Spirit Pembebasan Ramadhan

0
650
Bulan suci Ramadhan merupakan saat umat muslim berbenah, menempa diri dengan ibadah puasa. Melatih fisik maupun mental menjalani riyadlah sebulan penuh. Ramadhan memang bulan istimewa. Dibulan itu, Allah swt. memberikan ganjaran berlipat bagi setiap amalan ibadah. Allah membuka selebar-lebarnya pintu maghfirah (ampunan), rahmah (kasih sayang) dan isti’anah (pertolongan). Semua itu sebagai sarana mendekatkan diri dan menigkatkan ketakwaan kepada Allah swt. [al-Baqarah, 2: 183].

Bulan suci Ramadhan merupakan saat umat muslim berbenah, menempa diri dengan ibadah puasa. Melatih fisik maupun mental menjalani riyadlah sebulan penuh. Ramadhan memang bulan istimewa. Dibulan itu, Allah swt. memberikan ganjaran berlipat bagi setiap amalan ibadah. Allah membuka selebar-lebarnya pintu maghfirah (ampunan), rahmah (kasih sayang) dan isti’anah (pertolongan). Semua itu sebagai sarana mendekatkan diri dan menigkatkan ketakwaan kepada Allah swt. [al-Baqarah, 2: 183].

Biasanya terlihat perubahan mencolok di masyarakat ketika bulan puasa tiba. Masjid yang biasanya sepi, penuh sesak oleh jama’ah untuk bertarawih bersama. Begitu juga di saat subuh, ramai-ramai sholat berjama’ah sekaligus mendengarkan kulliah. Hampir setiap lima waktu, adzan dan iqamah berkumandang di masjid-masjid, mushala-mushala, yang pada hari biasa sepi-sepi saja. Orang tua dan anak berangkat bersama ke masjid. Mereka yang terbiasa abai karena sibuk bekerja, istirahat sejenak meluangkan waktu ke majid. Bahkan yang terlihat akrab dengan botol-botol minuman, turut berbondong ke masjid. Betapa indah terlihat, semangat (ghirah) spiritualitas masyarakat meningkat, roda kehidupan nampaknya sangat ‘Islami’.

Tidak hanya itu, seusai shalat tarawih, sebagian jama’ah melanjutkan dengan tadarrus al-Qur’an. Bapak-bapak yang biasa bergadang bermain daun gaplek, dengan al-Qur’an di tangan khusyu’ menyimak bacaan temannya. Pemuda-pemudi yang biasa nongkrong tidak karuan, berderet membentuk lingkaran di masjid dan bergilir membaca al-Qur’an.

Siang hari, masjid dan mushala pun ramai dengan berbagai kegiatan khas Ramadhan. Mulai dari pesantren kilat, pengajian, hingga badzar kue untuk berbuka puasa. Tiba-tiba masjid menjadi begitu ‘hidup’. Masjid menjadi pusat kegiatan umat, ibadah spiritual, pendidikan, bahkan ekonomi. Seperti gambaran sejarah tentang fungsi masjid di awal masa sejarah Islam dahulu.

Namun semarak prilaku spiritual umat seperti itu terlihat kering akan makna. Orang hanya sibuk dengan gebyar menyambut Ramadhan, seraya tidak menghayati nilai spiritualitas puasa yang sejatinya merupakan bekal untuk menghadapi berbagai problem kemanusiaan. Ibadah yang dilakukan pun terkesan kuat terlepas dari problem nyata kehidupan. Dan jauh dari mampu menjadi pendorong untuk membebaskan diri dari ketertindasan, kemiskinan, kebodohan serta kedzaliman penguasa.

Lihat saja setelah bulan puasa usai. Masjid dan mushala kembali ditinggalkan oleh jama’ahnya. Botol-botol minuman kembali menjadi kegemaran. Kartu-kartu menggantikan al-Qur’an di tangan. Muda-mudi nongkrong berglayut tidak karuan. Ketertindasan, kemiskinan, kebodohan, maupun konsumerisme terus saja mendera kehidupan masyarakat.  

Puasa tahun ini bertepatan dengan kesibukan luar biasa rakyat Indonesia. Terutama kesibukan mempertahankan diri. Entah itu mempertahankan kestabilan politik, kedaulatan, sosial-budaya serta himpitan ekonomi. Tiga puluh empat partai peserta pemilu tahun depan sibuk menyiapkan kampanye dan sosialisasi. Pemerintah menjelang akhir masa tugasnya, sibuk menyusun kebijakan yang seolah pro-rakyat, agar mudah terpilih kembali pada priode selanjutnya.

