Dari Islam Indonesia untuk Kebangkitan Dunia

0
632

Islam di Tengah Peradaban Dunia

Sekarang ini kita mesti rajin menyebarkan Islam sebagai agama damai dan rahmatan lil’ alamin. Karena belakangan muncul kecenderungan fundamentalisme dalam beragama, yang rajin mempromosikan kekerasan untuk berbagai kepentingannya. Kita mesti menekankan Islam yang ramah dan beradab di mata peradaban-peradaban yang lain.

Di dunia sendiri dengan mudah dapat dikatakan ada dua jenis peradaban. Peradaban yang anti agama dan peradaban yang berbasiskan pada transendetalisme agama. Ada dua peradaban anti agama atau anti spiritulitas yang datang belakangan yang dapat kita saksikan, yaitu peradaban Komunisme, dan Nazisme. Itulah peradaban modern yang dibangun berdasarkan paradigma anti spiritualitas. Dan umurnya betul-betul pendek. Peradaban berbasis komunisme hanya berusia sekitar 60 tahun, bahkan kalau dilihat pada kejayaannya mungkin sekitar 40 tahun. Dia lahir akhir dekade ke-2, abad ke-20, persisnya revolusi Bolyswik pada th. 1917 di Rusia, dan berakhir –meskipun masih ada akar yang tersisa– pada tahun 1979. Yang lebih pendek lagi usianya adalah peradaban anti spiritualitas, atheistic radikal, yaitu Nazisme. Nazisme lebih kasar terhadap agama, dan usianya hanya sekitar 15 tahun.

Sementara peradaban-peradaban dunia yang dibangun berdasarkan asumsi keagamaan, meskipun kadang-kadang perilakunya juga sama dengan yang anti agama, sama-sama menyukai kekerasan juga. Tapi usianya sungguh panjang, bisa ribuan tahun. Dan peradaban yang sekarang bertahan di abad 21 ini, hampir sama semuanya, yaitu peradaban yang dibangun berdasarkan asumsi-asumsi transendental.

Sebutlah misalnya Barat, peradabannya bertolak bukan hanya dari Kristiani 2000 tahun yang lalu, tetapi juga dari agama-agama yang sebelumnya. Seperti Mesir Iskandaria, dari Athena, mungkin juga mewarisi ajaran Ibrahim as, melalui Nabi Musa as, yang didikumenter melalui perjanjian  lama. Jadi usianya sekitar sudah 4000 tahun.

Yang kedua peradaban China, itu berusia sekitar 3000 tahun, itu ada Budishme, Confusianisme, yang  menghargai spiritualitas transenden. Kemudian di Hindu, India, itu sudah berusia 3000 tahun. Yang paling muda adalah peradaban Islam, 1 setengah millenium, tepatnya 1500 tahun. Oleh sebab itu, saya kira masa depan peradaban, saya kira adalah masa depan peradaban berbasis agama, bukan lagi peradaban yang berbasis anti agama.

Dari 4 peradaban yang kita sebutkan tadi, dan sekarang yang percaturan yang menguasai dunia –bukan hanya secara budaya, tapi juga ekonomi, militer– yang paling kuat adalah peradaban Barat. Posisi ke-2 dan ke-3 sekarang sedang diperebutkan adalah China dan India, dan yang paling aman adalah di posisi ke-4 itu untuk umat Islam.

Posisi yang paling terbelakang. Dan dalam posisi seperti inilah, maka limbah ketidakadilan dalam relasi global, itu yang paling banyak menerima limbahnya adalah umat Islam. Jadi kalau kita melihat berbagai kekerasan tingkat global, yang diderita oleh bangsa-bangsa muslim, mulai dari Palestina, Libanon, Irak, Afganistan, dan sebentar lagi kemungkinan besar Iran, itu 50% sebabnya atau mungkin malah lebih sebabnya adalah kelemahan yang ada pada umat Islam sendiri. Bukan semata-mata karena kerakusan dan keangkaramurkaan dari pihak lain. Seangkaramurka serakusnya orang lain kalau kita kuat, tidak akan terjadi kedzaliman terhadap kita.

Ada sebuah teori kedokteran yang disebut dengan teori patogin, bahwa sebetulnya di kanan-kiri tubuh ini, itu begitu banyak virus, baik yang bersahabat maupun yang memusuhi kita. Tapi apabila tubuh ini daya tahannya baik, maka virus yang ada dikanan-kiri, yang semula memusuhi jadi bersahabat. Tapi sebaliknya apabila tubuh ini daya tahannya lembek, maka virus yang semula bersahabatpun bisa menjadi musuh kita. Mungkin ini rahasia ibda’ bi nafsik (memulai dari diri sendiri). Orang lain akan memusuhi kita dan akan memusuhi kita, tetapi bila kita kuat dan berwibawa, tidak akan berani mereka sembrono. Cuma kadang-kadang umat Islam menyukai menuding orang lain ketimbang menuding dirinya sendiri. Kata orang menuding 1 jari, tapi semua 4 jari keluar tanpa kita sadari. Sehingga kita sibuk menuding virus di kanan-kiri kita yang jumlahnya tidak terbatas. Tetapi kita melupakan membangun daya tubuh kita sendiri, saya kira ini persoalan mentality. Yang sungguh serius, kita tidak pernah menguatkan diri kita, tetapi rajin mengolok-olok pihak lain yang sudah kuat.

