Fajar Rasyid al Maula Santri Pesantren Al Mubarokah & Alumni Sekolah Cinta Perdamaian (Setaman)

Nama saya Fajar Rasyid al Maula. Saat ini kelas 3 MTs, sekolah umum dan juga nyantri di Pesantren Al-Mubarokah Desa Karangmangu, Susukan Lebak Kab. Cirebon. Saya mondok kurang lebih sudah 3 tahun. Asal saya dari Bandung. Di tempat saya tinggal itu, saya sering mengikuti pengajian-pengajian jika sedang libur pesantren.

Tahun lalu, saya diminta oleh Umi Fitri untuk ikut suatu acara di kantor Kecamatan Pabuaran, yang jarak dari pesantren kurang lebih 30 menit menggunakan motor, saya datang bersama 5 santri yang lain. Sebelum datang ke tempat acara, saya tidak punya gambaran acaranya akan seperti apa, karena Umi hanya bilang acara Sekolah Cinta Perdamaian (Setaman), sebagai santri saya menurut saja apa kata Umi.

Di tempat acara, sudah ada Kakak-Kakak dari Setaman, mereka sangat ramah, mereka ada dari NU, Gusdurian, ada juga dari Ahmadiyah. Acara dibuka oleh perwakilan dari Kantor Kecamatan, saya lupa namanya. Yang menarik dari acara tersebut adalah salah satu dari Fasilitator Setaman mengatakan bahwa dia punya banyak teman dari Katolik, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, Ahmadiyah, Sunda Wiwitan, saya bertanya dalam hati “ko bisa dia berteman dengan orang yang berbeda agama”, bahkan Fasilitator Setaman ini, katanya, sering datang ke tempat ibadah mereka.

Sedangkan saya, sebelumnya tidak senang jika ada orang yang berbeda dengan saya, misalnya beda pendapat, beda pilihan, apalagi beda agama, sering saya memberikan komentar keras kepada mereka.

Tapi dari cerita-cerita Fasilitator Setaman,  saya merasa malu, dan semakin meyadari bahwa perbedaan tidak sepantasnya membuat kita saling bermusuhan, justru perbedaan dan keberagaman akan membuat kita semakin luas bersilaturrahmi, teman kita semakin banyak tidak hanya itu-itu saja.

Saya juga ditanya oleh ssalah satu Fasilitator, “apakah tahu ada tempat ibadah agama lain di sekitar tempat tinggalmu, apa saja, apakah pernah berkunjung, kenapa?”, pertanyaan-pertanyaan itu juga menyadarkan saya bahwa ternyata selama ini kita lebih serinng mengedepankan prasangka ketimbang berupaya menjalin silaturrahmi.

Saya senang ketika Setaman akan melakukan agenda kunjungan ke tempat-tempat ibadah yang beragam, seperti Gereja, Klenteng, Masjid jemaat Ahamdiyah, masjidnya orang  NU, dan lain-lain. Saya sangat menunggu kesempatan itu, dan ketika saya ceritakan rencana setaman, Umi juga senang, saya bangga punya pengasuh pesantren seperti Umi. (Tim)

Simak Juga Videonya di sini: Inspirasi Pesantren untuk Perdamaian