KORBAN SAMPANG GOWES 790 KM

0
607

Cirebon, (FC).- Warga korban kekerasan agama di Desa Karanggayam dan Bluuran, Sampang, Madura meng-gowes sepeda sejauh 790 km dari Surabaya menuju Istana Negara, Jakarta. Rombongan itu tiba di Kota Cirebon, Senin (10/6).

Di Kota Cirebon, rombongan tersebut disambut aktivis-aktivis Fahmina Institute. Rencananya mereka akan bermalam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon. Besoknya (11/6), rombongan itu akan berdiskusi dengan publik Kota Cirebon di Fahmina Institute. Koordinator korban Sampang, Fathul Khoir, mengatakan aksi nekat itu dilakukan agar pemerintah mau mendengarkan tuntutan mereka.

“Warga Sampang menolak opsi relokasi yang ditawarkan oleh pemerintah. Mereka tinggal di situ sejak nenek moyang mereka. Jadi tidak bisa seenaknya dipindah-pindah,” katanya Warga Sampang menyayangkan Bupati Sampang, Fannan Hasib dan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo yang tetap memaksakan relokasi. Padahal solusi itu sama sekali tidak didiskusikan sebelumnya dengan warga. Para korban itu, sudah 9 bulan nasibnya terkatung-katung. Terhitung sejak 26 Agustus 2012 sampai sekarang, mereka hidup di Gedung Olahraga (GOR) Sampang. Awalnya oleh Bupati dan Gubernur mereka akan dipindahkan ke Sidoarjo. Sementara itu, warga menolaknya. Pasalnya, Sampang merupakan tanah kelahiran. Sebagai warga negara tentu mereka merasa berhak untuk tinggal di tanahnya sendiri.

“Relokasi bukan solusi bahkan bisa menimbulkan masalah yang baru. Warga Sampang merupakan warga negara Indonesia yang ingin kembali ke kampung halaman. Itu saja, tidak lebih,” lanjutnya. Aksi gowes itu sendiri menurut Fathul merupakan wujud mentoknya usaha mereka memperjuangkan hak tersebut di tingkat Provinsi Jawa Timur. Mereka berangkat dari Surabaya, Sabtu (1/6) dan akan sampai di Jakarta dijadwalkan Minggu (16/6). Sesampainya di Jakarta, mereka berencana untuk bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden bagi mereka, menjadi satu-satunya harapan bagi korban Sampang.

“Warga Sampang ingin kembali ke rumah dan dikembalikan rasa amannya. Itu sudah tugas negara melindungi warga negara. Setelah semua keinginan itu mentok di Provinsi Jawa Timur, kami ingin menyampaikan masalah kami itu langsung kepada SBY,” tegasnya. (Rosyid/Job/FC) Sumber: Fajar Cirebon, Juni 2013