Tidak ketinggalan pula agamawan, sibuk melayani kegiatan keagamaan masyarakat, bahkan beberapa terlihat bingung memilah-milah partai politik sebagai partner. Rakyat kecil memeras keringat dan air mata untuk bertahan hidup, di tengah mahalnya kebutuhan pokok yang akan terus meningkat di saat puasa dan lebaran. Da’i-da’i bermusyawarah dengan para sponsor yang kewalahan menyusun jadwal ceramah, dari studio televisi hingga ke alun-alun kota. Badan-badan ‘amil zakat tak henti-henti mengejar konglomerat, tanpa terlalu banyak berfikir bagaimana mendisribusikan zakat itu secara produktif bagi umat.

Semua elemen berburu waktu dengan agendanya masing-masing. Nyaris tidak ada yang serius melakukan advokasi hak-hak kaum tertindas (mustadl’afin) dalam momentum Ramadhan. Spirit pembebasan (al-taharruriyah) tidak lagi menjadi ruh pergerakan umat. Yang ada hanyalah berlomba-lomba demi akumulasi modal dan kepentingan.

Kaum agamawan yang banyak bersentuhan langsung dengan rakyat kecil, seharusnya hadir sebagai lokomotif perubahan. Umat merindukan hadirnya ulama’-ulama’ organik, yang tidak sekedar melakukan dakwah mau’idzah, tapi menjadi uswah (panutan) dalam gerakan melenyapkan kezaliman, ketertindasan, maupun mengentaskan kemiskinan. Al-Qur’an mengatakan, “Sesungguhnya bagi kalian sekalian, panutan yang baik (uswatun hasanah) pada diri Rasulullah”. [al-Ahzab, 33: 21].

Rasulullah saw dikenal sebagai sosok yang dekat dengan umatnya. Beliau berinteraksi dan berdialog dengan problematika kehidupan masyarakat kala itu. Sebagai contoh, ketika melihat ketimpangan distribusi kesejahteraan antara si kaya dan si miskin, Rasul bersabda, “Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, manakala dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan”. [HR. Ibnu Abbas, Maktabah No. 96].

Semangat inilah yang sulit ditemui pada sebagian kalangan agamawan hari ini. Mereka sibuk menjadi da’i dengan isi ceramah yang tidak paralel terhadap problem riil keumatan. Sekedar berputar-putar, antara pahala, surga dan neraka, atau untuk memenuhi pesanan advertaising. Tanpa ada upaya menerjemahkan nilai-nilai luhur itu menjadi etos serta kekuatan penggerak menuju pembebasan umat dari ketertindasan.

Selanjutnya, momentum Ramadhan harus menjadi ajang mempertebal sikap optimis. Ditengah prahara kesulitan yang menimpa, masih ada harapan untuk bangkit dan tersenyum. Masalah kehidupan hendaknya dilihat sebagai ujian dari Allah swt. untuk melihat sejauh mana seorang hamba berjuang meraih ridla-Nya. Bukankah Allah tidak akan memberikan beban diluar kemampuan seorang hamba. [al-Baqarah, 2: 233].  

Ikhtiar yang dilakukan memerlukan konsistensi dan ketekunan (istiqamah). “Dan memintalah pertolongan kalian dengan sabar dan shalat” [al-Baqarah, 2: 45]. Artinya, upaya seorang hamba memerlukan kesabaran serta mental spiritual sebagai sarana meraih ridla Allah swt. Al-Thabari mengatakan dalam tafsirnya, sabar dan shalat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. [Tafsir al-Thabari, Juz I, 15].

Ramadhan kali ini semoga menjadi ajang introspeksi (muhasabah) semua pihak, untuk menghadirkan semangat dan gerakan pembebasan. Terbebas dari godaan syaithan dan sikap pragmatisme yang mengganggu kekhusyu’an ibadah, ataupun syaithan yang berupa kedzaliman, penindasan, pemiskinan dan lain sebagainya, yang bertentangan dengan harkat dan martabat kemanusiaan.[]


*Penulis adalah alumni Ma’had Ali Situbondo, sekarang tinggal di Cirebon