Cirebon, Kota Ziarah Kaya Warna

0
1041
{mosimage}SAMPAI beberapa waktu lalu, orang mengenal Cirebon sebagai Kota Udang. Sebutan ini sebenarnya bukan pujian. Bahkan tak lagi relevan mengingat produksi udang, dan perikanan pada umumnya, boleh dikata sudah mendekati nol sekarang. Lebih dari sekadar produsen udang, terutama dulu, Cirebon adalah kota terpenting dalam sejarah Islam di Jawa, yang membuatnya kaya akan daya tarik bagi wisatawan lokal.

Bangunan bersejarah berserakan di sini, termasuk tiga keraton dan satu kompleks makam besar—Makam Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Sembilan, yang juga memiliki nilai spiritual dan menjadikan Cirebon pusat ziarah terpenting di Jawa.

Cirebon kota kecil yang hanya berjarak tiga jam perjalanan berkereta api dari Jakarta, atau empat jam bermobil. Namun, memiliki corak budaya yang kaya karena menjadi persimpangan lalulintas niaga sejak dulu. Persis terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, baik bahasa maupun budayanya agak khas: ”Tidak Jawa, Tidak Sunda” atau ”Ya Jawa, Ya Sunda”.

Lebih dari itu, sebagai kota pelabuhan tua, Cirebon juga menerima pengaruh dari negeri dan kebudayaan yang luas dan jauh, termasuk dari China. Seperti Semarang dan Gresik, Cirebon adalah salah satu perwujudan budaya Sino-Jawa yang menonjol, baik dalam arsitektur maupun jenis makanan.

Semua situs bersejarah di Cirebon, dari ketiga keraton, kompleks makam Sunan Gunung Jati, masjid-masjid agung, sampai tempat pemandian Sunyaragi memiliki ornamen utama berupa porselen asal China. Ini semua mewakili watak Cirebon sebagai sebuah kota yang kosmopolit dengan warganya yang terbuka untuk siap menerima pengaruh manapun.

Sebagai daerah pesisir, Cirebon sejak sebelum dan sesudah masuknya pengaruh Islam merupakan pelabuhan yang penting di pesisir Utara Jawa. Kota ini menjadi sangat terbuka bagi interaksi budaya yang meluas dan mendalam. Cirebon menjadi tempat bertemunya berbagai suku, agama, dan bahkan antarbangsa.

Menurut Pustaka Jawadwipa, pada 1447, kaum pendatang yang kemudian menjadi penduduk Cirebon saat itu, berjumlah sekira 346 orang mencakup sembilan rumpun etnis, seperti Sunda, Jawa, Sumatera, Semenanjung, India, Parsi, Syam (Siria), Arab, dan China. Perkawinan budaya dan sinkrentisme menjadi keniscayaan tak terelakkan.

Keragaman etnis ini masih ada jejaknya hingga kini. Di Dukuh Kebon Pesisir, dekat pelabuhan,  berbagai kelompok etnis tersebut di atas berbaur satu sama lain, saling melengkapi. Jejak fisiknya dapat kita lihat dalam perpaduan pengaruh Hindu-Budha, Cina, Islam dan Barat—di samping tetap adanya budaya leluhur—menyatu yang kemudian membentuk struktur peradaban yang khas.

Cirebon sendiri memang berasal kata dari Caruban atau tempat pertemuan atau persimpangan jalan. Ada juga yang mengatakan nama itu berasal dari kata carub dalam bahasa Jawa yang berarti campuran. Ada pula kemungkinan terpengaruh bahasa Sunda yang berawalan Ci (berarti air atau aliran sungai) karena berada di muara sungai, kota ini pun lama kelamaan disebut Cirebon. Yang lain lagi mengatakan Cirebon berasal dari kata yang bermakna sungai yang mengandung banyak udang (rebon berarti udang kecil).

