Sabtu, 14 September 2019

Paket Air Mata TKW Kota Mangga

Baca Juga

Selama kurang lebih lima tahun (sejak tahun 2002) seorang penyair Indramayu, Acep Syahril melakukan ”pemburuan” terhadap surat-surat yang dikirim oleh para TKW (baca: buruh migran) asal Indramayu. Acep berniat surat-surat dari TKW itu kelak akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Dari buku inilah ia berharap agar para calon TKW khususnya dan pemerintah serta masyarakat umumnya dapat mencercap hikmah dari pengalaman empiris dan bercermin langsung dari air mata mereka.

”Selama ini air mata mereka tidak tertampung di tempayan. Tapi mengalir dalam keranjang dan mengering tanpa bekas di antara tumpukan dolar atau rupiah yang ikut mewarnai perekonomian negeri yang korup ini,” ujar Acep kepada penulis suatu ketika. Mengumpulkan surat-surat TKW dari keluarga atau saudara mereka tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Acep harus mampu menembus birokrasi keluarga atau saudara mereka. Maklum, di samping sifatnya yang privacy, para keluarga TKW juga khawatir jika surat-surat itu nantinya akan disalahgunakan atau dimanfaatkan.

Namun dengan tabah, ia melakukan berbagai upaya. Salah satunya melalui pendekatan dengan paman, bibi, atau saudara TKW yang ia kenal. Ia akhimya berhasil mengumpulkan 389 surat dari 148 responden. Surat-surat itu berasal dari TKW yang bekerja di Qatar, Riyadh, Malaysia, Taiwan, Abudhabi, Bahrain, Jordania, Saudi Arabia, Damascus, Singapura, Dubai, Bisha, Shaija, Fujerah dan Barka.

Pengirim surat yang bekerja di berbagai negara itu berasal dari desa di wilayah Kabupaten Indramayu seperti dari Sliyeg, Karangampel, Sindang, Kedokan Bunder, Losarang, Krangkeng, Juntinyuat, Cikedung, Balongan, Tukdana, Widasari, Arahan, Bangodua, Anjatan dll. Penulis merasa beruntung karena dipercaya untuk menjadi editor buku yang berisi surat-surat dari TKW ini. Beruntung karena penulis seperti diajak langsung merasakan aliran air mata yang dialami oleh tenaga kerja wanita di sana.

Memang, berita mengenai penderitaan tenaga kerja wanita kerap dilansir di media masa, baik di media cetak, maupun layar kaca. Akan tetapi membaca berita dengan membaca surat-surat mereka berbeda. Berita lebih bersifat selintas (karena keterbatasan kolom/waktu) dan mengedepankan unsur tragik (karena tuntutan norma berita).

Sementara surat lebih bersifat kronologis, humanis, orisinil dan yang penting ia menuangkan seluruh magma kegelisahan jiwa pelakunya. BaikIah, penulis akan mengutip surat yang ditulis oleh seorang TKW dari Kedokan Bunder untuk suaminya. Surat-surat tersebut ditulis dalam bahasa Jawa Indramayu, namun untuk mempermudah pembaca memahaminya, sengaja ditulis dalam bahasa Indonesia.

(…………….. Mas, Anah di sana perutnya kambuh terus. Karena naik turun dari tingkat. Apalagi kalau sedang haid. Pokoknya tersiksa sedangkan majikan tak mau mengerti. Kadang-kadang dibawa berobat, katanya potong gaji. Itu pun tetap saja tidak sembuh.

Mas, bagaimana kalau Anah pulang saja. Marah tidak keluarga Bapak? Karena Anah tersiksa kerjanya sangat cape, Diombang-ambingkan melebihi batas.

Anah kerja di tiga rumah. Bayangkan Anah tenaganya tidak kuat. Makanya boro-boro sembuh malah tambah kambuh. Mas, tiap hari Anah berurusan dengan majikan. Karena majikan rewel, sampai-sampai kaki Anah disiram dengan air panas baru mengambil dari kompor gas. Anah sampai menangis.

