Tidak sedikit ulama yang memberikan sanggahan terhadap tuduhan Abdul Wahab yang menyamakan tawashul dengan penyembah berhala. Salah satunya datang dari Jamil Afandi di dalam kitabnya “Fajru al-Shadiq”. Menurut Jamil, Abdul Wahab menggunakan ayat-ayat al-Qur’an yang dialamatkan kepada orang-orang musyrik guna mengkafirkan orang-orang yang bertawashul. Padahal, kata Jamil, antara penyembah berhala dan orang yang bertawashul jelas-jelas memiliki perbedaan yang signifikan.

Setidaknya ada lima hal yang membedakan penyembah berhala dengan orang yang bertawashul:

Pertama, orang-orang musyrik menjadikan berhala-berhala, para nabi, dan malaikat sebagai sesembahan mereka. Sedangkan orang yang bertawashul sama sekali tidak menyembah dan menjadikan mereka sebagai sesembahan. Yang dimintai pertolongan tidak lain dan tidak bukan hanyalah Allah Swt. Tawashul hanyalah sebuah media yang dapat menyampaikan permintaan tersebut.

Kedua, orang-orang musyrik meyakini sesembahan mereka sebagai Tuhan, sementara orang yang bertawashul tidak sedikitpun meyakini perantara (orang-orang yang ditawashuli) sebagai Tuhan.

Ketiga, orang-orang musyrik menjadikan tuhan-tuhan palsu itu (para nabi, malaikat, dan berhala-berhala) sebagai perantara sekaligus sesembahan untuk sampai kepada Allah Swt. Seperti yang ditulis al-Qur’an: “Kami tidak menyembah mereka (tuhan-tuhan) kecuali untuk mendekat dengan sedekat-dekatnya kepada Allah”. Ini berbeda dengan orang yang bertawashul yang menjadikan orang yang ditawashuli sebagai perantara tetapi tidak menyembahnya.

Keempat, tujuan atau maksud orang-orang musyrik menyembah berhala-berhala adalah taqarrub (mendekatkan diri), sedangkan tujuan orang-orang yang bertawashul adalah tabarruk (mengambil berkah) dan memohon syafaat.

Kelima, orang-orang musyrik meyakini bahwa Allah Swt. adalah jisim/dzat (substansi) yang berada di atas langit. Perkataan mereka “liyuqrribuna ila Allahi zulfa” yang dimaksudkan adalah makna hakikinya. Karena itu, mereka sebetulnya hendak mendekati tuhan langit dengan melalui perantara tuhan-tuhan bumi (berhala, nabi-nabi, dan para malaikat). Sementara ahlussunah wal jamaah berkeyakinan bahwa Tuhan bukanlah berbentuk jisim yang butuh pada tempat dan terikat waktu.

Ada banyak ayat al-Qur’an, hadits Nabi SAW, perkataan para sahabat (atsaru al-sahabat), atau pendapat para ulama yang membolehkan tawashul, diantaranya:

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله لعلكم تفلحون

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-Maidah[5];35)

Ibnu Abbas menafsirkan “al-wasilah” pada ayat di atas dengan “sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt.’ (kulluma yutaqarrabu ila Allah ta’ala). Al-tawashul pada ayat tersebut adalah sebagai bentuk penegasan (ta’kid) dari kata “ittaqu Allah” yang artinya “melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk” (fi’l al-ma’mur bih watark al-manhi anhu). Jadi, berdasarkan tafsir yang dilakukan Ibnu Abbas, tawashul adalah salah satu media untuk mewujudkan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Allah juga menegaskan di dalam firman-Nya:

وما ارسلنا من رسول الا ليطاع بإذن الله ولو انهم اذ ظلموا أنفسهم جاؤك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجد الله توابا رحيما

 “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seidzin Allah. Jika mereka yang menganiaya diri sendiri datang kepadamu, lantas memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS al-Nisa [04}:64)”.

Pada ayat di atas disebutkan bahwa Allah Swt.  juga menerima taubat sekelompok orang (kaum) berkat permintaan taubat dari Nabi SAW. Ini menegaskan bolehnya bertawashul kepada Nabi SAW karena beliau sendiri melakukan tawashul demi memohonkan ampun kepada kaumnya.
Tawashul juga bisa dilakukan dengan melalui perantaraan “nama-nama Allah”. Seperti yang disebutkan al-Qur’an:

ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون فى اسمائه سيجزون ما كانو يعملون

Allah memiliki nama-nama indah (asma al-husna), maka berdoalah melalui nama-nama itu. Dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang mereka kerjakan”

Sepeninggal Nabi SAW tawashul juga dipraktikkan oleh Bilal bin Harits. Pada saat kekhalifahan dipegang Umar, negara tertimpa kemarau panjang. Pada waktu itu, Bilal mendatangi kuburan Nabi dan berdoa; “Istasqi liummatika finnahum halakuu”  (Wahai Nabi SAW, mintakan hujan untuk umatmu yang tertimpa kelaparan). Setelah itu, dalam sebuah mimpi Nabi SAW mendatangi Bilal dan memberi tahu bahwa dalam waktu dekat hujan akan turun. Bahkan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim dari Anas bin Malik, Umar sendiri pada waktu itu bertawashul kepada Abbas, paman Nabi SAW. “Ya Allah, saya telah bertawashul kepada engkau dengan Nabi kami, maka engkau telah turunkan hujan. Dan sekarang kami bertawashul kepada engkau dengan bapak saudara kami, maka turunkanlah hujan itu. Maka turunlah hujan di atas mereka”. (Sahih Bukhari jilid I hal. 342 No. 864).

Al-Kastholani dalam “al-Mawahib al-Diniyyah” mengatakan; ketika Umar meminta hujan dengan bertawashul kepada Abbas, ia berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah SAW memperlakukan Abbas seperti bapak kepada anaknya, maka taatilah Nabi dengan perantaraan Abbas dan jadikan ia sebagai wasilah kepada Allah Swt.” Hal ini menegaskan bahwa tawashul tidak harus dikhususkan hanya kepada Nabi Muhammad SAW. Tawashul boleh kepada siapapun, baik nabi atau bukan, masih hidup atau sudah meninggal, karena mereka pada hakikatnya sama, yakni tidak bisa memberikan apapun yang kita minta, karena hanya kepada Allah Swt. semuanya berpulang.

Abdurrahman bin Muhammad bin Husein dalam “Bughyah al-Mustarsyidin” menegaskan bahwa tawashul kepada para nabi ataupun wali, baik yang sudah mati ataupun yang masih hidup, hukumnya boleh-boleh saja (mubah). Tawashul biasa dipraktikkan ulama-ulama dahulu secara turun temurun. Tawashul hanyalah majaz (metafora), hakikatnya tetap kepada Allah Swt. []


Sumber Buletin ASWAJA yang diterbitkan (1) satu bulan sekali oleh Lakpesdam Cirebon