Harakah KBNU Cirebon dan Upaya Bentengi Radikalisme

0
789

 

Adanya anggapan bahwa Cirebon sebagai meltingpot, tidaklah berlebihan karena betapa beragam latar belakang masyarkatnya, dari  mulai etnis, suku, budaya, kesenian bahkan agama. Semua hidup harmoni di negri gede (grage) ini. Hal itu di wujudkan dengan beragamnya kesenian dan tradisi Cirebon yang sarat akan makna kebersamaan dalam perbedaan.

Namun keharmonisan ini nampakanya mengalami sedikit gangguan dari beberepa oknum yang tidak mengindahkan perbedaan. Sebab nila setitik rusak susu sebelanga, peribahasa itu kini seolah menodai keberagaman di Cirebon. Radikalime atas nama agama  telah menjalar di berbagai sektor kehidupan masyarakat, terutama pendidikan.

Dalam sebuah diskusi publik bertema Menghalau Faham ISIS, wilayah Cirebon masuk dalam zona merah perihal perkembangan radikalisasi Islam. Hal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Adnan Anwar, di halaman NU Center, Sumber, (15/4/2015).

Kategori zona merah terindikasi dari banyaknya warga Cirebon yang ikut serta dalam tindakan radikal yang berujung terorisme. KH. Usamah Mansur, mengatakan bahwa dari rentetan tindak terorisme di Indonesia sebanyak 27 orang berasal dari wilayah Cirebon, 2 diantaranya  berasal dari Kuningan, 1 orang dari Indramayu, 1 orang dari Kota Cirebon, selebihnya berasal dari Kabupaten Cirebon.

“Ada 27 orang teroris berasal dari Cirebon, dari mulai pemboman Hotel Merriot, pemboman gereja di Solo, kemudian beberapa titik yang berhasil di gerebek Densus 88, salah satu pelaku yang tertangkap berasal dari Cirebon. Maka pantas jika Cirebon termasuk ke dalam zona merah, ini sangat memprihatinkan,” Rois Syuriah PCNU Kab. Cirebon, saat ditemui di kediamannya. Minggu, (1/6/2015).

Di tempat yang berbeda, menurut Marzuki Rais, sekretaris GP. Ansor Kab. Cirebon, mengatakan, kategori zona merah menggambarkan betapa parahnya radikalisme, menurutnya pelakunya sudah tidak bisa di ajak dialog. “Warga Cirebonnya sendiri, sudah berani merusak citra tanah kelahirannya, bom bunuh diri di Mapolresta contohnya,”  katanya.

Tindakan radikalisme kini tidak hanya di lakukan oleh orang dewasa saja, sekarang melibatkan anak usia pelajar. Para pelaku tindakan ini berusaha menanamkan pemahaman mereka kepada para pelajar. Tidak lama ini beredar di kalangan siswa SMU buku panduan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, di dalam sub babnya berisikan seruan untuk berlaku intoleran terhadap agama lain. beruntung buku itu kini sudah di sirnakan.

Harakah KBNU Cirebon  Atas Maraknya Radikalisme

Adalah Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) sebagai wadah besar umat muslim Indonesia yang berkomitmen untuk menebarkan Islam yang ramah dan terus membendung radikalisme di berbagai sudut. KBNU sendiri bukanlah organisasi struktural di bawah struktur PBNU, ia hanya wadah yang timbul dari inisiatif, kesadaran, untuk menjaring kepedulian masyarakat, pelajar, khususnya warga nahdliyin demi menjaga agar tidak terkena virus radikalisme.

KBNU menjadi rumah bersama nahdliyin struktural maupun kultural. Di dalamnya, tak ada sekat, tak ada pimpinan dan bawahan. Semuanya menjadi saudara se-nahdliyin yang punya kepedulian besar terhadap pelajar, mahasiswa, dan pemuda dari jeratan radikalisme.

Dalam konteks Cirebon, KBNU terus berupaya memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk upaya membendung  radikalisme di kalangan pelajar dan mahasiswa (remaja dan pemuda) sendiri, serta masyarakat umumnya. Secara intens dan pro aktif melakukan berbagai kegiatan, mulai dari pemberian wawasan keaswajaan, toleransi antar umat beragama, dan berbagai kegiatan yang bernunasakan keberagaman.

Bagi KBNU, keberagaman bukanlah ancaman, tetapi justru angerah yang harus disyukuri dan disongsong agar membuahkan kebersatuan. Para kiai di pesantren yang berafiliasi dengan NU punya komitmen yang sama untuk terus menyemai Islam yang bernuansakan Indonesia.

            Cirebon ini cukup heterogen keberagamannya cukup besar, terutama enam agama yang ditetapkan  pemerintah semuanya ada di kabupaten. Keragaman aliran keagamaan, dan ormas cukup banyak pula di Cirebon.

Maka NU sebagai ormas terbesar terdorong untuk mampu bergerak sebagai penyeimbang, baik terhadap ormas lain, kemudian sebagai umat Islam terbesar terhadap umat lain.

            “Cirebon wilayah yang cukup heterogen, semua agama dan alirannya ada di Cirebon, maka NU sebagai ormas terbesar di tuntut mampu untuk berperan sebagai stabilisator kehidupan masyarkat,” kata KH Usamah yang juga Ketua FKUB Kab. Cirebon itu.