Dari Islam untuk Kedamaian

Bicara soal Islam yang damai, dan seterusnya. memang kita semua sama tahu kalau Islam itu berasal dari kata salam yang artinya damai, atau salom dari bahasa Yunani. Dalam hadits sangat jelas sekali, sudah clear, tidak perlu ditafsiri yang macem-macem. Al-muslimu man salima muslimin min lisanihi wa yadihi. Orang Islam adalah orang yang dapat menjaga mulut dan tangannya untuk rasa damai pihak lain. Kalau sampai orang lain terluka dengan mulut dan tangan kita, berarti kita bukanlah orang muslim seperti yang didefinisikan  Rasulullah SAW. Jadi, perdefinisi Islam adalah anti kekerasan.

Akan tetapi, persepektif yang lebih banyak berkembang, adalah perspektif yang dikembangkan dengan hal-hal yang bersifat simbolik, tidak riil. Maka definisi Islam seringkali definisi yang merujuk kepada konsistensi ibadah mahdlohnya. Al-Islam syahadatu an la ilaha ilallah memang shohih, dan seterusnya,itu yang shohih. Tetapi tidak kalah shohih juga dengan definisi Islam yang versinya lebih substantif. Suatu ketika Rasululloh ditanya,….Ayyul Islam khairun ya rosulullah? keberislaman yang macam manakah yang lebih baik? Rasulullah menjawab  Itha’amut’tha’am, wa isfasu salam ala man arafta wa man lam ta’rif. Keberislaman yang disebut khoiruh (paling baik) itu pertama adalah ith’amutha’am (memberi makan) dalam arti mewujudkan kesejahteraan, terutama ekonomi, baru setelah itu kita bicara soal kedamaian. Yang kedua, ifsaus salam (memberi salam), dalam arti menebar kedamaian (salam) kepada orang yang anda kenal dan kepada orang tidak anda kenal. Kepada orang yang dikenal, karena mungkin satu organisasi, satu partai dan satu bangsa, tapi juga kepada wa man lam ta’rif, kepada orang yang tidak dikenal pun, dia harius merasa damai atas kehadiran kita, karena dia beda organisasi, beda partai, atau mungkin beda bangsa. Jadi kalau ada orang ketika muncul, masyarakat sekitar dan membuat resah dan gelisah, tidak adil, cemas, itu pertanda yang menyakitkan bahwa belum ada keislaman pada dirinya. Islam bukan agama yang menakutkan, dan semakin menakutkan, bukan berarti semakin Islam, sama sekali tidak begitu.

Ada sebuah hadits yang saya kira juga layak direnungkan, abghadul ‘ibad ilallah man kana tsoubuhu khoiron min amallih, tshoubuhu tsoubal anbiya wa’amaluhu amalal jabbarin, artinya hamba yang paling dimukai Allah adalah jik a pakainnya lebih baik dari amalnya, pakaiannya seperti pakaian Nabi tapi perilakunya seperti prilaku preman. Hamba yang demikian disebut abghadul ibad ilallah, hamba yang paling dimurkai Allah.

Dalam hadits yang sampaikan tadi, jelas terlihat bahwa untuk menciptakan perdamaian maka soal memenuhi kebutuhan, yang lebih substil dari kedamaian. Ada kebutuhan material yang harus dijawab terlebih dahulu. Begitu banyak anak-anak remaja atau pemuda, yang gampang direkrut untuk gerakan ini dan gerakan itu, demo ini demo itu, ngerusak ini dan ngerusak itu, karena sekedar mencari penghasilan harian. Inilah yang sesungguhnya terjadi di depan mata kita. Kalau saja mereka lebih sedikit sejahtera, apalagi sekarang lebih terdidik, saya kira tidak akan gampang direkrut untuk tindakan yang bodoh. Nah inilah sesungguhnya pesan dari Rasulullah SAW.

Kekuatan perdamaian, yang tentu (sekali lagi digarisbawahi) harus dibangun berdasarkan tigkat kesejahteraan. Asumsi seperti ini harus menjadi pemenang di republik ini. Republik ini tidak boleh dipegang dan didominasi oleh orang-orang yang cenderung mengaku benar sendiri.

Saya kira kalau saya mencintai NU, itu karena saya memahami bahwa sejak awal NU saya lihat adalah orang-orang yang beragama dengan kerendahan hati, orang-orang yang beragama tanpa suka mengklaim dirinya yang paling benar, dan hanya benar sendiri, sambil menudingkan tangannya kepada orang lain. Saya benar, tapi orang lain mungkin juga. Saya kira ini yang membikin saya secara pribadi jatuh cinta kepada NU. Dan saya ingin di sana terus untuk mempertahankan karakter yang seperti ini.

