Refleksi Hari Bumi & Libido Industri

0
1030

Bumi menangis, iya menangis hingga berteriak mengeluarkan lahar, lava, dan partikel mengerikan dari dalam bumi, meronta dalam nestapa yang tiada kunjung berhenti. Berabad lamanya bumi di huni, sebagai anugrah tak terbantahkan bagi tiga mahluk yang di ciptakan semesta, memanfaatkan sebaik-baiknya, mengembalikan sirkulasi seperti sediakala, seperti upaya reboisasi atau go green (jika saat ini).

Dalam rujukan teologis mengacu pada teks skriptural dalam surat al-Hijr, ayat 19-20 dengan benang merah given dari semesta untuk makhluk yang bernafas. Atau dalam Undang-Undang pasal 33, ayat 2 mengenai keberlimpahan atas apa yang ada di atas bumi diperuntukkan bagi manusia. Namun dalam realitasnya, upaya seperti eksploitasi semacam menebang hingga menggantikan pohon dengan bangunan mewah ialah penistaan terhadap lingkungan atau dengan abrasi yang kian menghawatirkan memberikan dampak kecemasan bagi manusia, sekali lagi bumi bukan objek yang seenaknya dikuasai dan diperlakukan tak adil seperti apa yang terjadi saat ini, reklamasi di negri yang sejatinya kaya akan pulaunya.

Menanam dan menyiram dalam skema perlindungan akan bumi yang telah memberi segala kebutuhan manusia dan hewan, namun bukan serta merta menjungkirbalikan ekologi tanah yang telah tersusun rapi dengan segala keteraturannya, sehingga dalam pemberian nutrisi pada bumi tidak seyogyanya dilakukan dengan serampangan, seperti membubuhkan produk pupuk kimia yang kian mentereng cerobong pabriknya serta kroni-kroninya dari finishing uji coba laboratorium raksasa yang terus memperoksa bumi untuk memenuhi libido kerakusan manusia yang haus akan segalanya.

Secara akumulatif bumi kehilangan apa yang ia punya seperti hara, sirkulasi iklim yang tak menentu, dan rantai makanan yang di putus oleh kampak industri pupuk kimiawi. Bumi menangis, menjerit, dan kelaparan, tapi bumi tidak diam dengan hal demikian, tsunami, banjir, gempa dan kroni-kroninya melahap secara keseluruhan bagi mereka yang terus memaksa bumi untuk berproduksi.

Lupakan produk muslihat dengan jargon industri mainstream bernama “go green” yang dengan statistik tertentu hanya mengeruk keuntungan dari konsumen yang mau dibodohi, atau dengan penetapan harga plastik yang merujuk pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah namun reaslisasinya belum sampai pada kanal-kanal titik pembuangan sampah di pelosok-pelosok negri atau kota besar yang berlangganan banjir, tapi bagi konsumen yang membeli barang dalam swalayan mewah juga tidak terlepas dari pengerukan atas keuntungan bagi koloni pemerintah yang memiskinkan dirinya sendiri tapi nir-cinta terhadap bumi.

Iklim yang tiada menentu, setidaknya memberikan implikasi terhadap mereka yang membutuhkan bantuan matahari, penjemuran padi contoh kecilnya. Dengan adanya pemanasan global atau global warming sudah barang tentu ekosistem alam tidak seimbang, dan euforia akan keteduhan hanya menjadi celotehan para aktifis hijau. Bentuk pelatihan sampah menjadi urgen jika melihat hal demikian, namun keberlanjutan akan pemanfaatan sampah yang kadang kurang intens atau dengan istilah bubar jalan setelah adanya pelatihan tersebut, lalu berlupa-lupa ria dengan sampah yang menumpuk.

Terus tanam, dan tidak menambah beban bagi bumi yang telah renta, jadilah konsumen cerdas bagi produk-produk yang hendak dibeli. Tangan, dan fikiran kita menentukan bukan cerobong besar yang bermain aman dengan valas yang memebentang dalam layar-layar pasar ekonomi dunia tapi entah mau di jadikan apalagi bumi ini. Selamat berjuang untuk bumi, lupakan perbedaan.

 

*Penulis merupakan santri Dar At Tauhid Arjawinangun Cirebon