ASYURA

0
848

Asyura (Suro dalam bahasa Jawa) diambil dari kata “Asyara” yang secara literal berarti yang ke 10 (sepuluh). Asyura dalam perbincangan sosial keagamaansebagai tanggal 10 atau hari ke 10. Dan karena dalam sistem kalender Islam Asyura masuk dalam bulan Muharram, maka terma “Asyura” berarti tanggal 10 Muharram. Kata ini (Muharram) berarti dihormati, atau diharamkan untuk berperang. Nabi menyebut salah satu empat bulan yang disebut al Qur-an sebagai bulan-bulan yang dihormati adalah Muharram.

Ada sejumlah peristiwa penting dalam sejarah umat manusia yang terjadi pada hari itu. Sejumlah informasi menyebutkan peristiwa-peristia besar itu, antara lain :

Nabi Adam diciptakan dan bertobat sesudah melakukan kekeliruan memakan buah terlarang, Nabi Nuh, selamat dari gelombang banjir besar di Ur dan mendarat, Nabi Ibrahim selamat dari pembakaran dirinya oleh raja Namrud, Nabi Sulaiman menduduki kursi kerajaan besar, Nabi Yusuf kembali bertemu dengan ayahnya; Nabi Ya’qub setelah dinyatakan saudara saudaranya sudah mati dimakan binatang buas, Raja Firaun dan para pengikutnya tenggelam di Laut Merah dalam pengejaran mereka terhadap Nabi Musa, Nabi Musa diselamatkan dari pengejaran Firaun, Nabi Yunus keluar dari perut Ikan paus. Nabi Ayyub sembuh dari sakit panjangnya,Nabi Isa dilahirkan dan diangkat ke langit

Sebuah hadits menyebutkan :

عن ابن عباس رضي الله عنهماأَنَّ رَسُولَ اللَّه صلى الله عليه وسلم قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَه؟فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم :نَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ.” فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَمَرَ بِصِيَامِه“.(أخرجه مسلم باب صيام يوم عاشوراء)

“Ibnu Abbas, sahabat Nabi menceritakan bahwa manakala Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Asyura. Beliau bertanya : “kalian puasa apa?”. Mereka menjawab : “Ini hari besar, Nabi Musa selamat dari kejaran Firaun dan para pengikutnya, sementara Firaun sendiri tenggalam. Maka Nabi Musa bersyukur dengan berpuasa pada hari ini”. “Nah, kami tentu lebih layak dan patut untuk berpuasa daripada Nabi Musa dan kalian”. Nabi lalu berpuasa dan menganjurkan sahabat-sahabatnya berpuasa pula”.

Tetapi para sahabat Nabi mengatakan: “Nabi yang mulia, itu kan hari raya orang Yahudi dan Nasrani?. Nabi menjawab : “Oh, kalau begitu tahun depan kita tambah satu hari sebelumnya, tanggal 9 Muharram”.

Nabi Muhammad pada tanggal itu (10 Muharram) beliau selalu berpuasa. Beliau mengatakan : “Sesungguhnya hari Asyura termasuk hari yang dimuliakan Allah, barangsiapa suka berpuasa berpuasalah”, dan “Barangsiapa melapangkan keluarganya pada hari Asyura, niscaya Allah akan melapangkannya sepanjang tahun”.

Sebagian kaum muslimin di Indonesia pada hari itu mentradisikan membuat makanan nasi atau bubur untuk dibagikan para tetangga dan fakir miskin. Mereka juga melaksanakan puasa sunnah dua hari, tanggal 10 dan 9 yang biasa disebut Tasu’a, mengikuti Nabi saw.

Dalam sejarah kaum Syi’ah, hari itu menjadi hari yang sangat penting dan agung. Karena pada tanggal itu Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Nabi, dan keluarga serta mereka yang ikut bersamanya terbunuh dan dibantai secara kejam di sebuah daerah bernama Karbala. Ia terbunuh sesudah mengalami isolasi selama 3 hari di tempat itu, oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah. Pada setiap tahun sejak saat itu, para pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, menjadikan hari itu sebagai hari perkabungan internasional.

Sebuah kisah menceritakan : Suatu hari Husein diundang untuk datang ke Irak oleh warga Kufah yang berjanji mendukung kekuasaanya, menggantikan kakaknya Hasan. Dia datang bersama keluarganya dan sejumlah pengikutnya. Di Karbala, beberapa kilometer dari Kufah tentara Yazid bin Muawiyah dalam jumlah besar segera menghadangnya. Perang tak sebanding berlangsung sengit. Husein dan semua anggota keluarganya, kecuali Zainal Abidin Al Sajjad, dibantai. Kepala Husein dipisahkan dari tubuhnya, lalu dibawa ke Damaskus, dan diserahkan kepada Yazid. Yazid kemudian menyerahkannya kepada Zainab yang diusirnya agar membawa kepala itu ke Mesir. Saudara perempuan Husein ini lalu menguburnya di Kairo. Kuburan itu berada di tempat yang kini dikenal dengan Masjid Husein. Sementara tubuhnya dikubur di Karbala, Irak.

Peristiwa Karbala dikenang sepanjang masa oleh muslim Syi’ah sebagai sebuah tragedi kemanusiaan terbesar. Sampai hari ini kaum Syi’ah di seluruh dunia memperingatinya sebagai hari duka nestapa. Hari besar 10 Muharram ini merupakan ritus keagamaan terpopuler dan paling besar dalam tradisi kaum Syiah. Sebagian daerah di Indonesia memperingatinya melalui apa yang disebut dengan tradisi Tabot atau istilah lainnya.

Di Kairo, Mesir terdapat masjid Husein di bilangan yang populer disebut dengan namanya : Husein. Ia berdampingan dengan masjid (Jami’) Al Azhar. Sebagian kaum Syi’ah meyakini bahwa sebagian tubuh Husein dikubur di sana. Sampai hari ini kuburan itu diziarahi banyak orang laki-laki dan perempuan. Di tempat itu mereka berdoa dan menangisi Sayyid Husein. “Waa Husaynaaah….. Waa Husaynaaah” (Duhai Husein…. Duhai Husein….Oh Husein). Suara-suara duka itu memang memilukan hati. Mereka mencintai cucu Rasulullah saw, dan menyesali kematiannya yang tragis itu.

Kaum Sunni juga mencintai cucu Rasulullah ini, demikian pula mencintai anak-anak dan menantu beliau ; Ali bin Abi Thalib. Mereka selalu menyanyikan bait-bait yang berisi puji-pujian bagi mereka dalam banyak keadaan dan situasi. Sebagian orang mengatakan bahwa membaca syair ini pada orang yang sakit demam diyakini bisa menyembuhkannya. Pada waaktu aku masih kecil, aku diajari syair itu :

 

 لِى خَمْسَةٌ أُطْفِى بِهَا حَرَّ اْلوَبَآءِ الْحَاطِمَة


الْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَضَى وَابْنَاهُمَا وَفَاطِمَ

Aku punya Lima orang kekasih

Berkat mereka sakit panasku sembuh

Al Musthafa (Muhammad Saw)

Al Murtadha (Ali bin Abi Thalib)

Dua orang anaknya : Hasan dan Husein Dan Fatimah