Manba’ussa’adah: Dari Sihhah wal-Afiyah Menuju Sakinah Mawaddah Warohmah

0
748

“Nikahi perempuan karena empat hal, karena hartanya, kecantikannya, keturunannya dan karena agamanya…”

Sepenggal hadits shahih itu cukup masyhur saat kita berbicara dengan tema rumah tangga, ini menjadi kriteria mendasar sebagai pilar untuk terbangunnya keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Jika dalam hadits tersebut menyertakan juga perihal keturunan, maka itu artinya ia akan menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh dalam perjalanan misi esensial rumah tangga itu, kendati memang diperlukan kajian pula soal mengapa, atau sejak kapan munculnya dikotomi nasab baik dan tidak baik itu jika sejatinya umat manusia berasal dari satu keturunan yaitu Nabi Adam AS yang disebut sebagai Abul-basyar (sang bapak manusia).

Para ahli hikmah (athibbaa) juga menempatkan bahwa hifdzun-nasl (melestarikan keturunan/generasi) adalah bagian dari tujuan nikah (maqoosidun-nikah) selain sebagai penyaluran kebutuhan biologis dan memperoleh kenikmatan (nailul-ladzah)

Bicara reproduksi, adalah bagian dari kajian responsif atas munculnya teori genetika itu, meski aktivitas reproduksi itu sendiri memang bersifat instingsif untuk kebanyakan makhluk termasuk manusia. Artinya, kajian soal reproduksi sejatinya bukan persoalan kekinian, sebab keberadaanya memang berbarengan dengan wujudnya manusia itu sendiri sebagai potensi yang qodrati. Akan tetapi ketika kita bawa dalam ranah pemikiran sosial, maka kajian reproduksi menjadi kajian yang universal dan menjadi tak berujung untuk didiskusikan.

Kehidupan, sebagai sebuah sistem besar, selalu memperlihatkan beragam fenomena yang terjadi baik dari sis kemanusiaan itu sendiri maupun dari sisi nilai-nilai sosial kebangsaan. Atas berbagai problematika dan fenomena yang terjadi itu, harus kita lihat sebagai persoalan yang tidak saja bersentuhan dengan soal-soal ekonomi, kesetaraan sosial, HAM dan ketimpangan kebijakan lainnya, namun juga sangat dimungkinkan karena telah bergesernya pola hidup manusia dari konsep dan nilai-nilai dasar kemanusiaan itu sendiri.Karena itu sangatlah perlu dicarikannya rumusan-rusmusan yang berrsifat mendasar, sebagai upaya pencarian solusi dari akar semua masalah itu.

Dalam surat Al-A’raaf ayat 96 dinyatakan bahwa ;

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”

“Iman” tidak saja diartikan sebagai idiologi ketuhanan, tapi juga sebuah ‘kesadaran penuh’ atas misi dan tugas kekhalifahan manusia untuk mengelola serta membangun tatanan kehidupan ini, ketika yang terjadi adalah penyimpangan (pendustaan ayat-ayat tuhan) maka terjadinya pergeseran nilai, rapuhnya tatanan kehidupan adalah sebuah keniscayaan.

Konsep-konsep dasar itu adalah konsep yang bertalian dengan potensi manusia secara qodrati baik yang berhubungan dengan potensi akal (quwwah idrokiyah) potensi emosional (quwwah ghodhbiyah) dan potensi biologis (quwwah syahwiyah). Atas potensi biologis inilah aktivitas reproduksi menjadi sesuatu yang naluristik dan instingtif.

Selanjutnya kita harus sepakat bahwa kajian reproduksi dengan berbagai aspeknya adalah bagian dari upaya merumuskan solusi untuk mengurai sebagian dari akar berbagai problematika kehidupan, dari rumah tangga menuju rumah bangsa.

Tampaknya, ‘Manba’us-sa’adah’ hadir untuk itu, dengan referensi (mashaadir) dari kajian-kajian terdahulu maupun kekinian, kupasannya tak sebatas sisi keperempuanan secara naluristik, tapi juga sisi etika, tuntunan mu’asyaroh suami-istri, konsep-konsep membangun rumah tangga dan tentu saja kesehatan reproduksi (kespro). Semoga berkah buat semua.

 

 

IMG 5533

 

*Abdul Hannan adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Kalibuntu Pabedilan Cirebon

Sumber: Tanasul Edisi 14