Cirebon menerima pengaruh manapun dan meramunya menjadi budaya yang unik, sekaligus kaya warna. Identitas yang campur-aduk itu kemudian tercermin dalam berbagai produk budaya, dari kain batik, seni boga, seni pertunjukan, hingga bangunan-bangunan ibadah Dari makanan hingga kerajinan, dari tari hingga tradisi, dari arsitektur hingga spiritualitas, Cirebon tidak terkalahkan dari kota-kota lain di Jawa dalam hal kekayaannya.

Landmark dan bangunan lama, bahkan termasuk keraton dan makam penting, tidak cukup terawat. Namun, nilai kesejarahannya masih bisa dirasakan. Ada tiga keraton di kota ini: Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan yang merupakan buah dari konflik dan intrik yang diciptakan Kolonial Belanda pada Abad ke-18. Wisatawan masih banyak berkunjung ke warisan monarki Islam ini, terutama ke Kasepuhan dan Kanoman, meski kondisinya makin muram.

Dari ketiga keraton yang ada di Cirebon, Kasepuhan paling terawat, paling megah, dan paling bermakna dalam. Keraton ini dibangun pada 1529 sebagai perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati, yang dibangun Pangeran Cakrabuana, pendiri Cirebon pada 1445. Keraton Pakungwati terletak di belakang Kasepuhan.

Keraton ini memiliki kereta yang dikeramatkan, Kereta Singa Barong. Sejak 1942, kereta tidak boleh dipergunakan lagi, dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan. Penguasa pertama di Keraton Kasepuhan adalah Syech Syarief Hidayattulah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Dari tokoh inilah, kisah tentang daerah bernama Cirebon itu bergulir.

Keraton Kanoman berumur lebih muda. Keraton ini menyimpan kembaran dari Kereta Singa Barong yang ada di Kasepuhan, bernama Paksi Naga Liman.

Tapi, daya tarik utama bagi para wisatawan penziarah adalah sejumlah makam terkenal di kota ini. Yang paling utama: Kompleks Makam Sunan Gunung Jati, yang berisi tak hanya jasad Sang Sunan tapi juga jasad Pangeran Fatahilah, panglima yang menaklukkan Batavia.

Di samping makam itu, Cirebon memiliki Makam Nyi Mas Gandasari, seorang murid Sunan Gunung Jati dalam penyebaran agama Islam; Makam Syekh Magelung Sakti, pendekar yang disegani; serta Makam Talun, atau Mbah Kuwu Cirebon, pimpinan tertinggi di wilayah Cirebon.

Namun, atraksi arsitektur utama Cirebon ada pada dua masjid kunonya. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang berada dalam kompleks Keraton Kasepuhan, termasuk mahakarya dalam bangunan kayu dengan ukiran yang mencengangkan. Masjid itu berdiri pada 1549.

Masjid lain tak kurang nilai sejarahnya: Masjid Panjunan. Ukurannya kecil namun memukau. Inilah masjid tertua di Cirebon, dan mungkin salah satu yang tertua di Jawa, yang menjadikannya unik. Berdiri di sebuah pojok bagian kota tua Cirebon, masjid ini menyimpan sejarah panjang. Dia didirikan pada 1453, lebih tua dari Masjid Agung Demak (1477), Masjid Menara Kudus (1530), dan Masjid Agung Keraton Kasepuhan Cirebon sendiri (1549). Masjid tertua kelima di Indonesia.

Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok di masjid ini sehingga dia juga sering disebut Majid Merah. Bangunan bata ini merupakan warisan arsitektur kuno Hindu-Majapahit.

Masjid ini terletak di kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik proselen dan didirikan oleh Pangeran Panjunan yang merupakan murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Sembilan Wali, penyebar Islam di Jawa. Menurut risalah kuno Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok pendatang Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.

Meski nuansa Arab tak terelakkan bila dilihat tradisi minum gahwa, ornamen masjid ini, seperti bangunan kuno lain di Cirebon, sangat kental dipengaruhi oleh seni tradisional Tionghoa. Piring-piring porselen asli Tiongkok menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon dan bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di kota itu.

