Pidato kebudayaan : RINDU SANG DARWISH PENGEMBARA (Bagian 4)

0
855

Gus Dur adalah seorang pengembara untuk dunia hari ini, paling tidak di sini, di negeri ini. Dia telah meninggalkan jejak di mana-mana, bukan hanya di sini, Jombang, tanah dan tempat ia dilahirkan, tetapi juga di bumi Nusantara dan berbagai negeri yang jauh, dengan langkah yang begitu mengesankan ; menelusup ke jantung rakyat jelata dan merenggut hati mereka diam-diam. Dan Gus Dur telah menitipkan pikiran-pikiran dan hati nuraninya kepada sahabat-sahabat yang ditinggalkannya : “Gusdurian”. Meski sebagian orang menyebut pikiran-pikiran itu “menyimpang”, atau “sesat”, tetapi sesungguhnya, ia adalah pikiran-pikiran para bijak bestari, para kekasih Tuhan, para zahid dan mereka  dianugerahi kearifan-kearifan perennial (al-Hikam al-Ilahiyyah).

 

“Para bijakbestari adalah manusia-manusia pilihan Tuhan, karena mereka telah mengerahkan seluruh hidupnya untuk memeroleh keutamaan-keutamaan jiwa dan pikiran-pikiran manusia. Mereka membagi kebaikan perennial itu dengan suka rela. Mereka adalah lampu-lampu dunia dan orang-rang yang meletakkan dasar-dasar etika kemanusiaan. Andaikata mereka tidak hadir, dunia manusia berada dalam kegelapan dan kehancuran”.

 

انَّ الْغُرَبَآءَ هُمْ أَهْلُ الْاِسْتِقَامَةِ. هُمُ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ الدُّنْيَا عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ, وإذَا الْتَبَسَتِ الْاُمُورُ. هُمْ أَهْلُ الْخَيْرِ الَّذِينَ ثَبَتُوا عَلَى الْحَقِّ وَاسْتَقَامُوا عَلَى دِينِ اللهِ وَوَحَّدُوا اللهَ وَأَخْلَصُوا لَهُ الْعِبَادَةَ. هَؤُلاَءِ هُمُ الْغُرَبَآءُ. فَطُوبَى لِلْغُرَبَآءِ

 

Orang-orang asing itu,

adalah mereka yang selalu teguh

(pada prinsip-prinsip kemanusiaan)

Orang-orang yang memperbaiki kehidupan social

Ketika telah rusak dan retak

Dan ketika segalanya jadi berantakan

 

Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan hati bersih

Yang tetap berjalan di atas kebenaran

Yang teguh pada keyakinan yang benar

Yang Meng-Esa-kan Tuhan

Yang tulus mengabdi kepada-Nya

Mereka itulah orang-orang asing

Dan berbahagialah duhai para Darwisy Pengembara

 

 

فَالزَّمَانُ قَدْ خَلَا عَنْ أمْثَالِ هَؤُلاَءِ الْفُضَلاَءِ. وصَارَ الْخلْقُ كُلُّهُمْ – الا ما شآء الله – مَغْمُورِيْنَ بِالْجَهَالَةِ/الْجُهَّالِ. فإِنْ كُنْتَ مِنَ الطَّالِبِينَ الْمُجِدِّينَ وَأَهْلِ الْعَقْلِ الْمُهْتَدِينَ فَعَلَيْكَ بِاتِّبَاعِ أَثَرِهِمْ وَالْفَحْصِ عَنْ حَقِيقَةِ خَبَرِهِمْ. فَمِثْلُهُمْ بَيْنَ عَيْنَيْكَ.

 

“Zaman, telah sepi dari kehadiran para bijakbestari, tokoh besar kemanusiaan. Umat manusia berjalan tanpa lilin, tanpa cahaya dan diliputi ketidakmengertian/orang-orang yang tak mengerti. Bila engkau seorang pencari jalan Tuhan dan pemikir yang terbimbing seyogyanya menapaki jalan hidup mereka dan mencari-cari dengan serius kabar. Yang seperti mereka itu ada di diantara kedua matamu”.

 

Hari ini bumi Nusantara membutuhkan seribu Gus Dur. Yakni orang-orang yang mengabdi kepada dunia kemanusiaan dengan tulus, jujur, asketik dan rela menanggung luka. Yang kepala dan dada mereka terbentang lebar bagi segala pengetahuan dan kebijaksanaan. Yang menghimpun di dalam dirinya kepekaan nurani dan keberanian seorang ksatria. Yang membagi cahaya ilmu, keadilan dan cinta. Yang memberikan kebaikan karena kebaikan itu sendiri, bukan karena selain itu. Para bijakbestari berpesan :

 

فَعَلَيْكَ اَنْ تُعَوِّدَ نَفْسَكَ عَلَى عَمَلِ الْخَيْرِ لِاَنَّهُ خَيْرٌ, لَا تُرِيدُ بِفِعْلِكَ عِوَضاً وَلَا يَحْمِلُكَ عَلَى فِعْلِهِ خَوْفٌ فَمَتَى فَعَلْتَ لِطَلَبِ الْمُكَافَأَةِ لمَ يَكُنْ عَمَلُكَ خَيراً.

 

“Biasakan dirimu melakukan sesuatu yang baik semata-mata karena ia baik, bukan karena berhasrat imbalan dan tidak pula karena rasa takut. Manakala engkau melakukannya karena berhasrat imbalan, maka pekerjaanmu itu bukankan kebaikan”.

 

Kita membutuhkan biji-biji unggul dan bersih,sekarang dan segera, untuk mewujudkan harapan-harapan kita di masa depan.

 

Kita harus mendukung dengan apresiasi penuh dan aktif,setiap inisiatif dan gerakan untuk keragaman eksistensi, budaya dan agama.

 

Demikianlah. Saya akan mengakhiri “Pidato Kebudayaan” ini dengan sebuah puisi : 

 

Aku telah menulis seribu kata untuk dia

Menggubah dua puluh tujuh puisi

Namun, duuh, selalu saja tak cukup

Hingga aku harus berkata seperti Socrates

Semua yang aku tahu

Sesungguhnya aku tidak tahu

 

خَيَالُكَ فِى عَيْنِى ** وَذِكْرُكَ فِى فَمِى  ** وَهَوَاكَ فِى فُؤَادِى ** فَأَنْتَ اَنَا فِى كُلِّ حَالِ

Bayang-bayangmu  ada di mataku

Namamu ada dibibirku

Cintamu ada di hatiku

Maka kau adalah aku dalam segala

 

 

Cirebon, 30 Juli 2015 

Husein Muhammad

 

*Disampaikan dalam Acara “Gus Dur, Wajah Semua Kerinduan

Masjid Ulul Albab, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur,

02 Agustus 2015