Masyarakat sekitar lereng Dunung Ciremai tengah gundah, hutan tempat mereka menyambung hidup tengah terancam ‘dijual’ oleh pemerintah. Lewat pemerintah proponsi Jawa Barat, Kementerian dalam negeri membuka tender pada tahun 2012, dan tender telah dimenangkan oleh PT. Chevron untuk menancapkan kuku-kuku besi raksasa ditempat para petani hutan menyambung hidup. Hari ini, mereka berkumpul, mengkonsolidasikan pendapat, kekhawatiran dan gerakan demi mempertahankan tanah hidup mereka.

Pada tanggal 13 April, hari Minggu pukul 10.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB melakukan pertemuan. Pertemuan ini diinisiasi oleh masyarakat yang tergabung dalam GEMPUR (Gerakan Massa Pejuang untuk Rakyat). Ada sekitar empat puluh tokoh masyarakat dan tokoh agama dari berbagai desa di sekitar wilayah gunung Ciremai, berkumpul di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Bahkan hadir juga Pangeran Kodir salah satu tokoh dari keraton Kanoman Cirebon dengan bersemangat menyampaikan pendapatnya dan menolak tentang rencana proyek geothermal di Kuningan. Begitu juga dengan tokoh masyarakat lain yang hadir, ikut menyampaikan suaranya menggunakan bahasa sunda.

Semua warga yang hadir, sepakat untuk menolak eksploitasi Gunung Ciremai apapun bentuknya, apalagi geothermal yang menggunakan mesin-mesin raksasa yang dapat merugikan tidak hanya masyarakat di sekitar Gunung Ciremai, tapi juga membahayakan kehidupan masyarakat secara luas, terutama daerah-daerah yang menerima asupan air dari lereng Ciremai. Seperti yang disampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat “Setiap ada kehidupan, berarti ada air. Karena air adalah sumber kehidupan. Jangan sampai anak-cucu kita kekurangan air. Jangan sampai nasib kita seperti masyarakat di Lapindo”.

“negara kita sudah dijajah sejak dulu kala, sekarang kita sudah merdeka, tapi negara belum memberikan kemerdekaan kepada warganya, apalagi keadilan, sekarang kita mau dijajah oleh pemerintah sendiri demi kepentingan sesaat”. Kata Ustad Abdurrohman yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut.

lamun urang ayeuna teu berjuang, bade dikamanakeun anak-incu urang”. Dan, warga sangat menyadari bahwa perjuangan melawan proyek geothermal bukanlah perjuangan singkat, “kita harus terus memupuk semangat kita, tidak boleh surut, kalau kita mlempem, Chevron akan segera menyerang kita”. Ujar salah satu tokoh dari Palutungan.

Dalam pertemuan itu, mereka yang hadir bersepakat untuk mengadukan kasus ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) pada pekan berikutnya. Mereka sangat geram, jika proyek geothermal berdiri di gunung Ciremai, bukan hanya masyarakat sekitar yang terkena dampak, tapi masyarakat sekitar kabupaten Kuningan terancam tidak menerima pasokan air bersih, karena debit air yang semakin berkurang. Dan salah satu dari mereka menegaskan hanya ada satu kata yaitu “lawan”, lawan proyek geothermal, itu upaya kami untuk mempertahankan kelestarian hutan. (alif)