Bahkan, dengan keberadaannya, Keraton Kacirebonan menjadi salah satu kekayaan seni budaya Kota Udang yang juga di lirik turis, baik lokal maupun manca negara. Sebagai bentuk syukur atas usianya yang mencapai hingga dua abad sejak berdirinya di tahun 1808 silam, Keraton Kacirebonan menggelar pengajiaan akbar,  Selasa(1/4) malam di Prabyaksa Keraton Kacirebonan.

Dengan berduyun-duyun, puluhan jemaah pengajian, baik yang berasal dari warga sekitar dan luar kota menghadiri acara tersebut. Terlebih, penceramah yang datang pada pengajiaan yang pertama kalinya di gelar secara akbar ini menghadirkan imam Masjid Baitul Rahman Presiden Jakarta, KH. Drs. Tadjuddin Hasan. Selain sebagai bentuk rasa syukur, pengajiaan itu juga diselenggarakan sekaligus memperingati Maulud Nabi yang jatuh tanggal 20 maret lalu.

Sultan Keraton Kacirebonan, Sultan PR. Abdul Gani Natadiningrat, SE., dalam sambutannya mengemukakan, pengajian tersebut juga sebagai media mempererat jalinan silahturahmi antara pihak keraton dan masyarakat lainnya. Ia juga menghimbau untuk menjadikan momen muludan lebih dari sekedar seremoni, melainkan dapat pula memaknai hakikat dan suri tauladan yang di miliki Nabi Muhammad Saw. Sementara semangat dan cita-cita Sunan Gunung Jati saat mensyiarkan Islam di tanah Cirebon sepatutnya di teruskan umatnya yang hidup di masa kini.

Sementara itu, Taddjudin mengingatkan manusia untuk tidak melupakan Allah itu Maha Mengetahui. Siapa-siapa saja umat-Nya yang pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang Dia berikan. Bagi mereka ini, Allah punya perhitungan yang akan di berikan Nya kelak di akhirat berupa siksa yang pedih, ”tutur penceramah kelahiran Buntet ini.

Sementara bertepatan dengan momen Muludan, Tadjuddin juga mengupas sejarah singkat kehidupan Nabi yang memiliki akhlak sangat terpuji. Hal inilah yang lantas membuatnya disayangi Allah Swt dan menjadikannya pemimpin umat dunia akhirat. Karena itu, bagi siapa pun, entah itu orang kaya atau miskin, tua atau muda pemimpin, atasan atau bawahan, akhlak terpuji merupakan hal paling mulia yang wajib di miliki umat Islam pada khususnya.

”Berbagai persoalan yang belakangan kerap menimpa bangsa ini pun hendaknya menjadi bahan refleksi dan intropeksi diri. Manusia bukan di ciptakan untuk bermusuhan, meski dengan segala perbedaan yang ada. Perbedaan itu sesungguhnya tak berarti apapun di mata Allah Swt karena di hadapan Allah semua sama.

Kita justru seharusnya berlomba-lomba berbuat kebaikan dan menambah keimanan imtaq. Karena itulah yang lebih berarti di hadapan Allah kelak,”ucap Tadjuddin lagi.

Bukan hanya puluhan jemaat, pengajian itu juga di hadiri beberapa pejabat penting daerah, seperti Kapolresta Cirebon, Danlanal, Dandim, ulama, dan sejumlah kerabat keraton.


Diambil dari Mitra Dialog, Jum’at, 4 April 2008. ditulis ulang oleh Ghani Hasyim.