Meneguhkan Fungsi Radio Komunitas Bagi Perubahan Sosial

0
658
Pelatihan KPA Tahap 3 Berbeda dengan radio pada umumnya. Radio warga (radio komunitas) bukan hanya berfungsi sebagai media siaran pada umumnya, tetapi juga sebagai media bagi rakyat kecil untuk bersuara. Ia bisa menyuarakan suara masyarakat yang selama ini sulit bersuara (voice of voiceless) . Dalam hal ini radio komunitas mesti memiliki keberpihakan yang jelas dan bisa memberikan pendidikan politik bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan kata lain, radio komunitas hendaknya berfungsi menjadi agen perubahan, menyuarakan pembebasan, mendorong masyarakat untuk memiliki kesadaran yang kritis.

Ini dikemukakan Budhi Hermato ketika memfasilitatori pelatihan Kader Pendidik Agama (KPA) III, yang diselenggarakan Fahmina Institute pada tanggal 21-25 Juni 2008 di Hotel Baru Cirebon. Pelatihan ini diikuti 27 peserta yang terdiri dari para Kader Pendidik Agama (KPA) dan Kader Pengerak Warga (KPW) yang berasal dari 9 radio komunitas se-wilayah III Cirebon. Yaitu radio komunitas Bonbar FM (Kota Cirebon), AJ FM (Arjawinangun, Kab. Cirebon), Banyu FM (Kab. Cirebon), Caraka FM (Ciborelang, Majalengka), Palem FM (Kuningan), Bilik FM (Indramayu), Sukajaya FM (Kab. Majalengka), Buana FM (Cangkoak, Kab. Cirebon), dan BBC FM (Babakan, Ciwaringin Kab. Cirebon). Pelatihan ini diselenggarakan sebagai rangkaian dari pelatihan-pelatihan yang telah diselenggarakan sebelumnya.  Adapun yang membedakan pelatihan III dari pelatihan-pelatihan sebelumnya, adalah pada pelatihan ini ditekankan pada perspektif dan parktek jurnalisme kemanusiaan Islam, kata Vera selaku panitia. Vera menjelaskan bahwa jurnalisme kemanusiaan Islam yang dimaksud adalah kerja-kerja jurnalisme dan pemberdayaan warga yang didasari pada nilai-nilai luhur Islam dan kemanusiaan.

Selain Budi Hermanto dari CRI, pelatihan kali ini juga difasilitasi oleh fasilitator dan narasumber ahli di bidangnya, seperti Faqihuddin Abd Kodir, Marzuki Wahid, dan KH. Abbas Bil Yakhsy pengasuh pesantren Nadwatul Ummah Buntet Pesantren. Materi-materi yang disampaikan dan didiskusikan seputar analisa dan advokasi sosial, kesetaraan jender, Islam dan perubahan sosial, dan dakwah tanpa kekerasan. Selain itu, para peserta pun diajak melakukan praktek-praktek jurnalisme, seperti menganalisis berita, membikin tulisan, dan membuat naskah siaran.

Dalam menyampaikan materi advokasi sosial melalui radio, Budi diantaranya menyatakan bahwa: “Sejatinya radio komunitas ada bukan untuk radio itu sendiri, tetapi untuk melakukan perubahan di masyakat. Maka tugas radio dalam pengorganisasian masyarakat adalah mendorong komunitas ke dalam kesadaran kritis, untuk melakukan perubahan, merumuskan masalah dan menemukan pemecahannya sendiri. Radio hendaknya berusaha membuka ruang bagi setiap warga untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, mengevaluasinya, menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan dan juga radio komunitas bisa melakukan fasilitasi berbagai pertemuan warga.”

Sementara itu Faqihuddin Abd. Kodir, mengajak peserta secara partisipatif untuk lebih melihat berbagai ketimpangan sosial yang ada dengan analisis jender. Ini diawali dengan penggalian wawasan kesetaraan jender, yang dilakukan panitia, Vera Shofaryanti.

Selain menggunakan analisis jender, para peserta dikenalkan juga tentang perspektif perubahan sosial dalam melihat hal-hal yang berkembang di masyarakat. Ini disampaikan oleh Marzuki Wahid dengan tema pembahasan Islam dan Perubahan Sosial. Sesi ini dimuali dengan penggalian wawasan peserta mengeai perubahan sosial itu sendiri yang dipandu Ali Murysid. “Perubahan sosial berbeda dengan rekayasa sosial. Perubahan sosial ada karena partisipasi masyarakat, sementara rekayasa sosial ada karena insturkis atau adanya proyek saja”, kata Marzuki Wahid memulai penjelasannya mengenai perbuahan sosial.  Lebih jauh ia menjelaskan bahwa inti perubahan sosial adalah adanya perubahan relasi di masyarakat, yang tadinya timpang menjadi adil. “Kalau cuma tadinya tidak ada televisi, lalu ada televisi, itu belum bisa disebut perubahan sosial, jika tidak ada perubahan relasi ke arah yang lebih adil. Itu hanya perkembangan bukan perubahan”, tegas Mas Zek (panggilan Marzuki Wahid).   

Berikutnya KH. KH. Abbas Bil Yakhsy) dari Pesantren Buntet menyampiakn materi dakwah tanpa kekerasan (rahmatan lil ‘alamin). Mula-mula beliau menjelaskan metode dakwah yang digunakan walisanga di Indonesia, yaitu dengan cara damai dan penuh rahmat. Dari pemberian materi ini di harapkan peserta KPA bisa mendakwahkan Islam yang damai, Islam yang Rahmatan Lil Alaamin melalui media radio komunitas masing-masing.

Peserta terlihat antusias dari hari pertama sampai hari kelima. Di akhir acara para peserta bersama-sama menyusun rencana tindak lanjut (RTL). Dalam hal ini para peserta diharapkan menyusun naskah siaran yang memihak kepentingan rakyat dan juga dapat menyusun program pemberdayaan yang dilaksanakan secara mandiri di radio komunitas masing-masing.[]