Meretas Kejumudan Dialog Lintas Iman

0
759

Rasa-rasanya benar juga. Bangsa Indonesia dengan khas budaya ketimuran ini ternyata cukup sensitif dan perasa. Bagaimana tidak, betapa mudahnya konflik terjadi di negeri ini. Apalagi yang berbau ras dan agama. Tidak terlalu sulit, antar kelompok agama di adu domba. Emosi umat-umatnya pun gampang disulut api amarah. Konflik demi konflik berubah menjadi kemelut yang menyala-nyala.

ITULAH kesan yang bisa kita rasakan hingga saat ini. Sejak dulu, sejarah Indonesia kerap diwarnai pertumpahan darah. Mayat-mayat tak berdosa bergelimpangan. Hasil dari benturan klaim keyakinan. Atau yang sengaja dibenturkan? Kasus Sambas, Ambon, Poso, Situbondo bisa dikenang sebagai contoh. Begitupun, pengrusakan tempat-tempat ibadah. Merupakan imbas dari konflik bias ini. Salah satunya, pengeboman gereja pada malam Natal akhir 2000. Betapa kemerdekaan kelompok agama tertentu kembali tercerabut. Fakta semisal tentu tidak diharap terjadi di lain tempat. Insan mana yang tak cinta kedamaian?

Fakta-fakta tersebut pulalah yang mengilhami beberapa tokoh di Cirebon mengambil suara padu. Membentuk wadah yang mengizinkan semua kelompok iman dapat bertemu. Sebagian pelopornya adalah aktifis Fahmina institute. Sejak pertengahan 2001, wadah itu eksis dan kemudian dikenal dengan Forum Sabtuan (FORSAB). Forum ini melibatkan komonitas lintas agama. Islam, Kristen dan Budha. Dialog-dialog inklusif, pluralis sebagai kegiatan utamanya. Dengan tema besar Meretas Kejumudan Dialog Lintas Agama.

Jadwal rutin dialog sepekan sekali. Bergerilya dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Antara kediaman anggota, hotel, maupun sesekali di markas Fahmina sendiri. Demikian pula pada Kamis (23/02/06) itu. Tak kurang dari tiga puluh peserta diskusi berjibaku. Tempatnya di kediaman Kang Mahrus di desa Losari Lor, wilayah penghujung Jawa Barat ini. “Maklum kalau kita terlambat satu setengah jam. Karena lokasinya memang cukup jauh. Di sini ini ujung Jawa Barat. Hanya membutuhkan beberapa menit untuk ke Jawa Tengah. Makanya di sini dikenal Becak Antar Propinsi, bukan cuma Bus aja loh” ujar Dosen STAIN Cirebon ini membuka acara, seraya disambut gelak tawa hadirin yang ada.

Tampak antusias beberapa pemuka agama. Prof. Adang Jumhur (Islam), Pdt. Yohanes (Kristen), Bpk. Surya (Budha) dan beberapa tokoh lainnya. Adang Jumhur di daulat sebagai Nara Sumber. Kurang lebih tiga puluh lima menit presentasi yang disampaikannya. Dari fakta sejarah konflik agama, pengembangan nilai-nilai universal Islam, hingga agenda mendesak kerjasama lintas agama. Menurut Adang, tafsir inklusif-pluralis harus senantiasa ditumbuhkembangkan dalam upaya pemahaman ajaran. Kegiatan penafsiran belumlah berakhir. Buku-buku tafsir yang ada hanya bagian dari upaya manusia memahami kalam ilahy sesuai konteks sejarahnya. Karena konteks yang berbeda, maka tafsir-tafsir kontekstual menjadi kebutuhan utama. Kebenaran hanya proregatif Tuhan semata.

Antara lain mengenai konteks dialog lintas agama. Metode tafsir harus diarahkan pada penghormatan dan penghargaan pada ajaran agama lain. Bukan berarti mengakui kebenaran agama lain, tapi menghormati ajaran mereka, dan setiap peluk agama punya hak menjalankan ajarannya masing-masing pula. Oleh karena itu, pluralisme bukan seperti yang dituding sebagian pihak sebagai upaya singkritisme ajaran. Bahwa kita hidup damai berdampingan, tidak ada kecurigaan, dan penuh toleransi, merupakan visi utama pluralisme dalam dialog lintas agama.

Adang mencontohkan dalam menafsiri ayat al-Qur’an yang mengatakan bahwa surga itu seluas langit dan bumi. Kalau begitu sungguh terlalu luas jika surga hanya diperuntukkan untuk satu kelompok agama tertentu saja, apalagi cuma menampung warga NU dan Muhammadiyah, menurut Adang disambut gemuruh suara peserta diskusi.
Di samping pengembangan tafsir pada nilai-nilai universal, perlu juga dilakukan langkah-langkah praktis di lapangan. Dialog tidak semestinya terhenti pada tataran wacana saja. Tapi dialog berkelanjutan pada aksi lapangan, hingga seluruh umat dapat menikmati manfaatnya. Adang menambahkan, perlu adanya kerjasama lintas agama dalam menangani problem-problem kemanusiaan. Seperti kerjasama di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat, penanganan bencana lingkungan (banjir, flu burung, dll), pemberantasan penyakit masyarakat (kenakalan remaja, narkoba, dan lainnya). Entah dalam bentuk apa, tentu saja hal-hal tersebut merupakan agenda mendesak bagi kita semua.
Secara bergilir, masing-masing memberikan argumentasi. Baik pihak Kristen maupun Budha sama-sama setuju dengan subtansi prensentasi Adang di atas, tetapi dengan dalil agama yang berbeda. Misalnya, Surya mengungkap tiga pilar ajaran Bhuda. Antara lain:

“Sâbbâpâpâssâ Akâranân
Kûsalãss Upâsampâdã
Sâcitâ Papin Odâpânân
Etân Bûddhânã Sâsânãn”
“Jangan berbuat jahat
Tambah kebaikan
Sucikan hati dan pikiran
Itulah ajaran para Budha”

Surya menjelaskan, siapapun yang telah mencapai derajat ini; tidak berbuat jahat, selalu berbuat baik, hati dan pikirannya suci, maka menurut ajaran Budha, dirinya telah mencapai puncak kebenaran. Konsep ini tidak terbatas pada pemeluk ajaran Budha saja. Pemeluk ajaran agama lainpun bisa lebih Budhis ketimbang penganut Budha sendiri. Jika kadar jiwa dan prilakunya sesuai dengan ajaran tersebut.

Pada pukul 17.00 wib, dialog pun di akhiri. Sebelumnya, agenda pertemuan bulan depan di sepakati. Alhasil, dialog-dialog serupa memang harus sesering mungkin dilaksanakan, dengan melibatkan banyak orang. Agar bangsa ini, tidak lagi perasa dan sensitif. Tidak mudah disulut amarahnya hanya karena klaim keyakinan. Karena masih banyak problematika kebangsaan yang lebih membutuhkan perhatian. []