Menurutnya juga,  orang yang masuk kedalam dunia radikalis ini memiliki banyak faktor, mereka memiliki kemampuan IQ yang cukup mumpuni, yang juga  memiliki power/semangat dan tentunya militansi yang tinggi. Akan tetapi mereka lemah dalam memahami pesan-pesan agama yang benar. “Dengan kemampuan yang mereka miliki, hanya saja kurang memahami nilai agama maka mereka mudah terbawa arus garis keras,” katanya.

            Kadangkalan mereka itu menafsiri ayat secara serampangan. Padahal jelas bahwa Allah SWT. memerintahkan umatnya menjadi yang terbaik, untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemunkaran dengan cara baik pula.  Sekarang ini orang-orang lebih cenderung mengutamakan nahi munkar dari pada menyeru kepada kebaikan. Akibatnya terjadilah tindakan yang disebut radikalisme dan terorisme agama. “Padaha jelas dalam ayatnya kuntum khaira ummatin ukhrijat linna_si ta’muru_na bil ma’ru_fi wa tanhauna’anil munkari wa tu’minuna billahi, ayat itu memerintahkan terlebih dahulu untuk menyerukan kebaikan, perdamaian dan setelahnya baru nahi munkar,” sambungnya.

            Sebagai upaya untuk mencapai umat terbaik dan mampu memnyelami kehidupan dengan harmoni. NU dengan harakah amaliyah-nya   merumuskan beberapa kategori: As Sidqu (akuntable), manusia harus beprilaku jujur kepada siapapun, agar kondusifitaspun terjaga. Kemudian al Amanah (credible), mampu menjadi seseoang yang dapat di percaya. Bersikap al `Adalah (proporsional) artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya, berlaku adil kepada sumua orang.  Berikutnya at Tawasut (moderat), tidak berdimensi ekstrim kanan atau kiri, dalam artian jalan tengah. Lalu at Tasamuh, mampu menghargai yang lain, bertolerasnsi kepada sesam umat manusia. Selain itu kita mampu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan (amar ma`ruf nahi munkar).  Hidup at Tawazun, berimbang dalam memahami agama baik dalil naqli maupun dalil aqli. Harkat amaliyah ini lalu di kukuhkan dengan pengamalan yang al Istiqomah atau  konsisten.

Upaya-Upaya KBNU Membendung Radikalisme

            Sejalan dengan harakat amaliyah NU, beberapa upaya sudah dilakukan KBNU Cirebon dalam upaya membendung radikalisme. Pada tanggal 15 Fabruari 2015 KBNU NU Cirebon keluarkan pernyataan sikap, mengecam aksi demo yang dilakukan ormas Gapas/Al-Manar terhadap pesantren Nurul Quran Weru-Cirebon. Mereka  menuntutan pembubaran paksa terhadap pesantren Nurul Qur`an yang di anggap sesat. Akibat demo itu puluhan santri hufaz terpaksa mengentikan aktifitasnya, pesantrenpun di tutup dengn paksa. KBNU meminta pertanggungjawaban pelaku atas tindakan itu, dan membawa kasus ini ke jalur hukum.

Beberapa waktu lalu KBNU menolak adanya Seminar dan “Deklarasi Anti Syiah di Cirebon”, yang sedianya bakal digelar di komplek Islamic Center, Masjid At-taqwa kota Cirebon, pada hari Sabtu, (4/4/2015). Dalam upaya mecegah pemahaman radikalis menyebar di kalangan masyarakat KBNU menggelar diskusi publik dengan tema “Menghalau Paham ISIS” di halaman NU Center, Sumber, kemarin (15/4/2015).

            Berbagai lembaga pendidikan di setiap tingkatan harus lebih berhati-hati. Beberapa hal dalam pendidikan yang paling menentukan, setidaknya kurikulum dan guru. Kurikulum memuat keseluruhan aktivitas pembelajar di lembaga pendidikan dan guru menjadi fasilitaor tersampainya kurikulum. KBNU akan terus memantau dan memastikan kalau kurikulum di lembaga pendidikan bersih dari potensi-potensi radikalisasi, termasuk kualitas dan kapasitas gurunya, yang tidak berafiliasi dengan kelompok Islam garis keras.

            KBNU Melakukan audensi dengan unsur Muspida, Kemenag, dan Dinas Pendidikan, dengan agenda sosialisasi anti radikalisme. Hasilnya pada bulan Ramadhan tahun ini, KBNU bekerjasama dengan menteri pendidikan Cirebon akan melakukan Pesantren Kilat ke sekolah-sekolah dengan memuat prinsip keislaman yang ramah dan penguatan kebangsaan. Upaya lain, dengan menyuarkan nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman melalui tals how radio RRI Cirebon selama bulan Ramadhan. Penguatan kaderpun dilakukan KBNU dengan membentuk komisariat IPNU-IPPNU di sekolah-sekolah. Upya lain penguatan kader gerakan NU, denga menggelar  Madeasah Ahlus Sunnah wal Jama`ah (Aswaja), selama 3 pertemuan secara berkala.

Unsur terpenting lain dalam upaya membendung radikalisme, yaitu dengan mengundang kia-kiai yang ada di wilayah tiga Cirebon dalam bentuk halakoh (pertemuan) untuk bersama memaparkan dan menjelaskan peta keagamaan yang ada di wilayah tiga Cirebon. Menebarkan cinta damai dengan menerbitkan buletin Aswaja yang akan di sebar masjid-masijd, komunitas pesantren dan kampus-kampus. (Zaenal Abidin)

           

 

Tulisan ini dimuat di Balakasuta Rubrik Fokus volume 36/ Mei-Juli 2015