Ustadz Mumu Muhyiddin. (PP Kebon Jambu/Facebook)

Mubaadalahnews.com,- Di saat tarik-menarik antara ibadah ritual dan ibadah sosial di kalangan pegiat media sosial Islam, penting sekali untuk menegaskan bahwa ibadah ritual Islam diadakan justru untuk mengintegrasikannya dengan ibadah sosial kemanusiaan.

Demikian dinyatakan salah satu narasumber pada Acara Muludan Milenial; Ngaji Semalam Suntuk di Tunas Cendekia Pesantren Babakan, Ustadz Mumu Muhyiddin. Salah seorang kiai muda yang mengabdikan hidupnya di Pesantren Kebon Jambu al-Islamy,  Babakan Ciwaringin Cirebon.

“Jika kita merujuk pada surat al-Ma’un, sangat jelas bahwa neraka wail itu justru disediakan bagi mereka yang shalat, tetapi tidak menunaikan kewajiban kemanusiaan kepada anak-anak yatim dan orang-orang papa dan miskin”, jelas Ustadz Mumu, dalam acara tersebut, belum lama ini.

Bahkan menurutnya, dengan tegas al-Qur’an menyebut pendusta agama, bagi mereka yang tidak melakukan kerja-kerja sosial kemanusiaan, dan hanya bertumpu pada aktivitas ibadah ritual semata.

“Di dalam kitab ini disebutkan ada hadits yang mengisahkan seseorang yang banyak sholat dan banyak puasa, tetapi lidahnya sangat tajam kepada tetangga, sering mencaci dan menyakiti. Dia masuk neraka, kata Nabi Saw dalam hadits tersebut”, jelasnya lebih lanjut.

Di sisi lain, ketika dikisahkan tentang seseorang yang sholat dan puasanya sedikit, tetapi lidahnya tidak pernah menyakiti tetangga, selalu berbuat baik, dia masuk surga.

Kitab Nabiyurrahmah

Kegiatan utama dari rangkaian acara Muludan Milenial adalah Ngaji Kitab “Nabiyurrahmah” semalam suntuk, mulai jam 20.00 WIB sampai jam 01.30, di halaman depan MTs dan MA Tunas Cendekia, Pesantren Babakan.

Kitab Nabiyurrahmah berisi ayat-ayat Qur’an, teks-teks Hadis, kata-kata sahabat dan ulama klasik tentang prinsip kasih sayang Islam, baik kepada diri, keluarga, tetangga, masyarakat umum, hewan, binatang, lingkungan, dan semesta alam.

Kitab ini ditulis oleh Ustadz H. Faqihuddin Abdul Kodir sepulang mengikuti Seminar Internasional di Universitas Azhar Cairo Mesir, dan bertemu dengan ulama perempuan, penulis kitab-kitab ensiklopedis, Syaikhah Dr. Khadijah Nibrawi.

Hadir sebagai pembaca (qurra’) kitab di acara Ngaji Semalam Suntuk ini adalah KH Husein Muhammad, Nyai Hj. Maryam Abdullah, Nyai Hj. Awanillah Amva, dan sesi terakhir diisi oleh Ustadz Mumu Muhyiddin.

Acara Ngaji ini dihadiri lebih dari 500 hadirin yang datang dari berbagai pesantren Babakan Ciwaringin, dan pesantren lain di Cirebon serta masyarakat umum.

“Kelebihan dari kitab ini adalah semuanya teks teks rujukan, Quran, Hadits, dan aqwal ulama, sehingga sangat otoritatif, kredibel, dan kuat untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama kemanusiaan”, sebut Ustadz Mumu di akhir pengajiannya.[]

 

SUmber: mubaadalahnews.com