In Memoriam KH. Syarif Usman Yahya: KYAI PENGAYOM PLURALISME DAN NKRI

0
1035

Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji’uun, sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita akan kembali. Setiap makhluk yang bernyawa pasti telah memiliki batas kehidupannya. Dunia ini memang hanya tempat singgah, numpang ngombe. KH. Syarif Usman Yahya (68 tahun)—yang akrab dipanggil Abah Ayip Usman—tepat pukul 15.45 WIB hari Ahad, 7 November 2010, di RS Sumber Waras Ciwaringin Cirebon dengan tenang dan damai beliau menghadap ke hadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, pencipta dan pelindung kebhinekaan.

Tulisan ini hadir untuk mengenang sebagian jasa-jasa dan perjuangan beliau semasa hidupnya. Tentu tak bisa terjelaskan semua jasa dan perjuangannya dalam tulisan ini karena sangking komplek dan luasnya wilayah pengabdian Almaghfurlah. Perihal ke-kyai-an dan keulamaan Almaghfurlah Abah Ayip Usman tak diragukan lagi. Kefakarannya dalam penguasaan khazanah klasik tak bisa dibantah. Bahkan kelebihannya, beliau mampu membaca teks-teks klasik itu secara kritis dan kontekstual.

Tulisan ini menjelaskan sisi lain dari kiprahnya di dunia gerakan sosial dan kebangsaan, sesuatu yang menjadi konsen Pesantren sedari kelahirannya.

Tidak Sekadar Kyai
Almaghfurlah Abah Ayip Usman, bagi saya,  bukan sekadar kyai-pesantren yang sepanjang hidupnya dihiasi dengan kitab kuning, tetapi beliau juga adalah seorang intelektual yang terus memproduksi pemikiran, seorang politisi yang pernah menjadi Ketua Dewan Syura PKB Kab. Cirebon dan anggota DPR/MPR Pusat (1999-2004), dan seorang aktivis sosial kemanusiaan yang gigih memperjuangkan kaum tertindas dan kebebasan berpikir, berpendapat, dan berekspresi.

Meski tidak bisa lagi disebut muda, lontaran-lontaran pemikirannya seringkali menyengat kejumudan dan konservatisme. Tidak jarang lontaran pemikirannya menjadi bahan obrolan di bilik-bilik pesantren. Saat menjadi Rais Syuriyah PCNU Kab. Cirebon (sekitar tahun 1996an), Almaghfurlah Abah Ayip Usman adalah ‘provokator’ utama PC Lakpesdam-NU Cirebon (kebetulan saya adalah ketuanya) untuk menggelar proyek “Pembacaan Kontekstual Kitab Kuning: Pendekatan dan Metodologi.”

Dengan contoh beberapa kitab, di antaranya Fathul Qarib dan al-Muhadzdzab, awak pesantren menjadi geger dengan hasil pembacaan ini. Proyek ini kemudian merekomendasikan pembukaan pendidikan pasca-pesantren atau ma’had ‘aliy, sebelum ma’had ‘aliy menjadi proyek Kementerian Agama.

Dari sisi pemikiran, sebagaimana terbaca dalam bukunya Islam, Pesantren, dan Pesan Kemanusiaan (Cirebon: Fahmina-institute, 2008), Almaghfurlah Abah Ayip Usman tidak bisa dipisahkan dari kitab kuning dan tradisi intelektual pesantren, tetapi juga tidak berhenti pada kitab kuning dan pesantren. Pemikirannya telah melampaui nalar pesantren dan kitab kuning, tetapi komitmen “membela kaum tertindas,” “budaya lokal,” dan “pluralitas bangsa” tetap menjadi ruh seluruh pemikiran dan tindakannya.  

Pembela Kaum Tertindas
Saya terkesan betul dengan kegigihan Almaghfurlah Abah Ayip Usman dalam membela kaum tertindas dan terpinggirkan. Pada malam natal tahun 2000, bertepatan dengan kasus pemboman di Gereja Katedral dan sejumlah Gereja di daerah lain, Almaghfurlah Abah Ayip Usman mengajak saya untuk mengumpulkan tokoh-tokoh agama (kyai, pendeta, romo, bikhu), dan pegiat dialog antaragama.

Hanya berpakaian sarung, peci hitam, dan baju pendek yang sederhana, dengan wibawa dan semangat beliau merefleksikan kejadian pemboman itu secara jeli dan kritis. Menurutnya, pemboman adalah kejahatan kemanusiaan, apalagi sasarannya adalah tempat ibadah. Ini bertentangan dengan ajaran Islam, tegasnya meyakinkan tokoh agama yang hadir.

Pertemuan malam natal tahun 2000 ini akhirnya menjadi momentum penting berdirinya “Forum Sabtuan,” forum dialog antaragama, forum para agamawan untuk menjaga kerukunan dan kedamaian berdasarkan pemahaman ajaran masing-masing. Forum ini masih eksis dan terus mendorong agama-agama melakukan aksi sosial-kemanusiaan secara nyata demi tegaknya perdamaian dan kerukunan sejati.     

