Jumat, 11 Oktober 2019

MENGGAGAS CIREBON HERITAGE

Baca Juga

Gua Sunyaragi CirebonDan Cirebon tidak kebal terhadap itu. Melihat kondisi Gua Sunyaragi sekarang ini kita tahu, sejarah sering dipandang semata sebagai beban, dan bukan aset. Padahal, sejarah yang melekat pada situs dan bangunan sebenarnya tidak hanya menjadi penanda sejarah, melainkan modal yang besar bagi pariwisata. Sejarah sebenarnya bisa mendatangkan uang, asal dikelola dan dilestarikan.

Tapi, itu sering dilupakan. Beberapa tahun lalu, ada sedikit keributan di Cirebon sini, ketika pemerintah bermaksud menata kota, tapi dalam prosesnya menggusur sebuah makam kuno berusia 300 tahun. Itulah makam Sam Tjay Kong yang terletak di belakang Pasar Pagi.

Proyek penataan itu menuai protes dari kalangan warga keturunan Tionghoa karena alasan yang wajar. Makam Sam Tjay Kong alias Tumenggung Aria Wira yang meninggal pada 1739 dan merupakan salah satu cagar budaya penting. Dia adalah Cina muslim kerabat Putri Tan Nio Tien, istri Sunan Gunung Djati yang juga menjabat semacam menteri keuangan Kesultanan Cirebon pada masa itu.

Tak semestinya protes hanya datang dari kalangan Tionghoa. Penggusuran makam Sam Tjay Kong layak juga menjadi kepedulian warga non-Tionghoa. Sam Tjay Kong diakui resmi sebagai salah satu pembesar keraton yang memiliki jasa besar bagi Kesultanan Cirebon.

Meski belakangan dia berpindah agama ke Konghucu, jasanya besar dalam perkembangan Islam di kota ini. Dia juga dikenal sebagai arsitek kompleks Gua Sunyaragi.

Makam Sam Tjay Kong Cirebon
Sam Tjay Kong juga mewakili sejarah pertemuan Islam-Tionghoa yang sangat mewarnai kota-kota pesisir utara Jawa, dari Banten hingga Gresik, kota-kota yang pernah dikunjungi Cheng Ho, seorang panglima dan pengelana muslim dari Dinasti Ming.

Cheng Ho tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Indonesia yang dulu Nusantara. Budaya Sino-Javanese Muslim Cultures yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho dan Tionghoa Islam lain dengan Jawa.

Pada 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring bertuliskan ayat Kursi yang kabarnya masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Tak semestinya sejarah panjang itu dilupakan. Dan jika Cirebon ingin meneguhkan identitasnya, salah satu cara adalah dengan menggali sejarah serta melestarikan situs-situs pentingnya.

Kota Semarang, yang juga memiliki tradisi Islam-Tionghoa kuat, adalah salah satu contoh bagus dalam pelestarian bangunan bersejarah. Sudah saatnya, Cirebon layak memiliki semacam “Semarang Heritage Society”, sebuah lembaga masyarakat yang peduli pada pelestarian bangunan historis.[] Sumber: http://asep.wordpress.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi dan pesan kearifan Buya Husein...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh meninggal dan enam lainnya dalam...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak sama sekali ! Justru yang...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme pertama-tama bukan bicara soal persamaan,...

Populer

Islam dan Budaya Lokal: Upaya Menjawab Kekinian

Oleh: Abdul RosyidiIslam dan Budaya Lokal adalah tema lama yang sudah dibahas sejak berpuluh-puluh tahun lalu di Indonesia. Ada...

Cara Merasakan Keberadaan Allah SWT yang Maha Indah

https://www.youtube.com/watch?v=ZXs67P6ZjL8AssalamualaikumUntuk memenuhi dahaga spiritualitas dan renungan laku diri sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Indah.Fahmina akan mengunggah puisi...

Fahmina Institute Gelar Pertemuan Multistakeholder Upaya Pencegahan Radikalisme di Desa

Terkait dengan maraknya aksi teroris di Cirebon meskipun jumlah prosenstasenya sangat sedikit dalam data ada 16 orang teroris. sepuluh...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 3)

Pertanyaan yang Ditunggu-tungguMungkin ini pertanyaan yang ditunggu-tunggu. Apakah setelah Live-In ini, yang Kristen menjadi Islam, dan yang Islam menjadi Kristen? Tidak...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 2)

Pendekatan yang berbedaYang menarik, konsep acara yang kami susun pertama-tama bukan berangkat dari persamaan. Itu kuno! Bagi saya, pluralisme...

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi Jemaat Gereja “Nyantri” di Pesantren (Bag. 1)

Oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda, Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, CirebonPerkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya,...

Quo Vadis Revisi Undang-Undang KPK?

Oleh: KH. Marzuki Wahid MASetelah berhari-hari terlibat pro-kontra soal perlunya revisi UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, pada...

Artikel Lainnya