Karena kita juga menyadari, bahwa orang yang paling saleh secara formil dan paling rajin sembayang 5 X sehari, adalah orang yang minimum 17 kali berdoa setiap harinya, “Ya Allah bimbinglah kami kejalan yang lurus”, apa itu artinya? Sama sekali tidak pantas, orang Islam yang baik merasa bahwa saya sudah berada di jalan yang benar, dan yang lain tersesat. Apa artinya doa, ihdinasshirotol mustaqim?, kalau kita tidak harus rendah hati dalam beragama. Bimbinglah kami di jalan yang lurus, kita masih terus meminta dibimbing kejalan yang lurus, jadi tidak ada sedikitpun ruang bagi kita untuk mengklaim bahwa kita sudah berada di jalan yang benar, apalagi menuding yang lain sesat dan ahli neraka. Kesombongan yang luar biasa. Neraka, saja sudah dilihat belum, ini mengklaim sudah yaang menguasai, aneh bin ajaib. Jadi kalau ada peerubahan visi ke-NU-an, bila mulai ada kesombongan dalam beragama, saya kira harus dikoreksi dengan cepat.

Dari Indonesia
untuk Kebangkitan Islam dan Keutuhan Dunia

Saya katakan dengan tegas Indonesia harus dipertahankan. Kenapa demikian? Karena posisi dunia Islam yang lemah. Karena lemahnya itu kita jadi bulan-bulanan, dan ketika kita sibuk mengatasi kedzaliman orang lain. Kita tidak mengatasinya dengan membangun kekuatan dari dalam, tetapi langsung menghancurkan orang lain, dengan bom rakitan. Sejuta bom rakitan tidak mungkin menghancurkan mereka. Tetapi dengan membangun kualitas yang mencerminkan izzah (kemuliaan), saya kira ini yang harus dibangun.

Kalau dunia Islam masih dengan posisi yang lemah, dan kita sungguh tidak peduli dengan hal ini, saya kira kita berkhianat kepada cita-cita Rasul SAW, unutk menjadikan umatnya sebagai khoiru ummah (ummat terbaik). Saya kira misi yang ada di pundak kita bersama-sama adalah mewujudkan impian Rasulallah untuk mubahin fi kulli umam (membanggakan kalian semua atas umat-umat yang lain). Kalau kita tidak bisa menjadi kebanggaan Rasulallah, berarti kita memalukan beliau di depan para Nabi yang telah datang sebelumnya.

Dalam hal ini, di samping kualitas individu muslim yaang meningkat secara tajam, juga perlu ada satu ikatan kebersamaan yang kokoh. Dunia Islam sekarang lemah bukan hanya pada individu-individu perorangnya, tetapi juga pada individu-individu negaranya juga dalam posisi yang lemah. Hampir tidak ada negara Islam, yang tidak dibawa dominasi dan pendiktean pihak lain. Bahkan negara di dunia Islam yang paling kaya sekalipun, seperti Arab Saudi, justru sepenuhnya dibawah kendali pihak asing. Itu sejak abad ke-19, di bawah dominasi Inggris dan Prancis, dan sekarang sekaligus Amerika. Dan karena secara individu negara juga lemah, secara kolektif juga lemah, maka kita terbuka terhadap kedzaliman pihak lain seperti tidak ada proteksi apapun.

Misalnya saja, Korea Utara itu sudah lama punya senjata nuklir, Israel juga sudah punya senjata nuklir, karena senjata nuklir ini lambang kekuatan sebuah negara. Terhadap Korea Utara itu negoisasi yang terus diutamakan, bahkan dengan tawaran ganti rugi yang luar biasa. Ini tidak terjadi di Irak. Kenapa tidak seperti seperti di Irak, yang baru diduga sudah dihancurkan? Karena Korea Utara ada protektornya yaitu China, tidak mungkin AS menghancurkan Korea Utara, karena China siap membela kepentingannya. Tetapi negara-negara Islam seperti ada di tempat yang terrbuka, yang siapapun boleh menendangnya. Palestina sudah 50 tahun lebih, kemudian disusul dengan Afganistan belakangan, Irak menyusul, dan mungkin sebentar lagi juga Iran. Karena tidak ada satu negara pun dalam Islam yang cukup berwibawa dalam mengatakan “Amerika, jangan begitu, kalau anda melakukan itu, anda harus berhitung dengan saya” enggak ada yang dianggap berwibawa jika memang demikian.

Peradaban Barat sudah punya negara-negara yaang kokoh secara politik, ekonomi, militer ekonomi. Empat dari negara yang memegang hak veto itu adalah Barat, yang rumpunnya adalah peradaban Yudeo Kristianisme. Peradaban China,  Buddhisme, sudah punya senjata nuklir, ini Islam yang punya senjata nuklir baru satu, itu Pakistan, dan itupun hadiah dari Amerika untuk menjaga keseimbangan dari pengaruh India. Jadi bukan untuk kepentingan Pakistan, tetapi untuk kepentingan Amerika.

Satu-satunya negara yang mampu menjadi superpower dunia Islam, dan ini mutlak perlu supaya ada kewibawaan, kiranya hanya Indonesia. Paling tidak karena lima keunggulannya.  Pertama, wilayahnya paling luas diantara seluruh negara Islam, seluas Eropa, letaknya juga sangat srategis, 2/3 dari pelayaran kapal perang dan dagang lewat selat Malaka.

Kedua, kekayaan alam Indonesia juga luar biasa, sekarang ada ditemukan –sebetulnya sudah lama, tapi baru dibuka– sumber energi panas bumi, yang tidak akan perrnah habis, dan itu terbarukan terus menerus dan itu bisa mencukupi hampir dua kali pada kebutuhan energi nasional. Di samping kita juga punya hutan, kalau Arab punya minyak tetapi kita juga punya hutan, kita juga punya kekayaan laut yang luar biasa. Dari laut Arafuru saja yang dicuri satu tahun adalah sekitar 4 M dollar atau sekitar Rp 40 Triliyun. Itu yang dicuri dari satu titik saja.

