KH. Syathori; Pelopor Hidup Bersama Dalam Keragaman

0
782

KH. Syathori adalah gambaran pribadi yang sederhana dan bersahabat dengan siapa saja, terutama masyarakat kalangan bawah. Tanpa membedakan agama, etnis, bahasa dan jenis kelamin.

Arjawinangun sebagai daerah yang multi etnis menyimpan keharmonisan di dalamnya. Kondisi yang kondusif bagi keragaman ini tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi melalui proses belajar masyarakat sejak lama. Dan diantara faktor pembentuk kondisi ini adalah adanya tokoh-tokoh masyarakat yang mempeloporinya. Di antara tokoh yang melegenda dan juga menciptakan kondisi damai ini adalah KH. Syathori (w. 1969) KH. Syathori adalah pendiri Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, sejak th. 1930. Beliau adalah ulama dan sekaligus juga penggerak warga setempat. Kiprahnya dalam bidang agama dan sosial sangat dirasakan pada zamannya, sehingga masyarakat merasa kehilangan sepeninggalnya. Sebagai seorang ulama pesantren, KH. Syathori adalah gambaran pribadi yang sederhana dan bersahabat dengan siapa saja, terutama masyarakat kalangan bawah. Tanpa membedakan agama, etnis, bahasa dan jenis kelamin.

Kararater populis (merakyat) beliau tunjukkan dengan seringnya mengunjungi rumah-rumah warga setempat. Terutama setiap habis shalat Jum’at, setiap ada pintu rumah warga yang terbuka, beliau pun tanpa sungkan bertamu dan bersilaturrahmi. Untuk sekedar bercengkerama dan ngobrol -ngobrol ringan dengan warga. Apa yang dilakukannya memang terlihat sepele, namun dengan demikian beliau dapat merasakan langsung persoalan dan apa yang dirasakan masyarakat sekitarnya. Sehingga dakwah melalui jalur pesantren dan pendidikan Islam yang dilakukannya tidak salah sasaran. Dalam hubungan antar etnis dan agama yang berbeda, KH. Syathori bukan hanya menghormati dan menghargai perbedaan yang ada, tetapi beliau juga aktif menciptakan hidup bersama secara damai. Ini ditunjukkan di antaranya ketika bulan puasa, di mana beliau memperbolehkan para Tionghoa, baik muslim maupun non-muslim untuk mengirim ta’jil (makanan buka puasa) kepada para santri dan muslim yang bebuka di masjid. KH. Syathori juga menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah tempat anak-anak Tionghoa dan non-muslim sekolah. Beliau membiarkan generasi penerusnya memahami keragaman sejak awal, tanpa harus khawatir anakanaknya terbawa atau terpengaruh agama lain.

Kerjasama dengan nonmuslim beliau lakukan juga dalam rangka membangun masyarakat secara bersama-sama. Karena ketulusannya dalam membangun kerjasama ini, ada tokoh Tionghoa setempat yang ahli dalam pengobatan, selalu menggunakan do’a-do’a yang berasal dari Al- Qur’an, meski dia bukan muslim. Ini dia lakukan, karena do’a-do’a tersebut diajarkan KH. Syathori terhadapnya. KH. Syathori tidak memaksanya untuk memeluk agama Islam, tetapi mengajarinya beberapa do’a penyembuhan. Dan nyatanya do’a itu ampuh untuk menyembuhkan, kata Hok, Cucu Sang tokoh Tionghoa yang ahli pengobatan tersebut.

Apa yang dilakukan KH. Syathori dalam menghargai dan mengusung keragaman, sedikit banyak berdampak pada kehidupan rukun dalam kebersamaan di masyarakat. Ini mengingat ketokohannya dalam bidang agama dan bermasyarakat. Sebagai tokoh agama, KH. Syathori adalah ulama cerdik pandai pada zamannya.

Selain karena darah ulama yang mengalir dalam dirinya, penguasaaanya dalam kajian kitabkitab kuning, dan sikap kebersahajaannya, membuat masyarakat dengan mudah ’jatuh hati’ terhadapnya. Dari silsilahnya, KH. Syathori adalah putra dari pasangan KH. Sanawi dan Ny. Hj. Arbiah. KH. Sanawi adalah seorang penghulu dan perintis pesantren Dar Al- Tauhid, dia adalah putra KH. Abdullah bin KH. Muhammad Salabi Lontang Jaya, seorang ulama dan pejuang penentang kolonialisme Belanda pada ’Perang Kedongdong’.

Sementara Ibundanya, Ny. Hj. Arbiah bin H. Abdul Aziz adalah masih keturunan Sultan Banten, Pangeran Sura Manggala yang memerintah th. 1808, yang diujung silsilahnya menunjukan bahwa ia masih keturunan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati). Legitimasi ’darah biru’ ini biasanya bagi kalangan bawah dan beberpa kalangan di masyarakat, cukup menjadi legitimasi ketokohan sesorang.

Selain itu, ketokohan KH. Syathori dikenal karena penguasaannya terhadap khazanah kitab kuning. Diceritakan bahwa gurunya KH. Hasyim Asy’ari pernah mengatakan bahwa, ”Arekarek Cirebon dan Indramayu yang ndak sempat ngaji marang aku, kono kae marang Syathori”. Atas himbauan kiai pendiri NU ini, pesantren dan ketokohan KH. Satori pun makin mendapat hati di masyarakat Arjawinangun, Cirebon dan sekitarnya.

Selain berkiprah di kalangan santri dan masyarakat bawah, KH. Syathori juga sosok yang aktif dalam organisasi tingkat nasional pada zamannya, di PBNU. Karena ketokohannya inilah dan karena perannya dalam membangun kerukunan umat di Arjawinangun, kerukunan antar etnis dan antar agama hidup subur di Arjawinangun.[]

Sumber: Blakasuta Ed. 13 (2008)