Majikan Anah sudah tua, tapi ganas. Anak laki-lakinya saja kalau dimarahi sampai habis-habisan. Anah kalau berurusan dibela oleh anakanaknya. Sampai-sampai tidak diberi makan karena membela saya. Mas, majikanku kikir tidak diberi apa-apa. Majikan Anah melarat, saya saja yang memberi gaji anaknya.

Mas, anah difitnah disangka kencing di dapur serta disangka buang ingus di dapur. Sayang saya belum bisa ngamong lancar (bahasa Arab), meskipun begitu saya lawan saja.

Gara-gara urusun mencuci piring saya mau dibawa ke kantor polisi. Tapi Anah tidak takut. Malah tertawa Dasar majikan Gila!…….. ) ” Sengaja surat Anah penulis kutip agak panjang. Karena surat Anah dapat dikatakan sebagai ”nada dasar” korespondensi kesedihan pada TKWTKW pada umumnya.

Kesedihan yang kerap kali dialami oleh TKW antara lain kerinduan kepada keluarga di Indonesia, kekerasan yang dilakukan majikan, volume pekerjaan yang tidak sesuai dengan perjanjian, pelecehan seksual, penyiksaan, gaji yang tidak dibayar dan lain-lain.

Selain Anah, TKW yang rajin menginformasikan kemalangannya melalui surat adalah Yani. Gadis belia yang hanya tamatan SD ini dengan panjang lebar menuliskan kemalangannya: inilah salah satu kutipannya: “Pak, Yani dapat majikan kurang baik dan jahat, sering mukul. Dan Yani kerjanya berat sekali. Yani ngurusin rumah empat. Gede-gede lagi. Belum lagi Yani dicaci maki serta dipukul sama Mama (panggilan untuk majikan perempuan). Terus Yani nggak ada yang namanya istirahat Yani disuruh kerja terus dan keluarga majikan bertengkar terus. Nggak sama anak-anaknya sama suaminya. Terus yang jadi sasaran Yani. Yani tiba-tiba dimarahin serta dipukul nggak tau apa yang salah. Oh ya, Yani juga pernah diliatin (dihunuskan) pisau (di) leher Yani, Yani udah pasrah kalau Yani mati…… “

Wirid, Dukun dan Kyai
Jarang diungkap di media masa bahwa tradisi meminta pertolongan kepada kyai atau dukun telah menjadi ritual bagi banyak TKW. Mereka biasanya memohon doa, ajimat, air, minyak sebelum mereka berangkat atau, ketika menemui masalah di negara tempat kerja dan tatkala pulang ke negerinya.

Bagi mereka yang tergolong sukses biasanya mereka melakukan ritual bancakan (membagikan nasi urab, ikan asin, tempe dan yang semacamnya) memberi pecingan (bonus) dan lain-lain

Di desa Gadingan ada tradisi menarik bahwa setiap TKW yang baru datang biasanya mereka menyisihkan sebagian rejekinya untuk kepentingan masjid setempat. Tradisi meminta pertolongan kepada dukun seakan meneguhkan betapa rentannya keberadaan mereka. Mereka seolah sedang mamasuki rimba gelap tanpa ada kompas yang menjadi pegangannya.

Untuk mengetahui hal ini baiklah saya akan kutip kembali sebuah surat yang berisi tentang permohonan pertolongan kepada dukun: “…………. Pa,k tolong syaratana (Minta doa kepada kiyai atau dukun) Yani, gimana supaya mereka menjadi baik dan apa yang diomongin yani mereka nurut. Soalnya Yani pengen ada temen kerja.

