Jumat, 13 September 2019

Devi Farida: Pengalaman Mengkampanyekan Toleransi di Desa

Baca Juga

Fahmina Institue telah melakukan pendidikan toleransi kepada para pemuda di wilayah Kuningan dan Cirebon. Salah satu eserta menuliskan pengalamnnya menjadi bagian dari penggerak desanya untuk menyampaikan pengetahuannya tentnag toleransid an perdamaian. Salahs atunya dari Devi Farida asal Kuningan, berikut kisahnya.

___________

Saya Devi Farida,saya dari organisasi masyarakat yaitu IPPNU Kecamatan Pabuaran,saya salah satu peserta dari Pelatihan Kepemimpinan yang dislenggarakan Fahmina Institute di Prima Resort Sangkanurip Kuningan pada tanggal 03-05 Agustus 2019yang lalu. Selain kegiatan ini saya juga pernah mengikuti kegiatan setaman (sekolah cinta perdamaian) waktu itu saya masih sekolah SMA.

Dalam pelatihan tersebut dimana kita anak muda diajarkan tentang bagaimana cara kepemimpinan gotong royong,peran pemuda dalam membangun perdamaian di tiap daerah kita tinggal, mengenal akan kesetaraan gender dan budaya untuk saling bertoleransi dengan baik.

Dalam pelatihan tersebut saya pribadi sangat terasa karena setelah acara tersebut kita sebagai alumni itu harus merencanakan sebuah program di desa untuk menyampaikan nilai-nilai toleransi dan sikap saling terbuka akan keberagaman itu sendiri. Sehingga bagi saya yang dimana saya sebagai seorang pemimpin maka saya selalu berbagi pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan kepada anggota lain.

Saya pun sudah mulai terbiasa dengan keberagaman dan toleransi  terhadap kelompok yang berbeda itu semakin tinggi kecuali kelompok yang ingin memecahbelahkan NKRI, kelompok seperti itu saya tidak ada kata toleransi bahkan untuk menaggulangi atau mencegah kelompok seperti itu organisasi kami sering berdiakusi tentang gender dalam perspektif islam, agar tahu hawa kami tidak terpengaruh dengan kajian yang kelompok mereka bangun dengan “framing hijrah”  yang mengharuskan perubahan budaya Indonesia menjadi Arabia.

Setelah mengikuti kegiatan setaman dan dikuatkan dengan pelatihan kepemimpinan ini saya menjadi lebih toleran dan saya menjadikan agenda untuk diskusi mingguan diisi dengan pemahaman tentang toleransi. Saya menyadari dilingkungan tempat tinggal saya banyak perbedaan baik suku ras agama dan lainnya. Sebelum mengikuti kegiatan Setaman saya tidak pernah berkunjung ke tempat ibadah agama lain bahkan ke masjid Muhammadiyah sekalipun belum pernah. Tapi sekarang saya sudah tidak takut dan anti jika main ketempat ibadah agama lain. Saya lebih semanget berorganisasi baik di kampus maupun dimasyarakat, saya sekarang mendapat amanah untuk menjadi ketua PAC IPPNU Kec. Pabuaran. Sehingga saya jadi lebih semangat untuk mengkampanyekan sikap toleransi Islam baik kepada yang seagama maupun yang berbeda dengan kita.

Selain diskusi mingguan saya juga sedang merencanakan untuk mengadakan kegiatan Setaman untuk masyarakat dilingkungan saya terutama anak muda, karena masih banyak anak muda dilingkungan saya yang belum toleran. Mungkin ipengalaman saya paparkan tentang perbuhan yang dapat saya rasakan.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan Gunung Jati disarankan untuk tidak...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua fraksi DPR tergesa-gesa menyetujui revisi...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah membentuk Panja untuk pembasan RUU...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan memberinya naluri-naluri dan hasrat-hasrat seksual...

Populer

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan...

Perjumpaan dan Etika

Oleh: Abdul RosyidiIni masih tentang ‘Ruang Perjumpaan’. Emmanuel Levinas, filsuf kontemporer Perancis percaya bahwa etika bukanlah sesuatu yang abstrak,...

Teori Interdependensi dan Mubadalah

Oleh: Abdul Rosyidi Satu yang paling menarik dan berbeda dari paparan KH Faqihuddin Abdul Kodir saat Bengkel Mubadalah di Malaysia...

Artikel Lainnya