PELATIHAN KPA & KPW TAHAP I BERLANGSUNG SEMARAK

0
547

Active ImageTransformasi sosial (social change) tidak bisa terjadi begitu saja. Akan tetapi, transformasi itu harus melalui sebuah proses yang berkesinambungan dengan melibatkan agen-agen perubahan di tengah-tengah masyarakat. Para agen perubahan tidak boleh terjerat oleh kepentingan pragmatis yang menafikan misi keadilan sosial. “Saat ini banyak sekali fakta-fakta miris di tengah-tengah masyarakat.Tidak sedikit para pegiatan sosial (LSM), aktivis partai maupun aktor negara, yang sejak awal menempatkan cita keadilan sosial sebagai misinya,tapi malah terjebak dalam arus konspirasi yang akhirnya malah menjadikan rakyat sebagai korban”, ujar Muslim Abdurahman di sela-sela materinya pada Pelatihan KPA & KPW Tahap I di Pusdiklatpri Cirebon, 11-15 November 2006.

Muslim sengaja memberikan refleksi-refleksi tentang gerakan-gerakan sosial di Indonesia selama ini. Karena diharapkan materi ini sebagai bekal tersendiri bagi Komunitas Pendidik Agama (KPA) dan Komunitas Penggerak Warga (KPA) yang nantinya akan melakukan kerja-kerja sosial secara kongkrit di komunitasnya masing-masing. Walaupun rangkaian pelatihan ini akan berujung pada kegiatan Jurnalisme Kemanusiaan Berbasis Komunitas dalam wadah Radio Komunitas (Rakom), akan tetapi sebelumnya, para aktor lapangan ini dibekali dulu dengan kemampuan-kemampuan spesifik untuk menggerakan sekaligus membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya Radio Komunitas bagi mereka.

Setelah selama dua hari dicekoki dengan materi-materi sosial-keagamaan, pada hari ke tiga, peserta disuguhkan pengetahuan tentang Jurnalisme Radio Komunitas, yang difasilitasi langsung oleh M. Natsir dan Cahyadi dari Combine Resourch Institute (CRI) Jogjakarta yang selama ini konsen di bidang pendampingan Radio Komunitas di beberapa sentra-sentra komunitas. Diantaranya, peserta dikenalkan tentang pentingnya Radio Komunitas (Rakom). Dengan Rakom, masyarakat di sebuah komunitas dapat berbicara tentang kehidupannya sendiri, mendapat informasi tentang realitas yang sangat dekat dengan dirinya, dan tentunya memudahkan mereka untuk berpartisipasi secara langsung.

Di hari ke empat dan ke lima, peserta di giring ke Lokasi Wisata Sidomba Kuningan untuk menerima materi Outbond yang difasilitasi oleh BAINA Outbound Organizer. Setidaknya, bagian akhir dari pelatihan ini dapat mempererat hubungan persahabatan maupun persaudaraan di antara peserta, karena kekompakan di antara mereka sangat dibutuhkan dalam kerja-kerja kemasyarakatan di waktua-waktu mendatang.[]