Warga Nahdliyin; Waspadai GAM, GAT dan GAB*

0
658

Lebih lanjut ketua umum PBNU ini menegaskan bahwa “Gangguan yang menimpa NU saat ini berasal dari aliran yang tidak sama dan bersifat transnasional politik. Jika gangguan itu masuk dan dibiarkan dapat memecah belah kalangan NU sendiri dan akan menimbulkan konflik dengan pihak lain. Karena itu, jajaran pengurus NU harus memberikan pengertian kepada warga nahdliyin”. Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh KH. Hasyim Muzadi pada saat mengahdiri musyawarah Kerja wilayah NU Sumatera Selatan (SUMSEL) di Asrama haji Palembang. Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang ini menegaskan bahwa setelah reformasi terdapat beberapa aliran yang masuk ke Indonesia. Pada dasarnya aliran-aliran ini di negara asalnya dilarang seperti Hizbut Tahrir yang dilarang diseluruh Timur Tengah karena menimbulkan pertentangan dengan negera.

Menghadapi kenyataan ini Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars ini, meminta agar warga NU lebih meningkatkan serta memperbaiki kembali kegiatan NU seperti zaman dulu yang setia menjalankan kegiatan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja). “Ini penting agar warga NU tidak mudah dimasuki paham baru -yang masuk ke Indonesia- yang membuat kebingungan di kalangan Nahdliyin,” tutur Hasyim.

Sebagaimana dilansir majalah “Risalah Nahdlatul Ulama” edisi 2, pada saat ini warga Nahdliyin sedang menjadi sasaran dari berbagai kelompok. Mereka menyerang dan melakukan Gerakan Anti Maulid (GAM), Gerakan Anti Tahlil (GAT) dan Gerakan Anti Barzanji (GAB). Dengan berbagai cara, mereka terus berkampanye baik melalui media massa, buletin, televisi, radio, khutbah jum’at dan lain sebagainya. Seperti yang terjadi di Kalimantan Barat, dengan mengatasnamakan santri dari salah satu pesantren NU mereka menulis buku dengan judul “Larangan Tahlil bagi Warga NU”. Demikian juga di Jombang Jawa Timur, dengan mengatasnamakan kyai NU, kelompok-kelompok ini mengeluiarkan fatwa yang melarang warga NU melaksanakan tahlil, ziarah kubur, qunut, wirid dan zikir, salaman dengan mencium tangan, larangan peringatan 7 hari, 100 hari dan haul bagi orang yang sudah meninggal dan kegiatan ibadah lainnya.

Menurut KH. Musthofa Bisri, larangan ini betul-betul hanya ingin memperkeruh dan mangadudomba warga NU. Dengan mengatasnamakan kyai NU mereka berharap agar fatwanya bisa diterima oleh warga NU. Oleh karena itu, lebih lanjut KH. Musthofa Bisri, sebagaimana dilansir http://www.nu.or.id/ mengimbau warga NU untuk tidak terprovokasi dengan fatwa tersebut. Karena sebagaimana investigasi yang dilakukan oleh pengurus NU setempat, nama-nama kyai yang menandatangani fatwa tersebut hanya fiktif belaka. Kalaupun ada nama tersebut, yang bersangkutan sudah meninggal beberapa tahun sebelum fatwa ini keluar.

Amalan yang telah mentradisi di mayoritas muslim nusantara, malaysia, singapura dan thailand seperti tahlil, maulid, kini sedang menghadapi tantangan yang cukup hebat dari gerakan wahabi salafi. Gerakan GAM, GAT dan GAB menggejala di kota-kota besar. Pelakunya bisa datang dari berbagai kelompok seperti Hizbut Tahrir, Jihadi, Jaula, Jamaah Tabligh, Dakwah Salafi dan lain sebagainya. Untuk mencapai tujuannya, gerakan ini menghalalkan berbagai cara. Disamping apa yang dikemukakan di atas, mereka juga sudah mulai merebut takmir masjid dan mushalla yang selama ini dipegang NU. Sebagaimana diungkapkan oleh Saifuddin Asmara, aktifis masjid di DKI Jakarta bahwa gejala GAM, GAT dan GAB ini mengkhawatirkan. Sebab mereka kini telah menyusup ke berbagai masjid kantor pemerintah, masjid kantor BUMN, bahkan telah berani memasuki masjid-masjid yang dikelola warga Nahdliyin.

Sa’dun, aktifis NU di Bekasi yang juga sering mengisi khutbah jum’at menemukan hal serupa. Menurutnya, ada beberapa masjid di Bekasi dan DKI Jakarta yang takmirnya kini telah berganti. Sebelumnya takmir masjid tersebut dipegang warga NU kini berganti ke kelompok wahabi. Karena jama’ahnya adalah warga NU, mereka kini berbenturan, sebab mereka melarang untuk tahlilan, dibaan dan barzanjian. Masih menurut sa’dun, upaya yang mereka lakukan sangat sistematis. Awalnya masuk masuk sebagai marbot yang juga menjadi muadzin shalat rawatib. Kemudian mereka menodorkan khotib-khotib yang honornya ditanggung kelompok mereka. Jadi takmir tidak perlu mengeluarkan amplop untuk khatib.

Mereka memanfaatkan sikap warga NU yang terlalu tawadhu dalam hal jabatan DKM. Karena biasanya warga NU saling lempar ketika ditawari jabatan untuk mengurus masjid. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh mereka untuk menguasai masjid. Dengan gerakan yang sistematis mereka secepatnya menyusun segala hal yang berkaitan dengan kegiatan masjid dengan susunan pengurus dan kegiatan yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Dengan demikian mereka tidak harus bersusah payah membangun masjid dengan biaya mahal, cukup dengan merebut masjid yang telah ada.

Di Cirebon sendiri, gerakan ini terus bergerilya dan melakukan gerakan (GAM, GAT, GAB, larangan ziarah kubur dan lain sebagainya) dengan menerbitkan buletin, khutbah jum’at, ceramah di radio dan berbagai kesempatan dan media lainnya. Dengan menggunakan jargon-jargon NU seprti Aswaja dan lain sebagainya, mereka mencoba menarik simpati warga Nahdliyin. Mereka berharap warga Nahdliyin bisa bergabung dengan mereka dengan meninggalkan amalan ibadah yang selama ini sudah dijalankannya.

* sumber: http://www.nu.or.id/ dan majalah risalah nahdlatul ulama edisi 2.
** penulis adalah pengasuh pondok pesantren kempek.


Sumber Buletin ASWAJA yang diterbitkan (1) satu bulan sekali oleh Lakpesdam Cirebon