Sebuah legenda menyebutkan, keramik Tiongkok itu merupakan bagian dari hadiah kaisar China ketika Sunan Gunung Jati menikahi putri sang kaisar yang bernama Tan Hong Tien Nio. Tak jauh dari masjid itu terdapat kuil Buddha kuno–Vihara Dewi Welas Asih, yang didominasi warna merah juga.

Seperti kota Cirebon sendiri, Masjid Panjunan mewakili sikap kosmopolit hasil persilangan budaya sejak dahulu kala. Simbol lain dari percampuran budaya ini juga nampak dalam ornamen kereta Paksi Nagaliman. Kereta kebesaran kesultanan Cirebon di masa lampau itu berbentuk hewan bersayap, berkepala naga, dan berbelalai gajah (ganesa). Hal itu menyiratkan makna bahwa budaya Cirebon terbentuk dari tiga kekuatan besar, yakni kebudayaan Cina (naga), kebudayaan Hindu (gajah), dan kebudayaan Islam (liman).

Pengaruh Tionghoa sebenarnya tidak hanya menancap dalam arsitektur, melainkan juga dalam seni topeng yang karakternya mirip tokoh Opera Peking; dalam seni batik Trusmi; serta dalam seni lukis kaca yang masih hidup sampai sekarang.

Cirebon mewakili sejarah pertemuan Islam-Tionghoa yang sangat mewarnai kota-kota pesisir utara Jawa, dari Banten hingga Gresik, kota-kota yang pernah dikunjungi Cheng Ho, seorang panglima dan pengelana muslim dari Dinasti Ming.

Cheng Ho tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Indonesia yang dulu Nusantara. Budaya Sino-Jawa membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho dan Tionghoa Islam lain dengan Jawa.

Pada 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring bertuliskan ayat Kursi yang kabarnya masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pengaruh China juga terasa baik dalam makanan serta seni rupa. Bagi pecinta makanan, Cirebon juga menantang sebagai tujuan wisata kuliner. Nasi Jamblang, Nasi Lengko dan Empal Gentong merupakan jenis makanan populer dan khas kota ini. Nasi jamblang terdiri atas nasi yang dibungkus daun jati dilengkapi aneka lauk seperti paru, daging, tempe, tahu disertai dengan sambel khas. Nasi Lengko lebih sederhana: nasi putih campur tempe, tahu, mentimun toge dan daun kucai yang ditaburi bawang goreng dan kecap dan bumbu kacang. Empal Gentong mirip soto pada umumnya namun dengan citarasa khas: berkuah santan dipadukan dengan daging.

Cirebon juga memiliki minuman yang khas seperti tjanpolay, sejenis minuman dari sirup yang terkenal sejak dulu, dan teh poci, teh yang disuguhkan dengan teko terbuat dari tanah liat (poci).

Bersaing dengan Yogyakarta dan Solo, Cirebon juga terkenal akan seni batiknya, terutama Batik Trusmi yang dibuat di Desa Trusmi, 15 km dari pusat kota, dalam warisan turun-temurun. Batik Trusmi mempunyai motif yang khas, yaitu gambar kecil dengan warna yang tidak mencolok. Warna dasar yang banyak digunakan adalah kuning gading, coklat muda, abu-abu, hitam, dan hijau. Pola batiknya dikenal dengan nama Megamendung, Wadas Singa, Naga Semirang, dan Taman Arum, semuanya mengandung pengaruh Cina yang menonjol.

Pengaruh yang sama juga sangat kental pada seni lukis kaca, yang masih bertahan hingga kini dan menjadi salah satu kekayaan terpenting seni rupa Cirebon. Para pelukis kaca mewarisi seni kaligrafi yang dimulai sejak zaman Wali Sembilan.

Dengan demikian banyak lapis sejarah yang bisa dinikmati, keluasan ragam seni dan tradisi, Cirebon tidak habis untuk dinikmati sehari-dua hari.***


Sumber: www.beritacirebon.com