Ketiga, Indonesia adalah negara yang penduduk muslimnya terbesar di seluruh dunia. Dan yang keempat, Indonesia dianggap negara yang paling siap, untuk mengikuti tata peradaban modern. Itu dengan demokrasi yang dianggap paling matang, meskipun kita lihat dan merasakan masih begitu banyak masalah, tetapi tetap dianggap yang paling maju, karena memang masa depan peradaban modern ya peradaban syuro bay nahum, bukan hanya ditangan segelintir penguasan saja. Itulah tatanan demokrasi.

Tetapi lima keunggulan tadi semua bermasalah. Wilayah yang luas terus diguncang dengan disintegrasi. Teritorial baru belakangan agak tenang, seperti Aceh dan Papua, tetapi punya potensi api dalam sekam terutama bagi Papua.  Letak yang sangat strategis juga belum punya makna, karena hanya menjaga selat Malaka saja itu dibutuhkan 30 kapal Pregag, Indonesia hanya punya tiga buah kapal. Itu pun sudah tua. Selebihnya punya Singapura, Malaysia dan Thailand. Sehingga meekalah yang menikmati keunggulan. Kita hanya bisa menikmati separuh sebelah Barat. Kita kehilangan keunggulan separuhnya.

Kekayaan yang luar biasa melimpah,  juga ternyata bermasalah serius karena korupsi yang masyaa Allah parahnya. Korupsi di negeri ini bukan hanya dikorup dari tangan rakyat lalu disimpan di dalam negeri, tetapi dikorup dan disimpan di luar negeri. Sehinngga dosanya dosa berlipat, yang pertama dosa korupsi, yang kedua dosa menaruh kekayaan rakyat di tangan asing.

Kemudian kekuatan Umat Islam Indonesia yang merupakan yang terbesar di dunia juga bermasalah. Ini baik secara kuantitas, kemanusiaannya maupun visinya ideologinya juga sedang bermasalah. Demokrasi juga dalam ancaman yang mulai serius karena muncul dan menguatnya sikap antagonisme keyakinan, sikap keberagamaan yang sombong, sikap keberagamaan yang tidak rendah hati, sikap keberagamaan yang lebih suka menuding orang lain. Berbeda sedikit, lemparkan ke neraka. Ini juga ancaman keunggulan Islam di Indonesia saat ini.

Bagi umat Islam, tentu saja ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Karena Indonesia bukan hanya negara yang penduduknya Islam, karena sekali lagi negara lainpun memandang dan mendefinisikan Indonesia seperti itu. Islam yang berkembang asal mulanya di Indonesia adalah yang semula saya katakan adalah yang rendah hati, yang mampu melihat ada orang lain juga, meskipun agama berbeda keyakinan berbeda, kita tidak berhak menghabisi mereka. Orang yang paling kafir pun boleh hidup di bumi ini, barangkali karena kita sejak kecil diajari makna Ar-Rohman dan Ar-Rohim. Itu ketika kita ngaji pada Kiai kita di kampung, memberi makna Ar-Rohmaan itukan yang Maha Welas Asih Dunia dan Akhirat, kepada siapapun, orang kafir dan mukmin. Dalam hal ini, orang kafir berhak menghirup udara Allah, berhak menginjak bumi Allah, juga berhak meneguk airnya Allah SWT.  Bahwa nanti karena keimanannya, kekafirannya, itu akan diperlakukan berbeda, itu urusan nanti di akhirat. Saya kira makna yang tidak kita sadari sejak kecil itu sesungguhhnya bermakna cukup dalam. Karena bermakna bahwa kita tidak boleh mendiskriminasikan orang lain hanya karena perbedaaan agama, apalagi hanya beda sub keyakinan agama.

Tetapi paham yang damai dalam beragama kini dalam ancaman. Karena tumbuhnya fundamentalisme, ekstrimisme dan radikalisme. Umat beragama lalu penuh dengan klaim kebenaran untuk dirinya sendiri sekaligus diikuti dengan tudingan kepada pihak lain sebagai orang yang tidak berhak hidup di bumi Allah ini. Kalau ini terus berkembang, maka, bisa dipastikan Bhinneka Tunggal Ika, baik dari sudut agama, keyakinan, tradisi, suku, itu juga akan pecah berkeping-keping, dan ketika Indonesia pecah, habislah harapan dunia Islam, untuk adanya negara yang kuat dan berwibawa di mata Internasional. Karena negara Islam yang lain di luar Indonesia adalah negara-negara yang belum bisa menjadi negara super power. Mungkin secara keseluruhan Arab bisa, tetapi Arab bisa diyakini sampai kapanpun tidak akan pernah bersatu. Ini sekali lagi Indonesia, kita semua memegang harapan masa depan kedamaian dunia.

Jadi bukan hanya kepentingan umat Islam Indonesia kokoh, tetapi juga kepentingan dunia Islam secara keseluruhan sangat membutuhkan Indonesia yang kokok dan maju, dan itu ada di pundak umat Islam, dan kalau kita runut, pundak umat Islam yang memikul tanggung jawab itu adalah pundak umat Islam yang moderat. Mudah-mudahan NU masih memikul tanggung jawab ini.

