Ketidak Pedulian Negara Pada Kesehatan Perempuan

0
600

Wawancara dengan Mbak Ninuk Widyantoro.

Nasib perempuan di negeri ini, belum semujur perempuan-perempuan di belahan Negeri lain, bahkan dibandingkan negara-negara ASEAN sekalipun. dari ukuran HDI (Human Development Indeks) kesehatan perempuan Indonesia tergolong memprihatinkan. Begitu juga, bila dilihat dari AKI (Angka Kematian Ibu) yang terus melonjak. Saat ini, besaran AKI di Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya adalah kurang kebih 66 kali AKI Singapura; sekitar 10 kali AKI Malaysia; atau 9 kali AKI Thailand; dan masih 2,3 kali Filipina (Data GOI & UNICEF, 2000). Dalam kurun waktu 20 tahun tercatat rata-rata dalam setiap jam satu perempuan tidak bisa tertolong jiwanya akibat aborsi tidak aman.

Parahnya, kondisi buruk itu turut dipicu oleh kebijakan publik Negara sendiri dalam bidang kesehatan yang tidak pernah berpihak kepada perempuan. Tanpa disadari, –tidak adanya Political Will Negara yang jelas atas pemberdayaan perempuan lewat programprogram peningkatan kesehatan perempuan; berarti Negara tengah melakukan tindak kekerasan dan kekejian terhadap perempuan–. Sebab, tingginya Aki berarti masih rendahnya tingkat kesejahteran penduduk dan secara tidak langsung mencerminkan kegagalan pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi resiko kematian ibu dan anak.

Berikut petikan wawancara Ipah Jahrotunasifah dengan Aktivis Kesehatan Perempuan Mbak Ninuk Widyantoro, Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan Jakarta pada pertengahan Juni 2004 lalu.

Bagaimana kondisi perempuan Indonesia secara khusus dari sisi kesehatan ?

Ya, secara global ada ukuranukuran untuk mengukur atau menilai kualitas kesehatan perempuan di sebuah negara, pertama HDI (human development indeks), kedua MMR (maternal mortality rate) atau Angka Kematian Ibu yang mengukur tiga hal, yaitu kesehatan, pendidikan dan ekonomi, ketiga ukuran secara makro adalah tingkat pendidikan perempuan.

Ditinjau dari HDI menunjukkan kesehatan perempuan Indonesia mengalami kemerosotan atau setidaknya tidak ada perubahan berarti. Faktanya, pada tahun 1992 HDI Vietnam menduduki tingkat 107 berada jauh 20 tingkat lebih rendah dari kita yang berada pada level 97 dari 160 negara. Nah, tahun 2003 kondisinya berbalik, Vietnam di posisi 97 sedangkan Indonesia terpuruk diposisi 113, mereka mengalami kenaikan 20 tingkat, kita mundur 16 tingkat.

Dari ukuran AKI (angka kematian ibu) melahirkan selama hampir 20 tahun tidak pernah turun signifikan, bahkan statistik BPS memperlihatkan angka AKI naik 396 rata-rata pertahun atau lebih dari satu perempuan rata-rata mati setiap jamnya.

Mengapa kondisi demikian bisa terjadi?

Di sinilah kita melihat kepedulian pembuat kebijakan terhadap keadaan dan nasib perempuan sangat kecil, misalkan enggak ada upaya-upaya pendidikan kesehatan yang bermakna; programnya jelas dan teruji, bisa difolow-up, bisa dinilai atau dievaluasi, dan disupervisi. Lalu, setelah dinilai apakah memang yang dididik itu menjadi faham sehingga terjadi perubahan perilaku. Ini kan engga? misalnya dalam program KB, -Faktanya banyak perempuan mengalami kegagalan kontrasepsi–. Ini kan berarti pendidikannya tidak efektif. Jadi, menurut saya selama ini tidak ada pendidikan kesehatan yang bermakna kepada masyarakat umum.

Kalau menurut mereka (Pemerintahred) ada, buktinya apa? mestinya bila program itu serius dilakukan, harus terukur sejauh mana tingkat penguasaan pengetahuan perempuan Indonesia terhadap kesehatan dan sejauh mana mereka mengalami perubahan perilaku sehingga terhindar dari penyakit atau kehamilan yang tidak diinginkan.

Data menunjukkan tingginya AKI di Indonesia tergolong meresahkan, kenapa hal itu bisa timbul ?

Angka Kematian Ibu sebagian besar terjadi akibat aborsi tidak aman. Di satu sisi seharusnya kemajuan Iptek, memungkinkan bisa melindungi perempuan dari aborsi yang tidak aman dengan pelayanan memadai, aman dan murah. Tapi kok enggak di pakai? satu hal kita terbentur juga dengan perspektif agama yang tidak membolehkan. 22

Kondisi itu, dipicu pula karena ulamanya sendiri tidak pernah dididik atau dilibatkan dalam soal tersebut (seperti Kegiatan Dawroh Fiqh Perempuan, red). Nah itu semuanya termasuk tindak kekerasan terhadap perempuan dalam bidang kesehatan. Ada pengetahuan dan teknologi baru tapi tidak dipakai untuk memperbaiki kondisi perempuan. Padahal dalam satu jam di Indonesia lebih dari satu perempuan mati akibat aborsi sendiri.

Jadi, menurut anda berarti akses perempuan di Indonesia terhadap kesehatannya sangat rendah?

