Kaum pengembara (Ghuraba) akan selalu hadir pada setiap situasi sejarah social yang sarat konflik, menjelang runtuh atau ketika jalan sejarah tak lagi lurus. Mereka hadir untuk  mendakwahkan, mengajak dan menawarkan kepada masyarakat manusia untuk kembali ke ide keasalan dan janji primordial manusia, saat mereka belum mewujud di bumi. Tuhan mengatakan: “Alastu bi Rabbikum?. Qalu Bala” (Bukankah Aku Tuhan kalian.” Mereka menjawab : “Ya, Engkau Tuhan kami. Engkaulah Satu-satunya yang Eksis. Para pengembara memproklamirkan kembali doktrin Tauhid itu, seraya menyerukan agar manusia kembali kepada Dia, kepada Siapa seluruh yang mewujud di jagat raya, harus menyerah, bersimpuh, luruh dan menundukkan diri sepenuhnya dan seluruhnya.

Mereka juga menjajakan tentang kehanifan (kejujuran, ketulusan dan jalan lurus). Di atas landasan itu, mereka, tampil gagah bagai kesatria untuk memberangus praktik-praktik kekuasan yang despotik, tiranik dan membodohi rakyat jelata yang selalu direndahkan, dipinggirkan dan dikucilkan. Pada saat yang sama mereka hadir untuk menancapkan kembali pilar-pilar kemanusiaan yang terkikis, hilang atau diberangus oleh otoritas-otoritas social, politik dan keagamaan yang bekerja demi kepentingan dan kekuasaan diri, keluarga, kelompok atau golongannya. Ide-ide kemanusiaan yang ditawarkan para darwisy itu tak pelak mengguncang dan merontokkan setiap otoritas politik, kebudayaan dan keagamaan tersebut. Para pemegang otoritas itu lalu menggunakan tangan kekuasaannya untuk menggerakkan massa awam guna melawan sang darwisy pengembara itu. Mereka bukan tak mengakui kehebatan, kebenaran, kejujuran dan kecemerlangan pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan cerdas sang darwisy pengembara itu, melainkan karena semata-mata cemburu buta kepadanya atau takut terhempas dan “melarat”.

 

Di jalan cinta, seratus bahaya terbentang

Di taman rindang berbunga,

Para perindu, tak punya jalan menghindar

dari badai dan semak ilalang.

Sang pengembarapun menerjang

Bilapun ia dipaksa pergi

Ia akan tetap berdiri tegar, tanpa gentar

Sambil berkata : “The death is the gate of Life”

 

Para pengembara seperti itu, dalam perjalanan sejarahnya kemudian, menjadi para kekasih dan sahabat Tuhan. Al-Syeikh al-Akbar Muhyiddin Ibn Arabi, sang maestro dalam sufisme, menyebut : “para  pengembara akan selalu hadir pada setiap zaman sampai dunia berakhir, berantakan dan hancur lebur. Tak boleh ada zaman kosong tanpa sang pengembara, sang wali, sang kekasih, sang sahabat. Ini karena mereka adalah para penerus dan pewaris risalah kenabian. Mereka adalah para penjaga bumi dan dunia kemanusiaan. Bila mereka tak hadir, maka dunia akan kacau balau, porakporanda. Al-Hujwiri mengatakan :

 

جَعَلَهُمُ اللهُ أَوْلِيآءَ الْعَالَمِ حَتَّى اَنَّ الْاَمْطَارَ تَمْطُرُ مِنَ السَّمَآءِ بِبَرَكَتِهِمْ وَيَنْبُتُ النَّبَاتَ مِنَ الْاَرْضِ بِصَفَآءِ اَحْوَالِهِمْ وَيَنْتصِرُ الْمُسْلِمُونَ عَلَى الْكُفَّارِ بِهِمَّتِهِمْ .وَلَولَا الْاَوْلِيَآءُ لَفَسَدَ نِظَامُ الْعَالَمِ وَانْهَارَ كَمَا تَنْهَارُ الدَّوْلَةُ بِدُونِ مُوَظَّفِين وَحُرَّاسٍ وَجُنُودٍ

 “Allah menjadikan mereka para sahabat dunia, sehingga, berkah kehadiran mereka, hujan akan turun dari langit (lalu menyuburkan tanah-tanah yang gersang) dan menumbuhkan pepohonan dari tanah subur. Berkat cita-cita mereka, orang-orang yang menyerahkan diri kepada keputusan Tuhan (al-Muslimun) akan mengalahkan musuh-musuh mereka yang ingkar kepada kebenaran (al-Kuffar). Andaikata  mereka tak hadir, system dunia akan luluh-lantak, dan menjadi chaos bagaikan Negara tanpa pemerintah, tanpa polisi dan tanpa tentera.”

 

Gus Dur adalah darwisy pengembara di belantara raya bumi manusia. Ia seperti tak pernah lelah berjalan, mengelana ke mana-mana, ke negeri antah berantah, menuruni lembah-lembah, mengarungi gurun pasir yang kering kerontang dan gersang, mendaki gunung-gemunung yang terjal dan meliuk-liuk, menapaki jalan setapak yang lengang, atau menerobos rimbaraya yang penuh ilalang dan onak-duri, meski ia harus sendirian karena yang lain tak lagi peduli. Di sana ia melihat keindahan-keindahan semesta, ciptaan Tuhan.