Memang ada masalah di dalam moderasi, biasanya moderat itu seolah-olah ada penyakit bawaan, untuk tidak militan. Moderat tetapi militan itu kayaknya aneh? Kayaknya aneh, karena dua hal yang tidak pernah atau sulit ketemu. Mungkin karena militan cenderung kita artikan sebagai bertindak secara fisik dan keras. Padahal militansi itu tidak sesederhana itu, militansi adalah istiqomah, dan percaya diri terhadap apa yang kita yakini, hanya minus menuding orang lain saja. Yang perlu dicatat adalah, kadang-kadang sifat moderasi seperti juga seringkali melakukan kekerasan, tapi kekerasan by omission di dalam istilah sekarang ini. Yaitu kekerasan karena membiarkan pelaku-pelaku kekerasan memainkan kekerasannya.

Dari Ikatan Tradisi Menuju Kebangkitan Organisasi

Saya kira langkah yang dibutuhkan dan sangat sederhana untuk kaum moderat, adalah kesediaan atau dalam istilah yang lebih keras militansi untuk mengorganisir diri. Dan mengorganisir diri ini sesuatu kebutuhan mutlak yang secara normatif keagamaan-pun sebenarnya digarisbawahi. Kita melihat dunia Barat, kenapa kokoh? Karena civil societynya di sana kokoh, dan negaranya juga kokoh, dan mereka secara individu negara masih terus membina kebersamaan dengan negara lain. Kurang apa, Inggris, Prancis, German, tetapi mereka butuh kebersamaan lebih luas lagi, membangun Uni Eropa, membangun NATO, AS juga kurang apa, tidak kekurangan apa pun, tapi dia butuh membangun kekuatan dengan aliansi-aliansi kekuatan lain. Kesadaran inilah yang kemudian disebut kesadaran berjamaah. Di dalam hadits Rasulullah SAW dikatakan, alaikum bil jamaah, itu sesungguhnya bukan hanya anjuran berjamaah sholat. Tetapi berjamaah dalam seluruh aspek kehidupan. Karena sesungguhnya sholat berjamaah pun maknanya adalah sholat yang terorganisir. Kalau kita berjamaah hanya di dalam sholat, maka kita akan lemah di luar masjid, bahkan diluar saat-saat  kita di luar menjalankan ibadah saja.

Kita lihat misalnya dunia Kristiani, yang sekarang mungkin secara total sekitar 3 milyar, umat Islam di dunia sekitar 1,3 milyar, Katholik saja hampir sama dengan jumlah umat muslim dunia 1,3 milyar, tapi di Kristen itu, dikalangan agama Nashroni, tidak ada seorang Nashroni yang tidak menjadi bagian dari organisasi keagamaannya. Jadi tidak ada di orang Kristen yang dibilang, “kamu Kristen apa?”, “saya Kristen saja” itu tidak ada. Semua Kristen pasti punya afiliasi, saya Kristen Katholik, saya Kristen Protestan, saya Methodist, saya Baptis, saya Mormon, dst, jadi tidak ada yang ngambang. Sementara umat Islam justru sebaliknya, banyak yang merasa bahwa, misalnya anda Islam organisasinya apa? Jawabnya, tidak, saya Islam saja. Ini salah kaprah yang serius sesungguhnya. Karena ketika orang mengatakan bahwa saya Islam saja, berarti ia tidak punya rumah kebersamaan. Kalau dalam bahasa hadits, ini diumpamakan kambing yang lepas sendirian dan gampang diterkam oleh Srigala.

Karena berjama’ah, umat Kristiani menjadi kokoh. Ketika mereka tergabung dalam wadah-wadahnya yang terkait dengan agama dan tempat ibadahnya, maka mereka menyebut organisasi itu selalu gereja, gereja Katholik, gereja Protestan, Methodist, Baptis, Mormon, segala macem yang terkait dengan gereja.

Mininum ada tiga hal kenapa umat Kristiani harus tergabung dalam wadah keagamaan tertentu. Pertama ketika lahir, begitu di baptis, dia dibaptis di mana, apakah di Katholik, apakah di Protestan, meski datang kepada Kiai organisasi keagamaan. Yang kedua, ketika orang kristen menikah, jika ia tidak tercatat di gereja manapun, tidak akan ada pendeta yang mau menikahkan. Lebih-lebih ketika dia mati, kalau tidak terdaftar namanya di gereja manapun, tidak akan ada orang yang peduli. Dan ini bagi mereka menjadi sangat penting mengabdikan diri kepada organisasi keagamaan. Karena rata-rata orang Kristen hidup di kota yang nuansa individualistiknya kuat.

Kalau kita lihat di kompleks-kompleks kota, tampaknya di kompleks saya misalnya hanya ada dua orang Kristen, tetapi begitu dia meninggal, puluhan bahkan ratusan orang datang. Ini dari mana? Karena ukhuwah jamaahnya kuat sekali. Dan itulah yang menyebabkan mereka dapat menikmati fasilitas dari Allah. Yaitu fasilitas keunggulan dan kemenangan. Kam min fiatin qalilatin gholabat fiatan kashiratanh biidznillah (hadits), biidznillah. Biidznillah itu makna sebenarnya berjamaah, karena mengorganisir diri sesungguhnya maka kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar, karena bil jamaah. Di dalam hadits lain dikatakan, Yadullah fauqal  jama’ah, , artinya kekuatan Allah yang tentu luar biasa itu hanya dinikmati oleh mereka yang mampu mengorganisir diri.

