Sabtu, 14 September 2019

Keraton Kacirebonan Berusia 200 Tahun

Baca Juga

Bahkan, dengan keberadaannya, Keraton Kacirebonan menjadi salah satu kekayaan seni budaya Kota Udang yang juga di lirik turis, baik lokal maupun manca negara. Sebagai bentuk syukur atas usianya yang mencapai hingga dua abad sejak berdirinya di tahun 1808 silam, Keraton Kacirebonan menggelar pengajiaan akbar,  Selasa(1/4) malam di Prabyaksa Keraton Kacirebonan.

Dengan berduyun-duyun, puluhan jemaah pengajian, baik yang berasal dari warga sekitar dan luar kota menghadiri acara tersebut. Terlebih, penceramah yang datang pada pengajiaan yang pertama kalinya di gelar secara akbar ini menghadirkan imam Masjid Baitul Rahman Presiden Jakarta, KH. Drs. Tadjuddin Hasan. Selain sebagai bentuk rasa syukur, pengajiaan itu juga diselenggarakan sekaligus memperingati Maulud Nabi yang jatuh tanggal 20 maret lalu.

Sultan Keraton Kacirebonan, Sultan PR. Abdul Gani Natadiningrat, SE., dalam sambutannya mengemukakan, pengajian tersebut juga sebagai media mempererat jalinan silahturahmi antara pihak keraton dan masyarakat lainnya. Ia juga menghimbau untuk menjadikan momen muludan lebih dari sekedar seremoni, melainkan dapat pula memaknai hakikat dan suri tauladan yang di miliki Nabi Muhammad Saw. Sementara semangat dan cita-cita Sunan Gunung Jati saat mensyiarkan Islam di tanah Cirebon sepatutnya di teruskan umatnya yang hidup di masa kini.

Sementara itu, Taddjudin mengingatkan manusia untuk tidak melupakan Allah itu Maha Mengetahui. Siapa-siapa saja umat-Nya yang pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang Dia berikan. Bagi mereka ini, Allah punya perhitungan yang akan di berikan Nya kelak di akhirat berupa siksa yang pedih, ”tutur penceramah kelahiran Buntet ini.

Sementara bertepatan dengan momen Muludan, Tadjuddin juga mengupas sejarah singkat kehidupan Nabi yang memiliki akhlak sangat terpuji. Hal inilah yang lantas membuatnya disayangi Allah Swt dan menjadikannya pemimpin umat dunia akhirat. Karena itu, bagi siapa pun, entah itu orang kaya atau miskin, tua atau muda pemimpin, atasan atau bawahan, akhlak terpuji merupakan hal paling mulia yang wajib di miliki umat Islam pada khususnya.

”Berbagai persoalan yang belakangan kerap menimpa bangsa ini pun hendaknya menjadi bahan refleksi dan intropeksi diri. Manusia bukan di ciptakan untuk bermusuhan, meski dengan segala perbedaan yang ada. Perbedaan itu sesungguhnya tak berarti apapun di mata Allah Swt karena di hadapan Allah semua sama.

Kita justru seharusnya berlomba-lomba berbuat kebaikan dan menambah keimanan imtaq. Karena itulah yang lebih berarti di hadapan Allah kelak,”ucap Tadjuddin lagi.

Bukan hanya puluhan jemaat, pengajian itu juga di hadiri beberapa pejabat penting daerah, seperti Kapolresta Cirebon, Danlanal, Dandim, ulama, dan sejumlah kerabat keraton.


Diambil dari Mitra Dialog, Jum’at, 4 April 2008. ditulis ulang oleh Ghani Hasyim.

Berita sebelumyaNikah Cina Buta
Berita berikutnyaFitnah di Balik Fitna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan Gunung Jati disarankan untuk tidak...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua fraksi DPR tergesa-gesa menyetujui revisi...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah membentuk Panja untuk pembasan RUU...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan memberinya naluri-naluri dan hasrat-hasrat seksual...

Populer

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan...

Perjumpaan dan Etika

Oleh: Abdul RosyidiIni masih tentang ‘Ruang Perjumpaan’. Emmanuel Levinas, filsuf kontemporer Perancis percaya bahwa etika bukanlah sesuatu yang abstrak,...

Teori Interdependensi dan Mubadalah

Oleh: Abdul Rosyidi Satu yang paling menarik dan berbeda dari paparan KH Faqihuddin Abdul Kodir saat Bengkel Mubadalah di Malaysia...

Artikel Lainnya