Oh ya, terutama Mama (majikan perempuan) yang paling jahat yang sering mukul. Terus anak-anak serta Baba (majikan laki-laki). Bikin mereka jadi kasihan dan baik. Pak, semua minyak (minyak pemberian dari dukun, pen) dan besel (kain yang berisi azimat) dari Pangurangan itu nggak mempan. Jadi tolong mintain yang paling pinter kiyainya tolong cepet-cepet jalukakan Yani. Yani udah nggak tahan………” Beberapa bulan kemudian Yani kembali mengirimkan surat, berikut kutipannya: “…….Kok nggak ada perubahanperubahan, katanya sudah disyaratin (di doakan). Malahan Mama tambah parah saja. Juga Baba sekarang sifatnya sama kaya Mama….. Oh ya Yani mau bilang, kalau Mama pernah sifatnya robah. Tiba-tiba baik sama Yani, tepatnya pada tanggal 25 Januari 2005. terus Yani berpikir mungkin di rumah lagi disyaratin. Tapi Cuma empat hari Mama baik sama Yani (selanjutnya) kok nggak ada perubahanperubahan sama sekali, malahan tambah parah. Bapa tolong deh cari (kiyai, dukun) kemana kek, yang lebih manjur syaratnya. Tapi kalau seandainya Ema, Bapa sudah angkat tangan ya sudah lah Yani sudah pasrah”.

Pelecehan Seksual
Dari ratusan surat-surat yang berhasil dikumpulkan, hanya ada 4 surat yang bertema tentang pelecehan seksual. Adagium yang menyatakan bahwa merekonstruksi (membayangkan, menceritakan ataupun menuliskan) pelecehan seksual, pemerkosaan adalah sama dengan pemerkosaan itu sendiri agaknya masih dirasakan oleh sang korban.

Namun di antara mereka ada yang masih memiliki energi batin untuk menuliskan pelecehan seksual. Surat itu kemudian dikirimkan kepada rekannya yang saat itu masih sama-sama menjadi TKW. Berikut kutipannya: “……….. Kamu tahu nggak walaupun umurnya belum seberapa kalau otaknya (anak majikan) udah ngeres! Tahu nggak gokilnya lagi dia ngajak aku kencan, sebentar katanya, lalu dia kasih aku uang. Tapi aku nggak mau dengerin dia. Karena menurutku dia masih ingusan.

Lebih parah lagi waktu aku lagi cuci piring, dia pegang aku dari belakang, ”burungnya” itu lho dia dekatkan ke kepalaku, langsung saja aku tampar mukanya. Lalu aku siram pakai air, tapi dia tetap cengar-cengir. Aku katakan saja bahwa kamu gila. Dia juga suka banget waktu itu nyolek pantatku, aku marah tapi dia tetap begitu ………. “ Selain pelecehan seksual hal yang cukup menyiksa batin adalah rasa rindu yang mencekam terhadap kampung halaman.

Dapat dibayangkan, mereka pada umumnya tidak memiliki pengalaman merantau, belum menguasai bahasa asing, belum banyak wawasan budaya bangsa lain, tiba-tiba dia terjun langsung ke ”alam yang baru” tanpa perbekalan yang memadai. Karena itu tidak sedikit TKW yang pulang dari negara tempat dia bekerja menjadi depresi bahkan gila. Untuk mengusir rasa kangen terhadap keluarga dan kampung halaman biasanya TKW melakukan berbagai upaya. Inilah diantaranya : (………. ‘Dik Uum tolong bawakan kaset untuk Kak Sum ”Basah-basah”, ”Kumbah-Kumbang”, ”Mabuk Janda”. Terus (aku) minta ”Peterpan ” pokoknya minta yang banyak. Sum-nya ingin mendengarkan lagu-lagu Indonesia. (Kaset apa saja titipkan yang banyak lho) biar lagu-lagu lama juga. Terus kaset lagu-lagu jawa, terus kamera Kak Lia. Terus Sum ingin melihat poto-poto kumpulkan terus titipkan. Okey! …. terus poto-poto waktu reuni Kang Sum sekolah”.

Demikianlah, membaca surat-surat dari TKW, saya seperti mendapat kiriman paket air mata dari negeri seberang. Air mata itu dikirim oleh ”pahlawan devisa” yang ingin merubah nasib kehidupan dirinya dan keluarganya. Istilah pahlawan devisa sepintas seperti mengolokolok. Padahal mereka memang layak disebut pahlawan. Betapa tidak, mereka bersedia mengorbankan jiwa dan raganya untuk perubahan kemanusiaan jumlah mereka tidak sedikit.

Menurut data dari FKBMI (Forum Kornunikasi Buruh Migran Indramayu) jumlah buruh migran asal Indramayu mencapai 60.000 orang. Berdasarkan dari Pos & Giro Indramayu tercatat sedikitnya menerima 4.500 surat biasa, 2.000 jenis surat tercatat dan 1.500 jenis ekspres mail service (EMS) dalam setiap bulannya.

