Kitab Suci Multiwajah

0
707
Dalam Ramadan Al-Qur’an diturunkan, dalam Ramadan Al-Qur’an paling banyak dibaca dan diperdengarkan. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an, demikian kita selama ini diajari, tanpa mengerti artinya pun sudah ibadah, apalagi bagi yang mengerti. Masya Allah…. Begitulah kemurahan Tuhan, Allah subhanahu wa ta’ala…. Terima kasih Ya Rabb!

Tetapi, apakah maksud Al-Qur’an diturunkan? Apakah sekadar untuk dibaca seperti namanya sendiri, Al-Qur’an, yang berarti bacaan? Jawab kiai saya almarhum yang juga seorang ulama ahli tafsir terkemuka: Tentu saja tidak; dibaca kalimatnya, dimengerti artinya, direnungkan kandungannya, dan diamalkan pesannya. Itulah tujuan seutuhnya.

Tapi, berapa gelintir manusia yang mampu begitu? Belum lagi, kata orang, untuk memahami ayat dengan benar dan tepat, seseorang perlu perangkat ilmu yang macam-macam, terutama yang berkaitan dengan bahasa Arab, dan tidak kalah penting konteks kesejarahan, baik yang juz’iy maupun yang kully. Singkatnya sulit! Hanya segelintir orang yang kayaknya mampu mencapai tingkatan itu.

Kalau begitu, apakah Al-Qur’an hanya boleh dinikmati oleh segelintir orang?
Jawab kiai saya tegas: Tidak! Al-Qur’an, kata beliau, adalah kitab suci yang sangat ramah terhadap setiap pembacanya. Siapa pun mereka, dengan kapasitas keilmuan apa pun dan seberapa pun bisa bercakap-cakap dengannya. Seperti Allah sendiri, tidak pernah pilih kasih hanya kepada yang berpendidikan tinggi, yang ulama, yang sarjana. Semua berhak meraup rahmat-Nya.

Tapi memang, Al-Qur’an sebagaimana yang mensabdakannya (Allah SWT) akan bersikap dan berbicara kepada setiap pembacanya sesuai harapan si pembaca sendiri. Allah bersabda: “Ana ‘inda dhonni ‘abdiy bihi”, artinya,  Aku akan bersikap kepada hamba-Ku sesuai dengan persangkaannya terhadap-Ku”. Artinya, jika Allah dipersangkakan sebagai Yang Mahakasih dan Pemurah, Allah memang Yang Mahakasih dan Pemurah; Sebaliknya, jika dipersepsikan sebagai Yang Maha Kejam dan Pelit, bisa terasa demikian bagi yang bersangkutan. Maka pesan moralnya: berbaik sangkalah selalu
kepada-Nya.

Demikian pula Al-Qur’an. Ia akan tampil dan berbicara kepada sang pembaca sesuai dengan kondisi kebatinan dan kapasitasnya. Ada orang yang membaca Al-Qur’an dengan nurani yang bening penuh kedamaian; ada yang sebaliknya, keruh penuh kebencian.

Juga ada yang membacanya dengan nalar dan keilmuan yang luas; ada juga dengan nalar dan pengetahuan yang sempit dan cetek. Juga ada kalanya seseorang membacanya dengan emosi meledak-ledak, penuh fanatisme dengan pihak tertentu; atau sebaliknya penuh kutukan kepada pihak lain. Al-Qur’an pun akan tampil sesuai dengan kondisi kebatinan dan kapasitas pembacanya..

Itulah sebabnya, Al-Qur’an bisa tampil menjadi kitab suci yang multiwajah. Bagi seorang ilmuwan sosial, ia tiba-tiba hadir sebagai kitab dengan teori-teori sosial yang sangat canggih dan mencerahkan. Atau bagi seorang fisikawan atau filosof, Al-Qur’an pun tampil sepenuhnya sebagai sumber inspirasi teori-teori fisika dan filsafat yang sangat mengagumkan. Atau bagi seorang sufi yang tengah dimabuk cinta, Al-Qur’an pun hadir sebagai surat cinta dari Yang Maha Terkasih yang akan memuaskan kerinduannya.

Juga bagi seorang pembenci kepada sesama, kepada orang atau sekelompok orang yang menurut nafsunya harus dibenci dan dikutuki, Al-Qur’an pun akan tampil sebagai kitab yang mengobarkan kebencian di dadanya. Sebagaimana bagi seorang pembaca Al-Qur’an yang berhati lapang, penuh senyum kedamaian dan rendah hati kepada sesama, Al-Qur’an pun akan tampil sebagai kitab suci dengan wajah berseri-seri penuh keramahan dan kasih sayang yang berlimpah ruah.

Itulah sebabnya, masing-masing orang cenderung memiliki ayat-ayat favorit sendiri-sendiri. Seseorang dengan fanatisme tinggi akan memilih ayat-ayat yang berbeda, bahkan terasa berseberangan, dengan ayat-ayat pilihan mereka yang berlapang dada, penuh tasamuh kepada sesama meski lain paham, keyakinan, atau pilihan politik. Maka kata kiai saya, Al-Qur’an adalah “bacaan” tentang jatidiri kita sendiri juga.

Sejalan dengan pengertian ini, tidak mengherankan sama sekali, alias banyak ditemukan di mana-mana bahwa seseorang/ kelompok yang saling bermusuhan dan saling mengutuk dengan orang/kelompk lain, dengan mengutip ayat-ayat yang berbeda dari kita suci yang sama, atau ayat yang sama dengan pemahaman/tafsir berbeda.

Pertanyaannya, kondisi kebatinan macam manakah yang paling tepat untuk dipersiapkan oleh seseorang yang hendak membaca Al-Qur’an? Kata kiai saya; ajaran berwudu sebelum membaca Al-Qur’an memberikan jawabannya: Bersihkan jari jemarimu, lidah dan mulutmu, hidungmu, matamu, muka dan hatimu, telingamu, kepalamu, dan kakimu dari semua daki dosa dan prasangka kepada Allah dan sesama.

Bacalah ta’awudz, maka Anda akan menemukan Al-Qur’an sebagai sabda dan sekaligus wajah Allah yang sebenarnya: “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Adakah yang lebih kita harapkan dari-Nya melebihi kasih dan sayang-Nya?

Semoga peringatan Nuzulul Quran dapat memperbarui semangat dan suasana kebatinan kita, dapat menggantikan prasangka dan kebencian dengan cinta kasih terhadap sesama, sesama umat, sesama warga bangsa dan sesama manusia, hamba Allah SWT dan ciptaan-Nya.[]


Sumber: Jawa Pos. [ Minggu, 14 September 2008 ]