Ya, bahkan tidak ada kepedulian, apalagi memikirkan akses informasi, sebab enggak ada informasi, enggak ada akses. Akses apa? Buktinya mati segitu banyak kan tidak ada yang peduli menolong. Padahal kondisi begitu sudah berlangsung hampir tiga puluh tahun. Apa pernah ada seruan nasional? seperti semua pihak dibuat kelabakan ketika kasus SARS merebak? kan tidak? Lalu, kalau misalnya aborsi nggak diperbolehkan, apa ada pendidikan seks yang memadai sehingga terjamin tidak akan ada kehamilan yang tidak diinginkan. Kan tidak ada juga ?

Atau mungkin terkait penerapan metodologinya yang keliru?

Ah, metodologi apa? Saya fikir peduli saja dulu sudah cukup. Kalau memang peduli siapapun bisa belajar dari orang lain, nggak usah pergi ke mana-mana di rumah juga bisa, asal mau karena sebetulnya materinya itu gampang. Kalau kepedulian itu sudah timbul dari diri sendiri, maka orang akan mencari cara atau metodemetode sendiri…

Bagaimana dengan perempuan di pedesaan yang aksesnya betul-betul rendah?

Ya, itu persoalannya kan negara ini tidak pernah mengajarkan warganya itu peduli terhadap dirinya sendiri. Berbeda dengan negara-negara lain, persoalan kesehatan perempuan termasuk pendidikan seksual telah diajarkan di sekolah sejak SLTA. Sedangkan di Indonesia tidak ada. Bagaimana kita mau menjelaskan tentang HIV/AIDS kalau tidak pernah ada pendidikan seks sebelumnya. Berbicara cara penularan HIV/AIDS kan berarti juga harus berbicara secara terbuka tentang seks?

Sementara lembaga-lembaga formal seperti Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tidak pernah jelas melakukan pemberdayan di bidang atau bagian apa? Departemen Kesehatan sendiri sepertinya tidak bisa berbuat banyak, buktinya banyak perempuan dalam kondisi tak sehat, bahkan satu orang mati dalam setiap jamnya. Selain itu, aborsi tidak aman terjadi dimanamana, kalau misalkan tersedia akses cukup tentang kontratsepsi oleh BKKBN mestinya kasus ini tidak terjadi. Jadi ini menggambarkan memang departemen-departemen tersebut tidak peduli dan tidak bertanggungjawab mengurus perempuan.

Sejauh mana anda melihat keberpihakan negara sendiri terhadap kondisi kesehatan perempuan kita ?

Negara kita memang enggak peduli, mereka itu tidak sadar bahwa telah melakukan kekejian dan kekerasan terhadap perempuan dengan cara tidak peduli terhadap program-program peningkatan kesehatan perempuan. Apakah kondisi demikian akan terus dibiarkan? Padahal dewasa ini segala sesuatunya (IPTEK, red) memungkinkan berperan banyak? Sementara itu negara lain sudah berubah; Angka kematian perempuan kita itu 10 kali lipat dari Iran. Nah, kita tahu Iran itu negara Islam tapi di sana aborsi diperbolehkan , emergensi kontrasepsi tidak dilarang, konseling juga ada, di sini kan gak? Dengan begitu kita sudah bisa memperoleh gambaran sendiri betapa parahnya kita. Padahal, banyak negara-negara Islam lain konsisten menyelamatkan perempuannya. Hal itu terukur dari tingkat HDI-nya tinggi dan rendahnya tingkat kematian perempuan di negaranya.

Apakah itu juga menunjukkan posisi perempuan Indonesia memang betulbetul secara status sosial masih sangat rendah?

Banyak ukurannya, tapi saya membatasi dalam soal kesehatan saja. Saya takutnya mereka enggak berpikir dampak buruk dari tingginya perempuan mati atau tidak sehat, misalkan terhadap pola pengasuhan anak atau terhadap rendahnya kualitas SDM kita yang saat ini rata-rata rendah. Saya juga sedih, selama ini yang dipakai ternyata ayat-ayat Qur’an yang tidak berpihak kepada perempuan.

Sementara aturan-aturan di negara kitapun, interpretasi-interpretasinya masih merendahkan perempuan. Kita enggak tahu bagaimana merubahnya? Jadi, percuma kalau kita hanya menuntut terus, karena selama ini realitasnya tidak pernah ada perubahan. Kita nggak usah berharap terus, mungkin lebih baik membangun apa yang disebut Civil Society Movement yang mengharuskan kita terus bergerak…

Bagamana dengan sistem civil society movement terkait isu kesehatan agar perempuan betulbetul perduli terhadap dirinya? caranya?

Jadi, civil society itu termasuk juga mendorong banyak LSM perempuan untuk berfikir dan bergerak dalam bidang kesehatan perempuan. Nah, Kita masukkan materi-materi kesehatan perempuan dalam setiap program-program mereka, misalnya lewat Fear Education Program atau melatih orang-orang potensial dan memiliki kemauan yang timbul dari hati. Dan seharusnya setiap orang menyebarkan pengetahuan atau informasi kepada sesamanya. Selain itu, sebagai perempuan harus aktif menggali informasi dan pengetahuan sendiri terkait peningkatan kesehatannya serta betul-betul harus merasa perlu.**

  Sumber: Blakasuta Ed. 5 (2004)