Sedangkan untuk pengiriman uang melalui western union sebanyak 3.000 transaksi dengan nilai ratarata Rp. 10 milyar setiap bulannya. Jumlah ini belum termasuk transaksi yang dilakukan oleh bank-bank yang jumlahnya kemungkinan jauh lebih besar.

Sebagai pahlawan, alih-alih mereka mendapatkan ”bintang jasa”, malah yang sering mereka terima adalah perlakuan pemerasan, penipuan, dan penyiksaan. Faktor pendidikan disinyalir sebagai salah satu faktor yang menyebabkan posisi mereka menjadi rentan. Umumnya hanya tamatan SD dan sedikit dari SMP atau MTs. Dalam akhir surat yang penulis baca, tidak sedikit mereka menuliskan pantun seperti ini: Makan jeruk makan delima// Minumnya dengan coca cola //Tulisan buruk jangan dihina//Maklum tidak sekolah.

Menurut beberapa aktivis buruh migran posisi rentan para TKW/TKI ini bisa diantisipasi dengan pembekalan informasi dan ketahanan warga. Pembekalan informasi itu antara lain bagaimana agar sebelum berangkat para calon TKW diberi pengetahuan tentan perjanjian kontrak, prosedur laporan bila ada masalah, pengetahuan jaringan lembaga-lembaga advokasi bila mereka membutuhkan pendampingan.

Untuk mengurangi aliran air mata, baik saya akan kutip surat dari Dewi yang bernasib mujur di negara rantau. Begini katanya, (……. Pak, kaluarga majikan saya sih baik sema. Waktu Hari Raya Iedul Adha, anaknya membelikan jam tangan untuk saya. Saya tuh senang sekali di sini. Di sini saya seperti bukan pembantu. Orang di sekeliling saya semuanya sayang sama saya. Alhamdulillah makan sama-sama di meja makan, Sholat inginnya bersama-sama saya …..)” Sayangnya, menurut penelitian yang dilakukan oleh Masrifah seorang aktivis di FKBMI Indramayu, TKW yang bernasib baik seperti Dewi tak lebih dari 20%. Sisanya? Masih tetap setia mengirimkan paket air mata ……

 

Sumber: Blakasuta Ed. 14 (2008) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan Gunung Jati disarankan untuk tidak...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua fraksi DPR tergesa-gesa menyetujui revisi...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah membentuk Panja untuk pembasan RUU...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan memberinya naluri-naluri dan hasrat-hasrat seksual...

Populer

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Dakwah Budaya; Belajar Kepada Para Wali

Oleh: Abdul RosyidiPada saat Syarif Hidayatullah mendarat di Cirebon, pertama kali dia menemui Uwaknya, Pangeran Walangsungsang. Oleh Walangsungsang, Sunan...

Enam Alasan Mengapa Presiden Harus Tolak UU KPK Jika Tidak Ingin KPK Mati

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASudahkah Anda baca usulan revisi DPR terhadap UU KPK? Sudahkah Anda menemukan jawaban mengapa semua...

Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak DPR RI Segera Sahkan RUU P-KS Sebelum Masa Jabatan Berakhir

Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah masuk dalam Prolegnas sejak 26 Januari 2016. DPR RI juga telah...

Manusia Sebagai Makhluk Seksual

Oleh: Dr. Hc. KH. husein MuhammadManusia di samping makhluk berpikir ia juga adalah makhluk biologis-seksual seperti juga binatang. Tuhan...

Perjumpaan dan Etika

Oleh: Abdul RosyidiIni masih tentang ‘Ruang Perjumpaan’. Emmanuel Levinas, filsuf kontemporer Perancis percaya bahwa etika bukanlah sesuatu yang abstrak,...

Teori Interdependensi dan Mubadalah

Oleh: Abdul Rosyidi Satu yang paling menarik dan berbeda dari paparan KH Faqihuddin Abdul Kodir saat Bengkel Mubadalah di Malaysia...

Artikel Lainnya