Perhatikan surat al-Isra ayat 44 dimana Allah berfirman “langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-nya (Allah). Tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia maha penyantun lagi maha pengampun.” Juga dalam surat Al Fushilat ayat 11 “Kemudian Allah menuju kepada penciptaan langit, dan langit (ketika itu ) masih berupa asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada Bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku suka atau tidak suka !” keduanya menjawab, “kami datang dengan suka hati”.
 

Betapa indah bahasa yang disampaikan Allah dalam dua ayat diatas. Tentu penggambaran ayat semesta sebagai sesuatu yang hidup, bukan hanya bertujuan seni, tetapi untuk mengingatkan kepada manusia bahwa alam semesta adalah sesuatu yang hidup dan memiliki kepribadian. Sehingga manusia perlu menjalin hubungan persahabatan denganya; atau paling tidak alam semesta (bumi dan segala isinya) perlu dipelihara, dijaga kesinambunganya serta dilimpahkan kepadanya rahmat dan kasih sayang.
 
Ingatkah kita pada lagu masa kecil dulu?
Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang ku lepaskan.
Sungai tampak berliku, sawah hijau terbentang.
Bagai permadani dikaki langit.
Gunung menjulang, berpayung awan.
Oh… indah pemandangan.


Atau lagu :
Ku lihat awan, seputih kapas, arak berarak dilangit luas…


Atau senandung ibu kita :
Ku pandang langit penuh bintang bertaburan
Berkelap kelip seumpama intan berlian 

Bisa juga kita jadi teringat lagu Tasya:
Bulan, oh…bulan sungguh indah menawan
Engkau ciptaan tuhan penerang malam kelam
Tak lelah kau bersinar, sampai datang sang fajar.

 
Pada malam yang cerah coba sesekali berbaring ditempat terbuka, pandangi langit dengan taburan jutaan bintang, atau dipertengahan bulan duduk dipantai melihat matahari tenggelam dan memandang bulan purnama. Besok pagi sambut terbitnya matahari di balik gunung. Subhanallah…Sungguh maha besar Allah
 
Coba sekali waktu tanam satu pohon, siram setiap hari, berikan pupuk, tunggu sampai berbunga atau berbuah. Indah…sungguh maha kuasa Allah.
 
Seluruh alam semesta diciptakan untuk digunakan oleh manusia dalam melanjutkan evolusinya. Kehidupan makhluk-makhluk Allah saling berkaitan seperti jejaring laba laba yang satu dengan yang lainnya berhubungan erat. Bila terjadi gangguan pada salah satu bagian jaring, maka makhluk yang berada dalam alam semesta ikut terganggu. Hubungan manusia dengan alam semesta  bukanlah hubungan antara penakluk dan yang ditaklukan atau antara tuan dan hamba, tetapi hubungan kebersaman dalam ketundukan kepada Allah. Karena, kemampuan manusia untuk mengolah alam semesta bukan karena kekuatan manusia (sebagimana mitos Yunani kuno dan yang berlaku dalam faham sekuler) tetapi karena  anugerah dari Allah.Sehinga manusia dituntut untuk mampu menghormati sunatullah atau hukum alam, manusia harus bertanggung jawab dalam pengelolaan alam semesta dan lingkungannya ‘tidak merusak’,  sebagaimana  tugas manusia sebagi khalifah di  muka bumi ini. Kita akan merasa sedih dan berdosa jika melakukan kegiatan yang mengakibatkan kerusakan alam semesta.
 
Besok pagi atau nanti sore, luangkan waktu sebentar :
Tengok ke sungai di  seberang jalan yang hitam, bertimbun sampah, bau…! Lalat bertebaran. Tak usah jauh-jauh selokan di depan rumah yang mampet…  Di puskesmas dan rumah sakit banyak pasien antri terkena penyakit diare, muntaber, kolera, disentri, tipus, banjir dan mati….sia-sia!
 
Atau datangi kawasan indutri textil (atau yang lainnya) yang membuang limbahnya ke sungai, sehingga pagi warna merah, siang warna hijau, sore warna kuning, penduduk sekitar terkena gatal kulit atau sesak nafas, TBC, asma karena polusi air dan udara, sakit dan mati….sia-sia!
 
Bisa juga perhatikan kendaraan yang lewat di jalan sesekali terlihat sampah di buang ke jalan (walaupun bermerk terkenal). Kendaraan dengan asap knalpot yang hitam pekat. Lebih parah lagi para perokok yang membuang puntung korek, abu, asap, dan puntung rokok di sembarang tempat, pohon ditebang tanpa reboisasi, laut dikeruk dengan pukat harimau atau ledakan bom. Hewan di hutan mati…sia-sia! Ikan dan karang di laut mati …sia-sia!
 
Malam hari coba jalan-jalan di tengah kota (di tempat yang agak remang-remang), tapi kalau tidak berani bolehlah beramai-ramai, bisa juga sekali waktu mampir di hotel kelas melati bahkan di bintang limapun, tak sedikit berkeliaran pelacur-pelacur laki-laki dan perempuan, penyakit sosial, virus HIV menjadi AIDS, spilis, kencing nanah (biasanya berobat ke dokter spesilis penyakit kulit dan kelamin). Atau baca di koran, sepasang muda-mudi mati telanjang bulat di hotel, over dosis …sakit dan mati…sia-sia !
 
Boleh juga jalan-jalan  sore santai…mampir di supermarket atau kafe, lihat deretan minuman keras, mabuk…sambil menonton VCD bajakan berisi film porno, besok di TV dibacakan berita pemerkosaan atau tawuran (sampai saling bacok), masuk penjara dan mati..sia-sia!
 
Apakah kita tidak bisa berlaku lebih bersahabat dengan alam semesta yang telah diciptakan Allah untuk kita ? dengan tidak sia-sia …! Apakah kita bisa menjadi manusia yang tidak rusak ? dengan tidak ma’siat..!
 
Sebagaimana Firman Allah dalam surat shaad ayat 27 : “dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan sia-sia (tanpa hikmah)…” Dan surat shaad ayat 28 : “Patutkah kami mengangap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma’siat?
 
Tidak sedikit ayat-ayat al-Quran menyerukan tentang pelestaraian alam, keindahan alam, keseimbangan alam dan sebaliknya tidak sedikit orang yang melakukan pengrusakan, penggundulan, pencemaran bahkan pembakaran alam. Sadarkah mereka melakukan perbuatan itu semua yang mengakibatkan matinya sebagian mahluk Tuhan. Siapa yang bersalah?, pemerintah, pengusaha atau kita. Siapapun orangnya yang  melakukan pengrusakan adalah musuh semua mahluk Tuhan. Wallahu a’lam [Dewi laily Purnamasari, Ir.MM : Direktur APWD Kota Cirebon]

 


(Artikel ini dimuat dalam Warkah al-Basyar Vol. I ed. 11 – tanggal 13 September 2002)