Laki-laki Peduli (Baru) Hebat

0
588

Persoalan ketimpangan gender antara perempuan dan laki-laki tidak cukup didekati hanya melalui sisi perempuan saja, diperlukan pemahaman yang baru bagaimana peran gender ini dari sisi laki-laki, yang di bahas dalam bidang The New Psychology of Man. O’Neil dan kawan-kawan mengajukan teori Konflik Peran Gender pada Laki-laki, dimana sosialisasi peran gender pada budaya seksis dan patriarchat menghasilkan hal-hal yang negatif, baik pada laki-laki itu sendiri maupun dalam berhubungan dengan perempuan, anak dan laki-laki yang lain.

Mengungkapkan konsep kekuasaan pada budaya patriarkhi adalah ekspresi kelaki-lakian dari ‘sang penentu’. Sehingga setiap laki-laki merefleksikan kekuasaan tersebut kepada masyarakat yang lain, ayah terhadap anak, suami terhadap istri, kakak laki-laki terhadap adik, dan yang tertinggi raja terhadap rakyatnya.

Oleh karena itu, konsep laki-laki baru penting disuarakan untuk mengurangi ekspresi budaya patriarkhi yang mendiskriminasi perempuan dan merugikan harga diri laki-laki. Maka penting ungakapan “Semakin anda peduli, semakin anda laki-laki.” Inti dari gagasan ini sebenarnya ingin mengatakan, jika penghapusan kekerasan selama ini banyak difokuskan pada perempuan korban kekerasan, maka logika tersebut dibalik, laki-lakilah yang menjadi pusat, misalnya, memaknai kembali ‘harga diri laki-laki’ yang secara sederhana dijelaskan dalam slogan tersebut.

Keterlibatan laki-laki dalam gerakan perempuan, didefinisikan laki-laki yang dikontruksi oleh masyarakat dalam beberapa hal tertentu menyebabkan ketidakseimbangan hubungan laki-laki dan perempuan. Seperti  laki-laki yang harus rasional, tidak menyentuh pekerjaan rumah tangga, atau pun tidak mengasuh anak. Karena pada kenyataannya seseorang memiliki kualitas  feminin dan maskulin yang berbeda. Konstruksi ini pada akhirnya menyebabkan lahirnya hirarki kekerasan.

Hirarki kekerasan terjadi ketika seorang suami bersikap kasar terhadap istrinya, tanpa disadari dalam beberapa kasus, istri tersebut meneruskan sikap kasar terhadap anaknya. Sang anak lalu melanjutkannya ke teman-temannya atau  orang-orang di dekatnya. Pengaruh atmosfir kekerasan tersebut menyebar sadar maupun tidak secara psikis menekan dalam alam bawah sadar pelaku. Oleh karena itu, hirarki kekerasan harus diputus dan digantikan dengan kebiasaan-kebiasaan yang saling peduli dan membuka ruang komunikasi yang lebih sehat. Maka Laki-laki Baru, sebagai gagasan digerakkan untuk keadilan gender. 

Gagasan ini memang belum bersifat masif, hanya berlaku di tingkat individu tertentu yang memiliki kesadaran, dan masih menemui berbagai hambatan yang justru datang dari pihak keluarga atau masyarakat. Di beberapa tempat laki-laki menggendong dan mengasuh anak-anak seperti membeli kebutuhan susu atau popok masih dinilai asing, begitu pula laki-laki yang melakukan aktivitas rumah tangga yang sederhana lainnya, seperti menyapu atau mengepel lantai rumah.

Laki-laki Baru akan membangun hubungan yang lebih sehat dalam berbagi ruang dengan perempuan, dan menciptakan keluarga yang penuh kasih sayang untuk anak-anak. Diharapkan, hal itu akan menekan jumlah kekerasan terhadap perempuan yang banyak terjadi dalam rumah tangga, atau kekerasan yang muncul di masyarakat akibat pengalaman-pengalaman buruk dalam keluarga. Laki-laki hebat bisa ada disekitar kita, mungkin sebagian dari kita tidak menyadari keberadaannya, walau nyata tindakannya.