Fitnah di Balik Fitna

0
762

Demikian halnya perubahan yang dilihat dari latar belakang budaya dan agama. Telah berabad lalu orang Belanda kedatangan para imigran. Ada yang datang terkait dengan kebutuhan tenaga kerja untuk pembangunan dam dan kota seperti dari Maroko dan Turki. Sebagian lainnya datang secara sukarela untuk hidup. Ada juga karena kebijakan politik paska kolonial seperti orang–orang Jawa Suriname dan tak mau kembali ke Jawa.  

Pada mulanya Belanda sangat bangga atas  fakta ini. Mereka menepuk dada  sebagai masyarakat yang plural dan terbuka. Namun para tamu-tamu itu terus bertambah. Sebagian karena beranak pinak sebagian lain dibawa kerabat atau pelarian dari wilayah konflik di Afrika  dan Eropa Timur. Ketika ekonomi di Eropa tumbuh para pendatang itu  menjadi kayu api bagi mesin mesin industri yang menjalankan roda ekonomi Belanda. Namun tatkala terjadi krisis ekonomi global, mereka pula yang segera menjadi sasaran frustrasi penduduk terutama warga kulit putih yang merasa punya hak atas tanah airnya. Lambat laun ini menjadi persoalan yang dirasakan banyak orang. Dan situasi ini menjadi makanan empuk bagi politisi  malas se kelas Wilders sang pembuat film Fitna itu.

Wilders mewakili terutama orang yang merasa kehilangan rasa aman akibat buruknya situasi ekonomi di Eropa dan globalisasi. Dengan datangnya banyak kaum imigran yang kebanyakan datang dari desa-desa miskin dengan budaya yang sangat berbeda menyebabkan situasi di Belanda berubah sekali. Perumahan menjadi kumuh, orang putih yang mampu bisa meninggalkan perumahan yang diisi kaum imigran, dan bekas tempat mereka diambil imigran baru. Orang-orang Belanda miskin yang tak mampu pindah  merasa diasingkan di wilayahnya sendiri. Kejahatan kecil dan besar terus meningkat; banyak anak dari negara non Belanda dengan bahasa yang tidak dikenali kerap berbuat onar yang menakutkan orang-orang tua Londo. Seperti juga di Indonesia, penggunaan jilbab di Belanda semarak dalam beberapa tahun belakangan ini begitu juga jilbab ala ninja yang tertutup rapat. Pengalaman itu kemudian dikaitkan dengan berita-berita tentang terorisme – ada yang ditangkap karena merencanakan mengebom Schiphol, atau merenacanakan mengebom stadion bola; atau pembunuhan sutradara film Leo van Gogh serta banyak yang terang-terangan mengancam akan membunuh Ayaan Hirsi Ali yang bersama van Gogh membuat film Submission.

Dari beberapa sumber yang saya baca, film ini dimulai dengan beberapa “ayat jihad” yang disusul gambaran dari penyerangan WTC 2001. Lalu  muncul orang dengan atribut tertentu berteriak Allah mencintai orang yang membunuh kafir. Teriakan ini diselang seling foto penganiayaan perempuan, anak Palestina yang mengatakan Yahudi lebih buruk dari binatang dan sebagainya. Pada bagian lain dimunculkan statistik yang secara mencolok menunjukkan peningkatan jumlah penduduk Muslim di Belanda. Dengan provokatif film ini mengajak untuk melawan dominasi itu dengan kesimpulan yang serampangan bahwa masa depan Belanda akan terancam oleh penerapan hukum yang berlaku di negara negara Islam; perempuan akan di sunat, anak-anak berdarah- darah seperti anak-anak Syiah di Lebanon saat memperingati hari Asyura pada tiap 10 Muharam, hukum rajam akan diterapkan dsb.
 
Salah satu aspek yang manyakitkan bagi kaum Muslim di Belanda film ini fitnah bahwa semua persoalan yang terkait dengan buruknya situasi di dunia atau di Belanda adalah karena Islam membenci Yahudi dan Kristen dan sumber kebencian itu adalah Al Qur’an. Film itu dengan sangat konyol menyimpulkan bahwa para teroris yang menyerang Amerika, Spanyol dan Inggris itu mendapat dorongannya dari al Quran dan karenanya, demikian film ini menyimpulkan semua orang Islam yang membaca al Quran dengan konsisten akan berbuat demikian pula.
 
Seperti dapat diduga reaksi keras muncul di mana-mana tak terkecuali di Belanda. Sebagian besar bereaksi dan mengutuk film ini sebagai propaganda murahan yang tak berdasar. Namun muncul juga situs dari kelompok radikal yang membenarkan film ini dan menyatakan bahwa muslim sejati memang harus berjihad melawan kaum Yahudi dan Nasrani beserta antek-anteknya. Beberapa pengamat di Belanda menyebutkan Wilders adalah tipe politisi ekstremis yang bermimpi menutup Belanda dari para pendatang dan utamanya ingin melarang orang Islam berimigrasi ke Belanda.
 
Wilders mungkin tak menduga justru akibat film ini dia kini dikucilkan di parlemen dan dikritik di seluruh pers Belanda. Organisasi-organisasi Islam mengadakan diskusi dengan orang Belanda sekuler dan ini menjadi momentum yang baik bagi umat Islam di Belanda untuk menjelaskan tentang Islam dari orang Islam sendiri.  Ini juga menjadi momentum bagi kedua belah pihak untuk menyatakan apa yang mereka rasakan dan mencari jalan keluar berupa rekomendasi-rekomendasi  kepada pemerintah untuk membangun saling pengertian secara mendasar.
 
Hampir duapuluh tahun lalu ketika kasus Salman Rushdie mencuat di Inggris, terjadi perdebatan hebat antara pendapat liberal tentang kebebasan berekspresi dan pihak Islam yang merasa terhina. Aspek positif dari ketegangan itu adalah banyak orang Islam yang berkesempatan mengambil tempat di ruang publik, dan sekarang dunia Barat melihat mereka di media cetak maupun elektronik. Semogalah Belanda juga memetik manfaat serupa dari film Wilders ini; lebih banyak orang Islam menulis di media dan media lebih terbuka bagi mereka.
 
Saat ini Belanda punya dua menteri muda dan sejumlah anggota parlemen Muslim. Ahmad Abu Talib, menteri muda urusan sosial dan lapangan kerja dianggap salah satu politisi Belanda terbaik. Dalam kontroversi ini dia menyatakan dengan sangat simpatik dan rendah hati; ’Kalau orang Belanda non-Muslim takut kepada Islam  pasti bukan tanpa alasan, (ini tentu) ada yang tidak beres, bukan saja pada orang Belanda, tapi dengan kita yang membiarkan agama kita menjadi hal yang menakutkan’.[]


Penulis adalah Aktivis perempuan, sarjana IAIN Jakarta,
Master bidang medical antrophology University of Amsterdam