Tidak sekadar pembelaan berbasis pluralisme agama, Almaghfurlah Abah Ayip Usman juga gigih membela kebebasan berpikir, berpendapat, dan berekspresi. Tak seorang pun lupa, pada saat Jemaat Ahmadiyyah diserang kelompok garis keras di Parung Bogor, Almaghfurlah Abah Ayip Usman terdepan mengutuk kekerasan atas nama agama ini, dan memberikan penghargaan atas pluralisme penafsiran meski berbeda—bahkan bertentangan—dengan keyakinan dirinya.

Pembelaan yang sama juga dilakukan Almaghfurlah Abah Ayip Usman kepada jama’ah Majlis Ta’lim Hidup Dibalik Hidup (HDH) yang difatwakan sesat oleh MUI Kab. Cirebon dan menjadi korban kekerasan atas nama agama. Bersama Fahmina-institute, Almaghfurlah Abah Ayip Usman menerima pengaduan kelompok HDH dan berusaha memahami pandangan HDH dari sisi jamaah HDH sendiri secara empatik, tanpa menghakimi, apalagi menyesatkan suatu pandangan yang masih berdasarkan al-Qur’an, al-Hadits, dan melakukan sholat menghadap kiblat.

Demikian juga ketika banyak orang Islam mendukung RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP), Almaghfurlah Abah Ayip Usman memberikan kesaksian ilmiah atas sulitnya mendefinisikan dimensi moralitas pornografi dan pornoaksi dalam konteks kebudayaan dan penafsiran ajaran agama. Beliau mencontohkan sebagian teks kitab kuning yang untuk kepentingan ilmu dan ajaran,  menjelaskan secara vulgar tentang persusuan, darah haid, nifas, janabah, dan etika berhubungan seks, apakah ini juga dikategorikan pornografi dan pornoaksi? Beliau termasuk orang yang menolak RUU APP ini karena ketidakjelasan batasannya dan bisa berakibat pada pemasungan kreatifitas seni budaya dan kebebasan berpendapat dan berkespresi.

Almaghfurlah Abah Ayip Usman bukan termasuk “Kyai menara gading” atau “kyai menara mesjid.” Beliau berwacana sekaligus beraksi untuk perubahan sosial. Berpikir global, bertindak lokal. Kiprahnya dalam aksi sosial kemanusiaan banyak dihabiskan melalui Yayasan Khatulistiwa yang didirikan pada 1994. Yayasan ini bergerak secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan, pengajian keagamaan, pelayanan sosial, santunan yatim piyatu, dan pengobatan mata gratis untuk masyarakat miskin.  

Pengawal NKRI
Hal lain yang tak bisa dikesampingkan dari Almaghfurlah Abah Ayip Usman adalah sikap nasionalisme dan pembelaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagi Almaghfurlah Abah Ayip Usman, negara NKRI yang berdasarkan Pancasila, sebagaimana keputusan Muktamar NU 1984 adalah bentuk final negara Indonesia. Tidak ada opsi lain untuk mencari bentuk negara Republik Indonesia. Beliau menjadi pengawal dalam barisan terdepan dalam memperjuangkan tegaknya sendi-sendi Pancasila dan kebangsaan yang berbhineka tunggal ika.  

“…sebagai orang NU, NKRI adalah keputusan final, tidak bisa diembel-embeli dengan apapun. Adapun orang lain memiliki kecenderungan lain dari NKRI, biarkan saja. Namun, mereka harus sadar bahwa sekarang ini kita tengah berhadapan dengan nation-state, yang di dalamnya terdapat bermacam-macam agama, budaya, suku bangsa, dan etnis. Apakah mereka yang mengusulkan negara Islam bagi Indonesia mampu mengadopsi semua itu? …mampu menempatkan semua pihak sejajar?” tulisnya dalam buku Islam, Pesantren, dan Pesan Kemanusiaan (hlm. 67-68).

Gus Dur-nya Wong Cerbon
Walhasil, sepanjang perjumpaan saya dengan Almaghfurlah Abah Ayip Usman,  saya memandang bahwa Almaghfurlah Abah Ayip Usman adalah Gus-Dur-nya wong Cerbon. Anasir-anasir Gurdurisme melekat dalam pikiran dan tindakan Almaghfurlah Abah Ayip Usman.

Sikap toleran, pluralis, kritis, progresif, demokratis, nasionalis, pembela kaum tertindas, egaliter, dan juga kontroversial ala Gus Dur, semuanya ditemukan dalam kepribadian Almaghfurlah Abah Ayip Usman. Dari dusun pinggiran Kempek, Kiai perokok berat ini tidak pernah berhenti memikirkan nasib bangsa, rakyat miskin,  dan kaum tertindas. Hanya satu saja yang kurang untuk menjadi seperti Gus Dur, yakni tidak bisa lelucon alias humoris.

Di atas semua itu, ribuan pelayat dari berbagai kalangan agama, etnik, dan kelas sosial yang mengantarkan pemakamannya, Senin (8/11/2010) pukul 10.00,  menunjukkan besarnya pengaruh Almaghfurlah Abah Ayip Usman dan luasnya jaringan beliau dalam mendorong perubahan sosial di negeri Pancasila ini. Kita semua, khususnya warga Cerbon, sungguh kehilangan sosok kyai pembela kaum tertindas dan penyayom pluralisme di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Satu demi satu mereka telah menghadap ke hadirat-Nya. Benarkah gugur satu, akan tumbuh seribu?