Coba kita lihat misalnya di Indonesia, saudara kita dari kalangan Nasrani itu hanya sekitar 7%, tapi apa dari mereka yang tidak bisa mereka perbuat, dengan kualitas tinggi, apakah bidang pendidikannya, apakah bidang sosialnya, atau bidang ekonominya, mereka sungguh unggul, sekolah terbaik mereka punya, rumah sakit terbaik mereka punya, padahal mereka hanya 7%. Karena mereka bil jama’ah, mengorganisir diri dengan sungguh baik. Saudara kita Kristen di Irian Jaya, yang tentu mulanya hanya 10 orang, 20 orang, paling banyak ratusan, kenapa sejak awal sudah punya helikopter? Karena Kristen yang ada di Irian itu hanya bagian kecil saja Kristen yang ada di Australia, Eropa, di Amerika, dan tergabung secara sistematis, melalui organisasi gereja. Jadi tidak ada yang mustahil karena bil jamaah.

Sementara itu berjamaah umat Islam dalam berjama’ah masih terbatas pada sholat berjamaah di masjid. Ini harus di reaktualisasi, dibawa keluar pintu masjid, jamaah itu dalam arti mengorganisir diri, berjamaah itu berorganisasi. Terserah memilih organisasi apa, itu pilihan yang tidak dapat dipaksakan, tetapi jangan nyempal sendirian. Karena kalau ada batu sendirian di jalan, kalau kecil dilempar, kalau besar di pecahkan, karena mengganggu. Tetapi kalau dia bergabung dengan yang lain, maka batu yang kecil bisa menjadi batu yang banyak bermanfaat. Dalam kaitan ini, kebiasaan salah kaprah umat Islam, tidak mau mengorganisir diri, ini sumber kelemahan yang sangat serius. Dan inilah yang menjadi sebab kenapa umat Islam nasional secara global tidak kompetitif.

Dan kalau kita lihat dari jumlah umat Islam hampir 1,3 M, itu yang relatif sudah terorganisir dengan baik (well organized) itu baru tiga kelompok, yaitu Ahmadiyah, Syiah dan Fundamentalis (salafi atau turunannya wahabi mungkin). Sementara hamparan dari 2/3 umat Islam yang ahlussunnah wal jamaah, atau sunni ini yang paling tidak terorganisir. Mereka sendiri-sendiri, satu-satunya kerangka organisasi sudah ada, itu di Indonesia NU. Itupun kita lihat betapa longgarnya organisasi ini. Dan belum bisa disebut sebagai organisasi. Baru bisa disebut sebagai kerumunan. Kerumunan yang dipersatukan dengan tradisi yang kita warisi secara alami begitu saja.

Saya sering mengumpamakan NU itu ibarat mesjid besar, di dalamnya ada puluhan juta orang. Tetapi ketika Imam mulai takbir di mihrab, yang berbaris lurus dan rapih di belakangnya itu hanya marbot-marbotnya saja. Itu pun tidak semuanya, makmum yang lain itu, semua tadinya sama, sama-sama qunut, tapi sholatnya sendiri-sendiri. Atau bermakmum, berjamaah dengan imam-imam lokal di pojok-pojok masjid. Jadi tidak ada yang namanya kesatuan fikrah (pemikiran) dan harakah (gerakan). Meski jika kita telusuri kenapa bisa begitu? Ini saja sudah dikatakan untung. Karena di Indonesia sudah ada kerangka wadah kebersamaan untuk kelompok ahlu sunnah wal jamaah ini yang namanya NU. Tetapi NU sendiri masih jauh dari memenuhi syarat.

Dari Egoisme Menuju Kebersamaan

Kenapa lemah pada kebersamaannya? Karena kelemahan ini bersumber pada kekuatannya juga. Kekuatan NU secara kultural karena ada kekuatan-kekuatan Kiai yang berpengaruh. Itu tadi saya sebut sebagai ada imam-imam lokal, yang menjalankan jamaah di pojok-pojok sendiri. Ada Kiai-kiai lokal yang punya pengaruh, ini kekuatan NU, tetapi sekaligus menjadi hambatan menguatnya NU. Karena tokoh-tokoh ini yang skornya kalau di bobot itu bisa di atas 10, apalagi yang khos bisa diatas 15-20. Tetapi yang bobotnya 12,15, 20, ini tidak pernah mau dikalikan dengan yang lain.Jadi sampai kiamat, bobotnya hanya 20 saja. Sementara di kelompok lain, orangnya hanya 7 bobotnya, tidak ada yang khos, biasa-biasa saja. Tetapi yang bobotnya rendah itu mau dikalikan mau dijumlahkan, 7 kali 1000 jadi 7000. Tapi di kalangan kita bobotnya 20 bahkan mungkin 50, tapi inginnya sendiri saja. Jadi sampai kiamat tetap saja hanya 50 itu kekuatannya.

