Cirebon, 02 April 2008, pesantren Buntet bekerjasama dengan The Wahid Isntitute, Lakpesdam Cirebon dan juga didukung penuh oleh kawan-kawan dari Fahmina Institute Cirebon menyelengarakan Halqah Maudhu’iiyah yang membahas seputar Pandangan Pesantren Mengenai Radikalisme Agama. Narasumber yang akan dihadirkan adalah KH. Syarif Utsman Yahya, Moqsith Ghazali dan Hamami Zadah.

Menurut panitia, halqah ini diselenggarakan dalam rangka memperingati haul al-marhumiin para ulama Buntet pesantren. “Halqah ini diselenggarakan sebagai pra acara haul Buntet, yang haulnya sendiri akan diselenggarakan pada tgl 04 April 2008”, kata Mamay Mujahid, mewakili panitia. Halqah ini mengangkat tema seputar radikalisme agama, karena memang fenomen radikalisme adalah fakta keberagamaan di tanah air yang belakangan mncul dan mewarnai opini masyarakat mengenai Islam.

 

Padahal pesantren selama ini mengopinikan Islam sebagai agama yang ramah dan berorientasi pada kemashlatahan bukan pada sikap-sikap radikalis atau extrimis. Karena itu tema ini diangkat, dalam rangka meluruskan dan mendudukan persoalan radikalisme secara benar, dan agar ini tidak lagi jadi arus utama Islam Indonesia.

Pertama-tama acara akan dibuka secara seremonial oleh pihak panitia. Selanjutnya diisi sessi presentasi narasumber yang langsung diikuti dengan sessi diskusi. Acara ini akan diikuti oleh kiai-kiai pesantren yang ada di wilayah III Cirebon, baik kiai sepuh maupun kiai muda.

Setelah istirahat siang, acara akan dilanjutkan dengan diskusi difasilitatori oleh Rumadi. Dalam sessi ini selain akan membahas berbagai persoalan pesantren dan radicalism, juga akan dibahas langkah-langkah strategis ke depan. Selamat haul Buntet, selamat berhalqah, semoga kejayaanmu bukan hanya karena kejayaan para pendahulu. (AM)