Alhamdulillah kita telah memasuki bulan suci ramadhan, bulan penuh hikmah, sebuah bulan yang telah Allah pilih sebagai tempat turunnya Alqur’an,taurat,injil dan zabur demikian juga kitab kitab Allah yang lain.Bulan ramadhan adalah bulan dimana didalamnya ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, bulan dimana semua amal kebajikan dilipat gandakan pahalanya sampai lipatan yang manusia sendiri tidak dapat menghitungnya,bulan dimana pintu sorga dibuka selebar lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat rapatnya.Syetan syetan dibelenggu,amal sunnah didalam ramadhan sama dengan amalan fardhu di luar ramadhan dan masih banyak lagi nilai nilai yang terdapat di dalamya..

Pada hari ini, kita telah memasuki hari ke … dan telah … hari kita melaksanakan ibadah puasa,maka berbahagialah bagi mereka yang  melaksanakan perintah suci ini dengan suka rela,ikhlas karena Allah dan mengharap ridhaNya semata mata.,sebab, bukan saja mereka akan mendapatkan imbalan pahala yang cukup besar dari pekerjaannya ini,tetapi juga mereka akan suci bersih,diampuni segala dosa dosanya yang telah lewat. Nabi bersabda :
“Barangsiapa berpuasa pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Tuhan,maka diampuni segala dosa dosanya yang telah lewat”

Ada tiga penafsiran kata “ihtisaaban” dalam hadits diatas.
Pertama, ihtisaban diartikan sebagai “mengharap pahala dari Tuhan”.
Kedua, ihtisaban diartikan dengan “mencari ridha Allah” dan
Ketiga, ihtisaban diartikan dengan “muhasabah”,intropeksi,menghitung hitung kesalahan dan berusaha memperbaiki sikap diri.

Maka dengan demikian,hadits  diatas akan berarti : barangsiapa berpuasa semata mata menjalankan perintah Allah, menerima dengan rasa lapang dada, tanpa ada rasa keberatan menjalankannya, bukan karena tidak enak kepada teman teman atau tetangga atau menganggapnya sebagai budaya tahunan, kemudian diasaat yang sama memperhatikan betul prilakunya, dijaganya dari perbuatan dosa ,menghisab diri, menghitung hitung kesalahan diri, berusaha memperbaiki diri, maka akan diampuni semua dosa dosanya yang telah lewat.

Kewajiban berpuasa pada hakikatnya memberi peluang kepada manusia untuk sampai kepada nilai takwa yang sesungguhnya, sebagaimana Firman Allah :
 
“Hai orang orang yag beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa,sebagaimana diawajibkan atas orang orang sebelum kamu.agar kamu bertakwa”

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa tujuan utama diwajibkannya puasa adalah memberi peluang selebar lebarnya kepada orang orang mukmin untuk meraih derajat ketakwaan yang sesungguhnya.

Allah telah memberi peluang kepada kita untuk berkesempatan meraih derajat muttaqiin, maka marilah kita sambut, marilah kita gunakan peluang ini sebaik baiknya,marilah kita laksanakan ibadah ini dengan penuh khidmat,dengan penuh pengabdian kepada Allah dan dengan penuh harapan semoga puasa yang kita laksanakan ini akan benar benar mengantarkan kita ke pintu maghfirah,pintu ampunan dari dosa dosa yang telah kita lakukan.

Dalam rangka mencapai ketakwaan dan maghfirah ini. Nabi saw.sesungguhnya telah memberikan rambu rambu dalam hadits diatas yaitu :
Pertama, puasa yang kita laksanakan haruslah mempunyai dasar iman, hanya karena menjalankan perintah Allah, bukan karena ikut ikutan dan bukan kerena tidak enak kepada teman.

Kedua, puasa yang kita lakukan hendaklah berpijak pada mencari ridha Allah, bukan mengharap ridha selain Allah dan dalam waktu yang bersamaan berupaya memperbaiki sikap diri.

Memperbaiki sikap diri sendiri adalah sumber keselamatan yang paling efektif di zaman yang semakin indifualistis sekarang ini.ia akan menjadi modal utama kita melangkah apapun yang kita lakukan. Seorang yang berpuasa dan berihtisab akan jauh lebih berharga daripada seorang yang berpuasa yang hanya menahan perutnya dari makan dan minum.sebab orang yang berihtisab ketika akan melakukan sesuatu, dia akan bertanya,  apakah yang akan saya lakukan ini diridhai Allah atau tidak? mengganggu puasa atau tidak? Ketika dia akan berbuka, dia akan bertanya apakah makanan yang akan saya makan ini halal atau haram? Demikian seterusnya sehingga dia akan berusaha sekuat tenaga melakukan yang baik baik saja, dia akan mencari makanan yang baik baik saja.  Dia tahu betul bahwa makanan, perbuatan yang melawan hukum dan tidak diridhai Allah, akan menghapus pahala puasa walaupun dia menahan lapar dan dahaga disiang hari.

Pada kenyataannya, memperbaiki diri sendiri, memperbaiki keluarga sediri akan lebih berarti daripada berusaha memperbaiki orang lain. Menyibukkan diri dengan memikirkan kesalahan diri sendiri akan lebih berarti daripada memikirkan kejelekan orang lain,mendahulukan diri sendiri untuk berbuat baik akan lebih baik daripada menunggu orang lain berbuat baik.

Janji pengampunan dosa ini tidak hanya diperuntukkan bagi orang orang yang berpuasa saja,melainkan juga bagi orang orang yang mau meramaikan bulan ramadan,mendirikan bulan ramadhan dan mensyi’arkannya dengan tarawih,tadarrus,kirim mengirim makanan,ibadah malam dan amal kebajikan lainnya.Nabi bersabda  :

Begitu besar nilai yang terkandung didalam puasa sehingga hanya Allah saja yang tahu berapa pahala yang akan diberikan kepada hamba hambaNya .Allah befirman dalam hadits kudsi :

“Semua amalan anak adam adalah untuknya,kecuali puasa,ia adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya.[]

 


Sumber: www.daraltauhid.com