Secara psikologis masalah organisasi NU adalah masalah ananiyah (egoisme). Padahal syarat untuk berorganisasi adalah kesediaan untuk meleburkan ana menjadi nahnu. Kalau ana-nya masih tetap bertengger apalagi hamzah-nya masih besar-besar, maka menjadikan ana menjadi nahnu sulitnya luar biasa. Jadi berorganisasi adalah kesediaan untuk meleburkan ananiyah ke dalam nahnuwiyah. Kalau ditelusuri dalam tasawuf ini masalah keikhlasan. Tetapi agak kurang pantas bicara keikhlasan di hadapan kiai-kiai.

Jadi sekarang kalau secara alami ana besar mengalami semakin sedikit jumlahnya. Dan kita tidak bisa menghentikan berkurangnya ana-ana besar di NU, kita tidak bisa merekayasa. Ini alami. Di satu pihak kita mungkin menangisi berkurang atau mungkin habisnya kiai-kiai besar yang berpengaruh. Tetapi di sisi lain tidak ada irodah Allah yang tidak membawa hikmah. Ini adalah kesempatan emas bagi NU untuk betul-betul membangun organisasi. Karena ke nahnuwiyah (kebersamaan) akan lebih gampang dimunculkan dari ana-ana yang kecil, ketimbang ana-ana yang besar. Ini sama halnya dengan kita membangun ‘cor’, mesti butuh batu yang dipecah. Batu kecil tidak perlu dipecah, untuk menjadi bagian dari bangunan. Sedangkan batu besar, harus dipecah terlebih dahulu.

Jadi saudara sekalian, saya kira sekali lagi bahwa moderasi yang dipahami secara pasif, itu dapat menghambat adanya kekuatan umat secara keseluruhan dan ini menjadi kunci kekalahan umat Islam secara global. Jadi dengan demikian maka tantangan terbesar kita adalah bagaimana membangun kebersamaan yang terorganisir untuk hamparan umat Islam yang memiliki kesadaran dan naluri keberagamaan yang rendah hati. Ini mutlak harus dibangun dengan cepat. Mungkin ini memerlukan revolusi juga, khususnya dengan yang berkaitan dengan mental. Mengenai bagaimana meleburkan hamzah ana kedalam nun–nya nahnu. Bagaimana meleburkan egoisme dan menjalin kebersamaan.

Dari Ritualitas Simbolik Menuju Keberagamaan Subtantif

Hal lain yang ingin saya tekankan bahwa keberagamaan yang moderat itu membutuhkan titik tekan yang lebih berat, lebih besar, bukan hanya kepada aturan-aturan formal fiqhiyaah, tapi justru menyentuh pada piwulang-piwulang yang lebih substantif yang sering digumuli oleh disiplin tashawuf. Lemahnya tasawuf ini yang membikin orang beragama dengan keras kepala, beragama dengan sombong adalah beragama yang mengingkari Tashawuf. Tetapi mohon bahwa Tashawuf di sini jangan berhenti pada ritualisme yang keras, tetapi pada akhlaq, mentalitas, sikap bathin. Atau ahwalul qalb dalam istilah Imam Ghozali. Dalam istilah Ta’lim Muta’alim disebutkan sebagai rendah hati, percaya diri, menjaga kebersamaan, penuh semangat berkorban. Itu semua adalah yang harus dibangun. Dan sekali lagi inilah tantangan dakwah kita yang sesungguhnya. Jarang saya dengar dakwah berbicara mengenai mentalitas yang unggul, tetapi lebih menekankan aspek-aspek formal keagamaan, dan mengedepankan garis-garis pemisah antara kelompok yang satu dengan yang lain. Muballigh yang ada nampaknya lebih banyak muballigh-muballigh kepala suku, yang membangun kesetiaan sempit (primordialisme), bukan yang sesuai dengan hadits Nabi SAW Al-musliman saliman muslimun, minllisanihi wa yadihi.

Kiranya perlu ada sublimasi dalam kehidupan beragama. Dan untuk itu, dispilin yang harus dimasuki adalah disiplin ilmu Tashawuf yang lebih menekankan pembinaan akhlaq. Ini bukan sesuatu yang baru, karena sesungguhnya dikatakan dalam hadits Nabi bahwa al-dien husnul khuluq. Beragama itu adalah berbudi pekerti yang baik, berprilaku yang baik. Dikatakan juga dalam kesempatan lain bahwa, “Yang paling sempurna imannya diantara kalian adalah yang paling baik budinya, bukan paling kasar ucapannya”. Saya kira ini yang seharusnya dikumandangkan lebih keras oleh semua pendakwah dan tokoh-tokoh agama.

Dalam agama sendiri selalu saja ada empat unsur utama. Pertama adalah yang  berkaitan dengan keyakinan. Ini sifatnya given dari atas. Orang menyakini begini dan meyakini begitu ialah intervensi dari langit. Dalam bahasa Islam disebut hidayah, yang merupakan hak preogratif Allah SWT. Rasul pun tidak bisa memberi hidayah. Diakatakan dalam hadits, Innaka la tahdi man ahbabta, artinya, “Sungguh kamu (Muhammad) tidak akan bisa menunjukkan orang yang kau cintai sekalipun”.

