Pondok Pesantren Buntet Cirebon memadati pelataran Masjid Jami` Buntet. Mereka dengan khidmat memperhatikan dan berusaha memaknai kitab di tangan mereka,  saat KH Tb. Ahmad Rifki membacakan kitab Hasyiyah Dardir Ala Qishah Al-Mi’raj, karya Abi al-Barakat Ahmad al-Dardir. Jumat malam. (15/5).

Pembacaan Kitab Dardir menjadi tradisi tersendiri di Pondok Buntet setiap tahunnya, dalam rangka memperingati Isra dan Mi`raj Nabi Muhammad SAW.  Pengajian kitab ini diwajibkan kepada seluruh santri yang ada di kompleks Pondok Pesantren Buntet, terlihat pula  masyarakat sekitar  dan alumni ikut mengaji bersama.

Menurut penuturan Sesepuh Buntet Pesantren, KH. Hasan Kriyani pembacaan kitab ini dahulu di baca satu malam, seiring berkembangnya zaman kini pengajian dilakukan selama empat malam, dan di khatamkan pada malam tanggal 27 Rajab. “Sepuluh tahun yang lalu peringatan Isra Mi`raj, kitabnya dibaca dalam satu malam dan harus selesai, sekarang sudah menjadi  empat  malam.”  Pengajian ini dilaksanakan tidak sekedar memperingati Mi`rajnya nabi saja, lebih dari itu agar para santri dapat mengerti dan memahami isi kitab itu secara benar. “Hal ini dimaksudkan agar kalian betul-betul menguasai kitab ini dengan membacanya secara benar dan mengerti sehingga ketika di rumaha bisa menguraikan isinya,” sambung Kiai Hasan

Dalam kesempatan itu Kiai Hasan memberikan pesan kepada seluruh santri untuk dapat belajar dengan tekun, tidak menyia-nyiakan waktu ketika ada di pondok. “Jadilah kamu orang yang alim kalau tidak jadi orang yang mau belajar atau mutaalim, kalau tidak orang yang seneng dengan ilmu pengetahuan. Jangan samapai tidak jadi ketiga-tiganya, pinter tidak, mau belajar tidak, mencintai ilmu pengetahuan tidak bisanya mengecam orang lain sangat rugi,” ujar Sesepuh Buntet.

“Rasul bersabda jangan membawa beban yang berat, karena pengunungan itu terjal, bekali  niat yang ikhlas.” Sambung Kiai Hasan.

Pengajian Kitab Dardir  belangsung selama empat malam, yakni malam Rabu, Kamis, Jum`at dan berakhir malam Sabtu. Ditutup dengan doa bersama.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Pesantren, Kyai dan Eksistensi Negara Bangsa

Oleh: Dr. (HC) KH. Husein MuhammadDengan pandangan hidup kiyai dan nilai-nilai yang dianut pesantren, maka dalam momen-moment sejarah berbangsa...

Santri dan Pelajar Bekali Diri Untuk Mendeteksi Dini Radikalisme

Fahmina.or.id, Cirebon. Salah satu kelompok rentan penyebaran radikalisme adalah pelajar dan santri. Sehingga perlu penguatan keilmuan dan kewaspadaan terhadap para aktor penebar radikalisme.Selain itu...

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada kesan ‘bosan’ untuk membahas tema...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Populer

Pesantren, Kyai dan Eksistensi Negara Bangsa

Oleh: Dr. (HC) KH. Husein MuhammadDengan pandangan hidup kiyai dan nilai-nilai yang dianut pesantren, maka dalam momen-moment sejarah berbangsa...

Santri dan Pelajar Bekali Diri Untuk Mendeteksi Dini Radikalisme

Fahmina.or.id, Cirebon. Salah satu kelompok rentan penyebaran radikalisme adalah pelajar dan santri. Sehingga perlu penguatan keilmuan dan kewaspadaan terhadap...

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Artikel Lainnya