Kedua, berhubungan dengan ritualitas, peribadatan, ibadah mahdlah. Ritualitas ini simbolisasi dari keyakinan tadi, oleh karena itu ritualitas bukan substantif, tapi perlu sebagai simbol, meskipun perlu dia simbol, oleh karena itu kita tidak boleh fanatik di dalam masalah ini. Saya pikir-pikir, kenapa masalah sholat tidak ada hadits mutawatirnya, mestinya kalau Nabi serius betul untuk mengajari sholat dari A sampai Z supaya jangan ada yang keliru, pastinya beliau pernah membuka kursus, bagaimana sholat yang benar sebenar-benarnya. Setelah kursus, seminggu misalnya lalu praktek, dan sahabat sholat bareng lalu berkeliling mengawasi, dari satu gerak ke gerak yang lain sambil membawa penjalin. Kalau ada yang keliru,langsung peringatkan saja. Itu tidak ada, tidak dilakukan oleh Nabi. Beliau tidak pernah membuka kursus, ketika ditanya bagaimana cara sholat, Nabi bilang, Shaluu kama raitumuni ushalli, maksudnya “ikuti saja deh. saya.” Ritual, dalam hal ini shalat memang penting, tetapi sekali lagi itu simbol.

Oleh karena itu ada peringatan, “fawaylullilmusholin”, celakalah bagi orang-orang yang shalat. Shalat yang terjebak sekedar menjalankan ritualitas saja. Jangan sampai kita tenggelam di dalam simbolisme, seolah-olah itu segala-galanya. Bahkan di dalam hadist shahih disebutkan bahwa kanjeng Nabi ditanya sewaktu shalat. Beliau menjawab juga, jadi kalau saja tidak boleh ada sedikitpun kesalahan, tata cara sholat yang nyebal, sekali lagi pasti Nabi membuka kursus sholat minimal  lima hari berturut-turut, dan diawasi ketika praktek, dan dengan demikian maka pasti diriwayatkan periwayatan mutawatirnya. Tetapi tidak ada hadits mutawatir satu pun yang meriwayatkan itu.

Begitu juga soal Haji, dikatakan bahwa Nabi bersabda: “Khudzuu ‘annnî manâsikakum….”, artinya bagaimana kalian berhaji, tiru saja saya, kata Rasul. Maka ketika ada sahabat bertanya, “Nabi saya bercukur ketika berkorban? Nabi menjawab  “if’al wala harst:”, lakukan saja tidak masalah. Lalu ada sahabat Nabi lain yang bertanya, “Ya Nabi saya telah berkorban sebelum saya melempar jumrah, ini bagaimana? Nabi menjawab sama “if’al wala harst”. Jadi sebenarnya ritualitas atau peribadatan mahdhah seharusnya bukanlah  hal yang harus membuat orang spaneng dan fokus di situ, apalagi menuding oarng lain neraka karena perbedaan tata cara seperti itu.

Yang ketiga adalah code. Code ini adalah etika. Sekarang ini justru seolah yang paling penting adalah aturan-aturan hukum, bagaimana menghukum dan memotong tangan, memenjarakan, bukan itu. Code, itu syariah. Syariat itu jalan kebenaran, jalan keluhuran, yang substansinya  adalah ahlak. Yaitu bagaimana membikin orang lain merasa damai dan tertolong oleh kehadiran kita. Tetapi sekarang kita lebih memahami syariat sebagai aturan untuk menghukumi orang lain. Sesungguhnya itu bagian yang paling permukaan saja.

Dan yang terakhir adalah civilization, membangun peradaban. Peradaban ini adalah reaksi kreatif manusia terhadap lingkungan sosialnya, maka karya peradaban adalah organisasi, aturan-aturan main, struktur. Itulah peradaban. Maka semakin canggih sebuah organisasi, maka semakin menunjukkan masyarakat yang semakin beradab. Semakin terbelakang sebuah komunitas, organisasinyapun semakin lembek.

Yang keempat, unsur peradaban adalah reaksi kreatif terhadap alam dan lingkungan, maka lahirlah sebuah peradaban teknologi berupa bangunan, jembatan, yang meemenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan memenuhi manusia hidup. Sesungguhnya Islam harus mengcover empat unsur diatas, dan peradaban itulah sungguhnya misi kekhilafahan manusia, jadi kakhilafahan manusia itu adalah sesungguhnya misi membangun peradaban, melanjutkan ciptaan Allah,  jangan sejak dulu begitu saja, sampai kiamat masih seperti itu juga.

Saat ini saat yang baik untuk lahir kembali. Ibarat bangunan, umat Islam dan masyarakat Islam Indoneisa khususnya adalah bangunan runtuh. Membangun kembali bangunan yang runtuh, itu bisa menghadapi dua kemungkinan yang berbeda. Apakah keterpurukan menjadi kematian dan dikuburkan. Ataukah keterpurukan itu akan menjadi titik untuk kebangkitan. Tentu pada akhirnya, terserah kita semua.(Abu Bakar)


*Tulisan ini adalah ceramah ilmiah KH. Mashdar F. Mas’udi yang disampaikan pada acara Temu Akbar Alumni PMII Cirebon, 28 Juni 2008 di Hotel Prima.   
**KH. Masdar F Mas’udi adalah salah sorang ketua aktif di PBNU dan juga direktur P3M Jakarta